Buat Ani



Selamat menua, Nona!

Enam belas tahun lebih dari sekedar usia. Berhentilah mengeluh soal banyak hal sepele. Jangan hanya berpikir bagaimana tampil kece. Mulailah belajar bersyukur. Belajar menikmati mimpi meski kadang gugur. Dengar, aku tak pernah melarang kau bermimpi. Sesukamu setinggi-tinggi. Tapi ingat soal keterbatasanmu. Aku tak minta kau uapkan mimpimu. Sederhanakan saja semampumu.

Lihat bagaimana saudara-saudara perempuan pendahulumu. Kau tak perlu bersumpah takkan mengulangi kesalahan mereka. Toh, aku tak menghakimi mereka sebagai perempuan-perempuan gagal. Hanya nasib mereka terlampau sial. Aku tahu kau akan menjadi lebih beruntung ketimbang mereka yang masih terlalu muda saat anak-anak lucu itu memanggilnya Ibu. Aku takkan pernah mau lagi ke Pasar Pramuka demi obat peluruh sialan itu. Dosaku sudah menggunung. Aku yakin kau takkan sudi menjadikannya bergunung-gunung.

Belajarlah berdamai dengan dirimu sendiri. Berdamai dengan mulutmu yang kerap memaki. Aku tahu aku tak sempurna, pun dirimu. Berilah keadilan pada waktu. Aku tahu kau muda belia ingin ini, ingin itu, ingin anu. Serahkan semua pada waktu. Kau tak harus menggamit kelamin lawan jenismu jika kau pikir itu belum waktunya. Aku lelaki, aku tahu lelaki. Mereka kadang bisa melancarkan rayu-rayu semerdu dendangan ibu. Yang kau perlu adalah keyakinan soal hari depanmu. Berkacalah pada realita yang lekat tak jauh dari mata hidungmu. Dulu itu kau bagai putri dalam kerajaan bapak ibumu. Apa yang kaumau terhidang dengan cepat tak perlu waktu. Tak ada kerajaan kini. Aku tahu kau tak begitu siap dengan tetek bengek kekurangan di sana di sini. Semua jadi tak seperti yang kaumau.

Pernah tahu badai? Buka buku geografimu kalau kau tak tahu. Anggap saja kita ini sedang diterpa badai entah sampai kapan nanti. Kau juga harus tahu akan ada pelangi saat badai berhenti. Aku tahu kau suka pelangi, pun aku. Merah. Jingga. Kuning. Hijau. Biru. Nila. Ungu. Sewarna-warni lollypop kegemaranmu dulu. Sewarna-warni hidup yang kadang kelabu. Kelabu yang kerap mengundang kau berairmata. Ahh, aku jadi ingat soal air matamu saat kau mengadu pada hujan. Kau tulis begini pada catatan Facebookmu:

di depan teras rumah
kulihat gemericik hujan membasahi bumi
bumi tempat aku berpijak
bumi tempat aku hidup
hidup dalam asuhan kedua orang tua
orang tua yang membimbing aku sampai saat ini
orang tua yang tegar
tegar dalam segala cobaan
cobaan yang mengguyur keluarga kami
aku rasa ini pahit, pahit rasanya
tetapi mereka tetap tersenyum manis menjalaninya
disaat hujan aku berharap
saat hujan berhenti semua itu berakhir
tapi tidak! SAMA !
sama seperti sebelum hujan turun
hambar!

Menangis memang kadang perlu. Tapi kuberi tahu, jangan pernah menangis lagi di hadapan ibu. Aku tahu tangis ibu lebih pecah di hatinya saat tahu salah satu dari kita berair mata. Aku tahu ibu lebih sering menangis di belakang kita entah di mana sambil memikirkan hari depan anak-anaknya. Aku lebih tahu ibu akan selalu ada di garis terdepan menyemangatimu saat senyummu tak terkendali barang sesimpul. Ayolah, jangan buat masa tua ibu menumpul. Kita sama tahu ibu berusaha tegar luar biasa. Kita sama tahu tak bisa setegar ibu. Kita sama tahu ibu senang teramat sangat melihat kita tersenyum.

Belajar juga soal menahan hasrat. Jangan mudah dikalahkan pikiran sesaat. Aku tahu kau terlalu belia. Terlalu bergejolak melihat kawan-kawanmu punya hampir segala. Tapi kau tak harus punya Blackberry saat mereka menggenggam ke sana kemari. Kau tak harus turut serta menonton film drama cinta saat mereka sibuk berebut tiket sinema. Ingat lagi soal keterbatasanmu. Keterbatasan kita. Jujur aku ingin memberikanmu segala rupa sesuai yang kau pinta. Mungkin nanti saat kau sudah tak belia. Saat kau bangga menjadi perempuan hebat setelah melewati badai yang lebih kejam dari Katrina. Berdua kita akan merubah hari depan ibu. Merubah dunia. Merubah segala. Merubah badai jadi pelangi di sore yang jingganya menghangatkan keriput-keriput kulit ibu. Aku menjanjikan ini padamu. Sungguh.


——————————————————-

Yang selalu menjadikanmu putri dalam dongengku.

Seorang saudara lelaki dan sahabatmu

[AG, Mei 2010]

    • nathalia
    • February 8th, 2011

    speechless

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: