SBY, Bergurulah pada Sopir Taksi


Saat ini banyak orang dibuat gemas dan ragu oleh orang nomor satu negeri ini. Dengan keberuntungan yang luar biasa, SBY kini sedang dalam kali keduanya memimpin Indonesia. Adalah sikap ketidaktegasannya yang menggemaskan jutaan rakyat. Tukang sayur keliling di komplek rumah saya bilang, “Presiden kok menye-menye. Lha wong dia tinggal sebut A, ya semua menurut A.” Kegemasan ini lantas membuncah menjadi keragu-raguan. Ragu terhadap kinerja SBY serta kabinetnya.

Saya bukan ahli politik. Saya hanya pemuda bangsa yang peduli pada tanah yang kujejaki. Tetapi bukan berarti saya buta politik. Lah wong hampir setiap hari saya ‘bertemu’ dengan politik. Pagi tadi contohnya:

Ibu  : “Mas, nanti berangkat kerjanya bareng sama ibu ya.”
Saya: “Ibu mau kemana?”
Ibu  : “Mau ke rumah sakit. Cek darah. Temenin ibu ya.”
Saya: “Nanti saya bisa telat lho, Bu.”
Ibu  : “Ndak apa-apa telat sedikit. Mau ya temenin ibu? Nanti ibu tambahin ongkosnya.”

Apa itu bukan politik? Politik yang saya tahu adalah kegiatan orang atau sekelompok orang dalam mencapai tujuannya dengan berbagai cara (mohon koreksi). Dalam politik tak ada teman atau musuh abadi. Adalah kepentingan yang abadi. Ibu saya agaknya kurang peduli kalau saya terlambat sampai kantor asalkan keinginannya ditemani ke rumah sakit terwujud.

Sementara pemimpin sepengetahuan saya adalah orang yang tahu jalan, bisa menunjukkan jalan, serta ikut dalam jalan itu hingga ke tujuan. Jika SBY perlu figur untuk ditauladani kepemimpinannya, saya sarankan agar SBY berguru pada sopir taksi. Anda mau kemana? Depok? Rawamangun? Kebayoran? Tenang, sopir taksi tahu jalannya kok. Ia juga bisa menunjukkan jalan dengan baik serta ikut serta bersama Anda dalam jalan itu hingga Anda selamat sampai tujuan. Sopir taksi juga demokratis menurut saya. Ia selalu menanyakan kepada penumpangnya untuk memilih lewat jalan tol atau jalan biasa.

Anggaplah SBY adalah sopir taksi. Kita -rakyat- adalah penumpang yang ingin sampai ke tujuan. Tujuannya adalah kesejahteraan. Apakah SBY tahu jalan menuju kesejahteraan rakyat? Bila tahu, apakah ia bisa menunjukannya serta ikut bersama rakyat dalam jalan itu? Saya hanya punya satu kata terakhir: SEMOGA!

Pesan untuk penumpang: Tak selamanya jalanan lancar. Kadang Anda harus sampai lebih lama ke tempat tujuan karena macet. Sopir taksi tak bisa disalahkan karenanya. Asalkan Anda tetap selamat sampai tujuan ya lebih baik bersabar sedikit atas waktu.

[AG, Januari 2010]

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: