Marah yang Merah


Perempuan itu bergincu. Merah. Bayi dalam gendongannya menangis. Marah

Beberapa tetangga memanggilnya Mbak Mir. Miranti. Usianya entah berapa. Muda. Awal dua puluhan sepertinya. Ia hidup nomaden. Dari satu petak kontrakan ke petak lain kontrakan. Kadang lebih kecil. Jarang yang lebih besar. Tergantung penghasilan. Ia tak pernah bertahan lebih dari tiga bulan dalam satu petak kontrakan. Didemo ibu-ibu sekitar. Ibu-ibu yang gusar. Gusar suaminya sering menghilang tengah malam.

Miranti tak pernah menutup pintu rapat-rapat. Tak pernah mengenakan pakaian rapat-rapat. Ramah pada setiap tamu yang datang dalam petaknya. Datang berbasa-basi sebelum beraksi. Kebanyakan lelaki.

“Anakmu lucu sekali.”

“Terima kasih.”

“Berapa usianya?”

“Entah. Belum genap setahun yang kuingat.”

“Sudah merangkak?”

“Sudah. Ia selalu merangkak ke arah dadaku. Minta disusui.”

Basa-basi tak pernah lebih lama dari pariwara di sela drama televisi. Tamu Miranti menyegerakan diri. Merangkak ke arah dada Miranti. Minta disusui. Biasanya ini tanpa basa-basi. Setelahnya, beberapa lembar rupiah berganti genggaman. Miranti segera menuju minimarket yang buka seharian. Beli susu kemasan. Ia terlalu lelah untuk menyusui bayinya. Entah siapa bapaknya. Salah satu tamu yang kebocoran.

Alasan ekonomi kata Miranti. Klise. Ia tak punya ijazah. Tak punya bakat yang untuk diasah. Ia punya kelamin yang sering basah. Kali pertama basah oleh ayah tirinya. Basah tak berbuah. Ibunya kehilangan kendali atas nafasnya. Meninggal seketika setelah tahu kelamin Miranti basah. Sebelumnya sempat murka. Berapi-api. Merah. Semerah darah yang mengucur di kepala suaminya setelah linggis menghantamnya.

Bayi itu masih menangis. Marah. Merah. Merayu pada susu ibunya yang terlalu sibuk menyusui bapak bayi tetangga

———

*semoga tak ada lagi frase klise ‘alasan ekonomi’ di balik prostitusi.

[AG] di dalam petak perseginya, 19 April 2010

  1. Gue Suka Ini !!!

    • Bintang ‘B’ Pradipta (Abi)
    • February 2nd, 2011

    Aku selalu suka cerita semacam ini. Malah, aku pengen ini dipanjangi.😀

    • Aku ngga bisa buat cerita panjaaaaaaang😦
      Pasti keteteran.

    • nathalia
    • March 9th, 2012

    ndigun :
    Aku ngga bisa buat cerita panjaaaaaaang
    Pasti keteteran.

    hahahaa.. samaan😀

    • Halah, waktu itu bisa kok. Yang berdua sama aku😀 HIhi.

  2. cantik banget gaya bahasanya😀

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: