Pertama


“Panas banget kamarmu, Ray.” Peluh Diana membasahi kausnya, di punggung. Klik. Kipas angin berputar, pun gairah Rayhan sama kencang, berputar. Sebelah pintu almari terbuka, menutup jendela.

Sapu tangan Rayhan menyeka keringat Diana. Mulai dari kening, mendekati leher. Mendekati dada lalu melantai. Rayhan mendekatkan dirinya, nyaris tak berjarak. Sebuah pagutan menghilangkan jarak mereka. Lembut. Basah.

Tangan Rayhan menelusup ke balik kaus Diana. Ada hangat menjalar di tubuh perempuan itu. Hangat yang tak biasa, yang menyentakkan Rayhan ke dinding kamarnya.

“Kenapa?”

“Aku belum pernah melakukannya.”

“Selalu ada yang pertama, sayang. Tak usah takut.”

“Aku takut aku bukan yang pertama.”

“Hah?”
“Namaku Diana, bukan Melisa.” Pandangan Diana mengarah ke sapu tangan di lantai, tajam.

[AG, Depok, Desember 2010]

  1. Kapan keluar novelnya, yang begini pasti disuka ABG sampe tante-tante he he he.
    Btw, jadi bingung di mana ada penyebutan Melisa sebelumnya? Mungkin karena misterius jadi lebih menarik ya, Ndi.

    • Novel? Wah, saya ndak bisa nulis yang panjang-panjang. Masih belajar.
      Hayo, baca lagi, hayo. Nanti apsti ngerti maksud dari “Melisa”-nya😀

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: