Rekam Jejak Lajar Djingga di Tanah Garut


HARI #1

Wisata Alam: Garut, Kota diriung ku Gunung

“Bade ka marana, A? Cikajang? Pameumpeuk?” kalimat itu  yang kami dengar berulangkali begitu kami menginjakan kaki di terminal Guntur Garut. Sapaan ramah yang disertai nada harap langsung menyentuh. Memang sedikit berbeda jika dibandingkan ketika kita berdiri di Terminal Kampung Rambutan atau belahan lain Jakarta. Biasanya, orang meneriakkan informasi rute tujuan bus angkutan. “Cawang!!! Cawang!!!” atau “Cililitan!!! Cililitan!!!” Di  sini, mereka bertanya ke mana tujuan kita. Di sini, di Garut.

Garut terletak di 50 km ke arah timur dari Bandung, ibu kota Jawa Barat. Area yang berpenduduk  hampir tiga juta jiwa ini merupakan kelanjutan dari kabupaten Limbangan. Pada tahun 1813 – 1831, ibu kota Limbangan dipindahkan ke sebuah lokasi subur di sisi sungai cimanuk yang menampung aliran air dari berbagai pegunungan yang mengitarinya. Cikuray, Papandayan, Guntur, Galunggung, Talaga Bodas dan Karacak.

Panorama Gunung Cikuray, Garut

Pembangunan ibu kota baru kabupaten Limbangan itu memakan korban seorang pekerja yang tergores.  Dalam bahasa Sunda, tergores berarti kakarut, namun orang Belanda melafalkannya dengan “gagarut”. Kemudian kota tersebut dikenal dengan sebutan Garut.  Pada tahun 1913, Kabupaten Limbangan resmi berubah nama menjadi Kabupaten Garut.

Kami menjejak di Garut menjelang dzuhur, setelah menempuh sekitar empat jam perjalanan dengan bis Ekonomi AC Lebak Bulus–Garut. Dari terminal Guntur, kami melanjutkan perjalanan menggunakan angkutan umum 03 menuju Kampung Panawuan, tempat kami menetap tiga hari ke depan. Setibanya kami di gerbang Panawuan, Kang Ucup, salah seorang warga, menyambut dengan hangat dan membawa kami ke rumah Pak Rian, seorang warga yang meminjamkan rumahnya untuk kami tinggali. (Anehnya, hingga kami pergi meninggalkan Garut, tak sekali pun kami bertemu dengan orang bernama Rian itu).

Setelah ibadah sholat Jumat, kami menikmati jamuan makan siang di rumah Kang Wahyat,  Tokoh kampung yang sudah menjabat sebagai Ketua RW selama 15 tahun itu menemani kami makan bersama. Tampangnya agak seram. Dengan perawakan kekar setinggi hampir 180 cm dan sorot mata  yang selalu tajam melengkapi kesan angker pria berkulit gelap ini.  Tapi di luar itu semua, beliau seorang humoris yang ramah. Setelah makan, beliau mengajak kami mengunjungi kantor Kelurahan Sukajaya guna menyampaikan maksud kedatangan kami.

Kami amat menikmati berbagai sambutan hangat dari tokoh–tokoh masyarakat di kampung ini. Tapi, bagaimana pun, kami tidak bisa berbohong dan menyembunyikan ketidaksabaran kami untuk segera menikmati alam pegunungan Garut. Kang Wahyat yang memahami itu segera menyiapkan sarana angkutan untuk membawa kami berwisata. Sambil menunggu kendaraan siap, masih dari tengah kampung Panawuan, kami menikmati gagahnya Gunung Papandayan dan Gunung Cikuray yang menjadi latar pemandangan kampung ini.  Dua dari beberapa gunung yang mengelilingi kota Garut. Selanjutnya kami menuju tempat pemandian air panas di kawasan kawah Darajat, Desa Padaawas, Kecamatan Pasirwangi, untuk melepas lelah perjalanan. Hangat, sehangat perlakuan yang kami terima di tengah masyarakat Panawuan.

Jemaah Lajar Djingga di hadapan gagahnya Gunung Cikuray

Kualitas lingkungan di kawasan ini dapat dilihat dari tingkat kebersihan dan bentang alam yang sangat terjaga. Untuk ukuran suatu kawasan industri, kawasan Kawah Darajat ini tergolong bersih, tidak terdapat pencemaran sampah dan vandalisme. Selama perjalanan, kami dipandu oleh Teh Nenden, salah satu warga Panawuan yang seorang guru. Sebuah wisata alam yang menyenangkan. Setidaknya, kami bisa merebahkan sejenak kepenatan yang diberi ibukota.

Lajar Djingga di pintu masuk pemandian air panas Darajat

Hari pertama di Garut yang kami gunakan untuk mengenal identitas lokal dan diakhiri dengan sesi pengenalan diri demi perkembangan rasa keterhubungan antarjemaah Lajar Djingga. Satu per satu, jemaah Lajar Djingga menceritakan pengalaman hidup yang pada akhirnya membentuk karakter mereka. Dengan begitu, kami berusaha saling memahami karakter satu sama lain. Sebuah cara untuk mendekatkan hubungan sebagai sebuah tim yang diharapkan mampu membawa pikiran perubahan di tengah hegemoni pragmatisme. Bersama, kami berharap muda-mudi Indonesia mulai membiasakan diri berpikir kritis. Tak hanya sekadar pragmatis.

HARI #2

Wisata Budaya: Pencak Silat,  Pesantren,  Pemberdayaan Masyarakat  dan Wahyatul Barjah

Kami memulai hari itu dengan beberapa cangkir kopi dan teh yang ditemani beberapa potong biskuit dan makanan ringan lainnya. Alunan musik jazz melengkapi Sabtu pagi yang syahdu. Belum sempat kami mandi, Kang Wahyat sudah datang menjemput kami untuk berkunjung ke Padepokan Silat yang beliau asuh. Wahyatul Barjah, itu nama lengkapnya. Mungkin artinya “Wahyu Alam Kubur”. Entah apa maksud orang tuanya memberi nama itu, tapi kesan angker dari nama itu seolah menegaskan  sosok Kang Wahyat  sebagai orang yang sangat disegani  banyak pihak, mulai dari pihak pemerintah sampai preman di terminal.

Selama kami bersamanya, kami melihat bagimana Kang Wahyat banyak terlibat dalam berbagai persoalan: dari masalah  anggaran pembangunan yang dibahas di DPRD sampai persoalan perebutan lahan parkir. Sempat beliau pamit harus meninggalkan kami untuk menjadi penengah di antara dua kelompok preman terminal yang bertikai. Bahkan tidak hanya itu, menurut cerita Teh Nenden (yang ternyata memiliki hubungan keluarga dengan Kang Wahyat), pernah ada seorang isteri yang mendapati suaminya selingkuh juga mengadu kepada Wahyat untuk menyelesaikan persoalannya. Wah, jadi mirip sosok gembong mafia Vito Corleonne dalam film The Godfather.

Secara formal, Nama Wahyatul Barjah terdaftar sebagai atlet pencak silat yang mengharumkan nama Garut. Teman satu SMP dan SMU Kang Husnan (salah seorang jamaah Majelis Sinema Lajar Djingga) ini sudah menoreh prestasi sebagai Juara Pencak Silat sejak masih duduk di bangku SD. Juara se-Jawa Barat, bahkan di kejuaraan tingkat Nasional. Tidak berhenti sampai di situ, setelah pensiun menjadi atlet, Kang Wahyat kemudian berperan sebagai guru atau pelatih atlet pencak silat yang juga bertengger sebagai jura tingkat nasional. Maka, tidak berlebihan jika Adiyaksa Dault, Menteri Pemuda dan Olah Raga RI (2004 – 2009) menghadiahi perguruan silat asuhan Kang Wahyat sebuah gedung olahraga yang kemudian dikenal dengan “Padepokan Putra Siliwangi”. Itulah perhentian pertama kami hari itu. Rangkaian perjalanan hari kedua untuk mengenal lebih dekat budaya masyarakat Garut.

GOR Putra Siliwangi, sebuah gelanggang olahraga di tengah kampung Panawuan, seolah menjadi lambang kecintaan  masyarakat setempat terhadap budaya pencak silat. Sebagian besar warga Panawuan adalah pendekar pencak silat. Kampung ini terus berusaha melestarikan salah satu kebudayaan Indonesia ini.

“Pencak silat harus dikuasai tanpa emosi. Akan berbahaya sekali jika pencak silat dikuasai oleh orang-orang yang tidak mengerti esensinya”. Kang Wahyat menceramahi kami tentang filsafat pencak silat setelah kami menyaksikan atraksi duel spektakuler  dua gadis cantik asuhan beliau. Dari penampilan, tak ada ciri–ciri yang memperlihatkan kedua siswi kelas 1 SMU itu jagoan silat. Mereka seperti remaja puteri pada umumnya, tapi aksi mereka memainkan golok dan belati membuat kami tidak bisa berkata–kata. Tiba–tiba, entah ide dari mana, Kang Wahyat menawarkan kami untuk mempelajari beberapa jurus  dasar pencak silat untuk pertahanan diri.

Para jamaah Lajar Djingga dilatih lima jurus dasar langsung oleh Kang Wahyat. Kami berlatih teknik-teknik dasar tersebut. Sebuah pengalaman menarik yang belum pernah kami dapatkan. Sebuah pengalaman yang cukup membuat kami berkeringat dan pegal karena kami melakukannya tanpa pemanasan.

Jemaah Lajar Djingga dilatih pencak silat oleh Kang Wahyat

Di sana, kami juga berkenalan dengan Kujang, senjata tradisional masyarakat Jawa Barat (Sunda). Kujang merupakan perkakas yang merefleksikan ketajaman dan daya kritis dalam kehidupan juga melambangkan kekuatan dan keberanian untuk melindungi hak dan kebenaran. Menurut Kang Wahyat, kujang tak bisa digunakan oleh sembarang orang karena memiliki nilai sakral serta mempunyai kekuatan magis. Sari, salah seorang dari kami, amat tertarik dengan senjata khas Jawa Barat itu. Dia berlaga mengambil pose untuk difoto dengan menggengam kujang layaknya pendekar wanita dalam sinetron laga.

Dari GOR Putra Siliwangi, kami melanjutkan perjalanan mengunjungi Pondok Pesantren Darul Arqam Muhammadiyah yang terletak di Jalan Ciledug, sekitar 10 kilometer dari Panawuan. Pondok pesantren yang berdiri sejak 1977 ini memiliki visi “Mencetak Generasi yang Berilmu, Berakhlaqul Karimah, dan Berwawasan Global”. Pesantren merupakan bagian penting dalam budaya masyarakat Garut. Selain pencetak pendekar yang tangguh, Garut juga melahirkan banyak ulama Jawa Barat. Banyak sekali guru besar di Universitas Islam Negeri Bandung berasal dari Garut.

Dengan segala sarana pelengkap yang ada, Darul Arqam terbagi dalam enam kelas. Kelas 1-2-3 setingkat dengan SMP. Kelas 4-5-6 setingkat dengan SMA. Pondok pesantren yang berfasilitas lengkap ini telah mencetak banyak manusia Indonesia berkualitas, yang menjadi pimpinan atau kader persyarikatan Muhammadiyah. Ternyata, Kang Husnan juga alumni pesantren ini yang lulus pada tahun 1997.

Setelah berkeliling Darul Arqam, kembali kami dipertontonkan adegan laga yang memukau. Atraksi bela diri dua santri putera dengan tongkat, golok dan belati. Di Darul Arqam, Kang Wahyat yang juga merupakan lulusannya, melatih Tapak Suci, salah satu kegiatan ektrakurikuler di sana. Tapak suci merupakan salah satu dari sekian banyak turunan Pencak Silat.

Di tengah gerimis, kami beranjak dari Darul Arqam menuju kota Garut untuk menikmati Es Campur “Si Peu’eut” (bahasa Sunda, artinya manis). Salah satu kuliner khas Garut ini terdiri dari potongan roti, alpukat, cendol, kelapa, kolang-kaling yang dicampur dengan sirup, es serut, dan susu kental manis. “Si Peu’eut” terletak di tengah kota Garut. Masyarakat setempat menyebutnya “pengkolan”. Kenyang dengan “Si Peu’eut”, kami kembali ke rumah untuk menyiapkan acara berikutnya, menonton dan mengkaji film Berbagi Suami bersama pemuda Panawuan.

Selepas maghrib, para jemaah Lajar Djingga menuju TK Aisyiyah Ranting Panawuan, tempat diskusi akan dilangsungkan. Di sana, kami berkumpul dengan wakil komunitas Pemuda Muhammadiyah, Forum Anak Siaga Bencana dan Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) di Panawuan. Sesi perkenalan yang berlanjut pada diskusi menarik tentang Community Development membuat kami memutuskan meniadakan kajian film dan lebih fokus pada bahasan yang tak terduga sebelumnya.

Para punggawa muda Panawuan menyampaikan ketakutan mereka terhadap modernisasi yang melaju seperti peluru dan bisa menghunjam Panawuan kapan saja. Panawuan bukan daerah yang menutup diri dari budaya luar, justru Panawuan sering disinggahi mahasiswa dan penggiat sosial dari mancanegara sejak menjadi tuan rumah International Youth Forum 2008. Meski begitu, mereka tetap khawatir Panawuan kehilangan kearifan local dan berubah menjadi daerah yang dikuasai industri.

Menurut mereka, kearifan lokal adalah senjata penting untuk menghadang modernisme yang kian pesat dan tak terhindarkan. Mereka menyadari bahwa modal pendidikan tak menjamin terciptanya manusia unggul yang bisa bertahan di tengah peradaban modern. “Dasar dari segalanya adalah naluri. Persetan dengan otak kiri,” ungkap Kang Wahyat. Jemaah Lajar Djingga pun merasakan kegelisahan yang sama perihal kualitas manusia Indonesia seperti yang disampaikan Kang Husnan, “Sistem pendidikan kita hanya mencetak tenaga-tenaga siap kerja, bukan agen perubahan.” Kuliah, lulus, kerja, menikah, mati. Itulah pola yang dihasilkan oleh sistem pendidikan Indonesia. Dengan begitu, tak akan ada perubahan. Tak akan ada reformasi.

Suasana diskusi Lajar Djingga bersama pemuda Panawuan

Namun, warga Panawuan tetap menganggap pendidikan sebagai faktor penting penunjang perkembangan daerah mereka. Hal ini terbukti dengan adanya English Development Center (EDC). Terinspirasi oleh datangnya 150  pemuda perwakilan dari 32 negara ke  Panawuan dalam acara International Youth Forum 2008, mereka sadar bahwa bahasa Inggris sangat penting bagi masyarakat. Pemuda lokal Panawuan berinisiatif membentuk sebuah lembaga sebagai wadah bagi masyarakat yang tertarik belajar bahasa Inggris, sekaligus mengajak anak-anak dan masyarakat untuk belajar bahasa Inggris bersama EDC. Panawuan menjadi kampung kecil dengan berbagai potensi yang terkenal di mancanegara tapi justru kurang terkenal di negerinya sendiri. Ironis.

Hari itu kami akhiri dengan menonton dan diskusi film Forrest Gump (1994). Bersama beberapa pemuda Panawuan, kami mengkaji film tentang sosok yang memiliki keterlambatan mental, namun memberi banyak inspirasi untuk maju dan berani menghadapi segala persoalan.

“Hidup itu bagai sekotak coklat, kau tidak akan pernah tahu rasa apa yang akan kau dapat”

”Bodoh adalah perbuatan yang bodoh”

HARI #3

Konklusi: Panawuan, never ending stories

Sisa hari terakhir perjalanan kami manfaatkan untuk bersilaturahmi dengan keluarga Teh Nenden.  Sebetulnya tidak hanya itu, di sana kami memang berniat menemui Denden Firman Arief yang akrab disapa Kang Denden. Beliau adalah kakak dari Teh Nenden dan juga adik kelas Kang Husnan di Darul Arqam. Seorang aktivis pemberdayaan masyarakat.

Bersama kami turut Junaidi dan Lili yang menjadi pengurus BEM FISIP UHAMKA, mereka sedang merancang Latihan Kepemimpinan Tingkat Menengah (LKTM) FISIP. Maka pertemuan ini dimanfaatkan untuk berdiskusi tentang materi LKTM, khususnya yang terkait dengan Metodologi Analisis Sosial. Menurut Kang Denden, peran mahasiswa sebagai penggerak perubahan sosial tidak akan terwujud tanpa upaya mahasiswa itu sendiri untuk keluar dari “menara gading” dan terjun hidup bersama masyarakat. Beliau berpesan agar mahasiswa mau melakukan assessment (penilaian) kepada masyarakat dengan pendekatan partisipatoris, bukan hanya survei kuantitatif. Kang Denden berjanji akan hadir sebagai salah satu narasumber dalam LKTM bulan April nanti.

Sebelum kami pamit, Teh Nenden meminta kami untuk menjadi tutor tamu di English Development Center (EDC) yang kegiatannya memang bertempat di masjid sebelah rumahnya. Sesuai dengan namanya yang jika diterjemahkan dalan bahasa Indonesia menjadi Pusat Pengembangan Bahasa Inggris, EDC tidak mengajarkan apa dan bagaimana dasar berbahasa Inggris. Lembaga ini mengembangkan pengetahuan dan kemampuan bahasa Inggris anak didiknya yang sudah mereka dapatkan di sekolah formal.

Lajar Djingga menjadi tutor tamu English Development Center

Rasa bahagia kembali menyelimuti kami, ketika kami dihadapkan  tatapan  semangat anak–anak yang dengan penuh kegembiraan belajar bahasa Inggris. Meski hanya sesaat kami hadir belajar bersama mereka,  tapi tatapan dan gelak tawa itu senantiasa membuat kami ingin segera kembali ke Panawuan.

Setelah meninggalkan Panawuan, kami makan siang bersama di Restoran Adi Rasa sebelum kami benar-benar beranjak dari tanah Garut. Dengan iringan musik degung sunda, setelah menikmati nasi tutug oncom, dan nasi liwet ala Jawa Barat, kami mengakhiri kegiatan kami dengan mengikrarkan harapan dan komitemen bersama, bahwa pada saatnya nanti, kami akan kembali ke Panawuan. Bukan lagi untuk berlibur, tapi kami akan kembali untuk berkontribusi terhadap pemberdayaan masyarakat. Kami akan tunaikan tugas kami sebagai penggerak perubahan. Majelis Sinema Lajar Djingga adalah suatu metamorfosis menuju terbentukntya para pelaku perubahan sosial.

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: