Pelajaran Cemburu


“Sudah menikah, Mas?” Ini pertanyaan kesekian darinya. Bukan tanda tanya yang sulit kujawab. Hanya sedikit membuatku memutar otak. Apa aku terlihat lebih tua dari dua puluh dua tahun? Apa aku terlihat seperti ayah dari beberapa balita?

“Belum,” jawabku singkat. Bu Maya terlihat mengernyitkan dahi entah pertanda apa. Aku tak pandai menerka. Aku baru mengenalnya beberapa jenak lalu. Kami terduduk di rangkaian metalik memanjang. Kami sedang menunggu bus transjakarta datang.

“Punya pacar?” tanda tanya lagi, singkat.

“Ada. Satu. Pencemburu,” aku menjawabnya terpenggal-penggal.

“Bagus itu.”

“Apanya yang bagus?”

“Pencemburu.”

Ibu paruh baya itu memaksaku berpikir. Pencemburu itu baik. Aku tak yakin begitu. Pacarku yang satu yang pencemburu seringkali membuatku gerah berkepanjangan. Aku bagai bocah ingusan yang harus selalu melapor pada induknya jika ingin pergi ke sana sama si itu mau begitu.

“Saya nyaris tak pernah cemburu. Terlalu yakin suami saya tipe setia. Dia bicara A, saya percaya. Dia bicara do re mi fa, saya percaya. Itu buruk ternyata,” paparnya sebelum aku siap berkalimat menyoal pencemburu.

Bus yang kami tunggu datang –menggantungkan kalimat Bu Maya. Sejurus lalu kulihat ia agak kesulitan ambil langkah. Pincang kakinya. Sebelah. Penasaran mendudukkan aku di sampingnya lagi, dengan kesengajaan kali ini. Aku tak serta merta menanyakan perihal kepincangan kakinya. Otakku masih mengelana mencari kebaikan yang dibawa si pencemburu. Nyaris buntu.

Satu halte lagi sebelum aku membaur ke jalanan. Cepat-cepat kupecah diam. Tak ingin mati penasaran aku bertanya, “Kaki ibu kenapa?”

“Dilempar kursi jati oleh suami. Dia salah tingkah kepergok sedang sembunyi di balik rok anak perawan tetangga. Sejak itu saya belajar cemburu.”

“Ooh…” Hanya ooh? Ya, aku tak mampu berkalimat lebih panjang.

“Ibu mau kemana?”

“Rumah sakit.”

“Siapa yang sakit.”

“Suami. AIDS.”

Pemberhentian selanjutnya, halte Bendungan Hilir. Jagalah barang bawaan Anda dan hati-hati dalam melangkah.

Andi Gunawan, April 2010

*Ilustrasi diunduh dari sini.

    • Bintang ‘B’ Pradipta (Abi)
    • February 2nd, 2011

    Suka. Singkat dan cukup meledak pada akhirnya.😀

    • Thanks, Bi.
      Senang kau suka🙂
      Baru pindahan nih ke wordpress. Masih sepi.

    • Arhfa
    • February 21st, 2011

    suka! hihi

    • Jude
    • November 20th, 2012

    Pesan diujung cerita TAJAM dan AMBIGU. SUKAKKKKK

  1. Kece.

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: