Dalam Perjalanan Pulang


“Mbah…!”

Aku mendengar suara seseorang memanggil dari luar. Ranting-ranting kayu bakar yang sedang kususun kutinggalkan. Aku beranjak ke luar, melintasi ruang tengah yang hampa, menuju asal suara.

“Mbaaah!”

Suaranya terdengar sekali lagi, kali ini lebih tegas. Aku bergegas. Ketukan terdengar bertalu seiring suara hujan serta angin menderu. Sejak pagi, hujan tiada henti.

Sudah lama tak ada yang mengetuk pintuku. Sejak dua anak perempuanku mekar dan berkembang jadi ibu. Aku, nenek tua yang sedang merindukan cucu-cucunya.

Aku ingat betul bagaimana terakhir kali kami berkumpul sebagai keluarga, dua tahun silam. Sebuah ritual lebaran yang tak ingin kuulang. Benar saja, tak ada yang datang setahun kemudian. Idul Fitri hanya kurayakan berdua dengan suamiku, di pusaranya.

“Pak, pagi tadi aku menikmati opor ayam sendirian. Tak ada perayaan. Tak ada anak cucu kesayangan. Mereka menjadi orang asing bagi saudaranya sendiri. Hardiklah mereka untuk kembali.” Di sela air mataku yang tegak menghangatkan pipi, aku memohon pada nisan mati. Permohonan yang jadi doa, kurapalkan di setiap usai sujudku.

Aku membuka pintu. Bersamaan dengan itu, dadaku mendesir. Jemari tuaku sekejap menggenggam erat daun pintu yang terbuka kini.

“Mbah.”

Lelaki muda di depanku menarik paksa tangan kananku, menciumnya. Aku bergeming.

“Mbah lupa sama aku? Aku Dito, anaknya ibu Harni, anak Mbah.”

Tubuhnya kuyup. Tas punggungnya masih bersandar di pundaknya, meneteskan rembesan air hujan. Aku tahu siapa ia tanpa harus ia ingatkan.

Kami berhadapan, aku menarik tanganku. Genggaman tangannya kurasakan sangat dingin, bukan karena dia kehujanan, tapi dingin yang lain. Serupa halimun, perlahan menyergap relung hatiku.

“Mbah masih ingat aku, kan?”

Kali ini tanya yang menegaskan. Aku masih menghalangi jalan masuknya. Aku mengangguk. Enggan, aku memberinya jalan, masuk ke rumahku.

***

Ruang tengah rumah ini lengang. Serupa tanah petakan sawah, tak ada apa-apa. Hanya ada sebuah amben bambu yang hampir lapuk termakan usia di sudut dekat pintu samping. Tua, sepertiku.

“Sebentar, kubuatkan minum.”

Aku menuju dapur. Kerling mataku menangkap geraknya menuju amben dan mencoba mencari posisi nyaman untuk duduk dan bersandar. “Iya, Mbah,” sahutnya.

Aku menuang air dari gentong tanah ke dalam panci. Memantik korek, membakar sedikit kelaras dan meletakkannya di antara ranting kayu agar terbakar di tungku. Beberapa kali aku meniup bara dengan selongsong bambu agar lekas menyala dan membuat didih air.

Di antara gemeretak kayu terbakar, aku menyiapkan gelas, teh dan gula. Sesekali kudengar suara batuknya meningkahi air yang jatuh dari cucuran atap.

Aku mengusik api. Baranya memercik serupa kembang. Sebentar lagi air mendidih, gelembung-gelembungnya perlahan menyeruak, semendidih aku pernah dibuat pemuda itu.

“Apa kamu sudah gila, Dito? Santi itu istri orang. Sudah beranak pula!”

“Tapi aku sudah dapat izin dari ibu, Mbah.”

“Kamu dan Harni sama gilanya!”

Seharusnya aku senang saat Dito menyampaikan maksudnya. Ia hendak kawin. Ia akan memberiku cicit pertama. Belum sempat senang, aku keburu geram saat tahu yang akan dikawininya istri orang. Ia merusak khidmat lebaran yang selalu kurindukan.

***

Aku tersentak saat air itu semakin berbuih, mendidih. Aku mengangkat dan menuangnya kedalam gelas. Membiarkan teh dan gula membadai saat sendok perlahan berputar.

Aku membawa teh manis panas itu ke ruang tengah. Aku melihatnya duduk terpekur, menghitung jutaan air mata awan yang menghunjam bumi. Kaos menyatu dengan kulitnya karena kuyup. Perlahan, sekelumit rasa iba menyergap tiba-tiba.

“Minumlah.” Suaraku sepertinya bagai petir baginya. Dia tersentak, berbalik menghadapku.

“Eh, Mbah. Iya, Mbah. Terima kasih.” Ia terima teh dari tanganku dengan gugup. Sedikit demi sedikit teh itu dia tuang ke piring kecil alas gelas dan mulai meniup, menyeruputnya.

Aku duduk di amben yang sama, memilih sudut yang berbeda. Aku memperhatikan wajahnya telah jauh lebih tua dibanding usianya.

“Maaf jika kedatanganku mengganggu, Mbah. Aku tak tahu harus pulang ke mana.”

Aku terdiam. Aku tahu ia tak mungkin pulang ke rumahnya, dan aku tak mungkin mengusirnya. Ia sudah di sini, di rumah kami.

“Seharusnya kamu ke sini tiga tahun lagi.” Kali ini, ia yang terdiam. Ia tahu betul maksud kalimatku. Baru setahun berlalu dari empat tahun masa tahanannya. Hukuman yang ia terima cukup ringan karena berhasil meyakinkan hakim bahwa apa yang dilakukannya ialah untuk pertahanan diri. Ia tak pernah berniat membunuh suami Santi, belanya.

Hari itu, hari terburuk sepanjang tuaku, Harni datang dengan air mata yang tak berkesudahan. Dalam sedu-sedannya, ia mengabarkan Dito tertangkap polisi. Ia berkelahi dengan Ramdani. Ramdani naik pitam mengetahui alasan Santi minta cerai adalah dirinya. Pria itu menghampiri Dito di tempat kerjanya dengan sebuah belati yang akhirnya berakhir di perut pemiliknya. Hari itu juga, Santi resmi menjanda.

“Kalau pun kamu harus pulang,” lanjutku, “pulanglah ke sini.” Ia agak kaget saat kutepuk dadanya di akhir kalimat. Aku ragu ia mengerti maksudku. “Kamu sedang tersesat, Dito. Jangan buat dirimu makin jauh meninggalkan rumah.”

“Tapi, Mbah…”

Belum sempat Dito mengutarakan maksudnya, aku beranjak. Mengambilkan handuk dan memintanya istirahat. Aku tahu apa yang akan dikatakannya. Cucuku ini masih sama rupanya, masih seorang anak kecil yang gemar bermain.

***

Aku sedang menyiapkan sarapan saat Pak Lurah datang bersama dua orang polisi. Malam tadi, aku meminta Surti, anak tetanggaku, menyampaikan kedatangan Dito. Aku tahu aku melakukan hal yang benar. Aku ingin cucuku tumbuh jadi pria yang selalu kudoakan pada Gusti.

Sementara Pak Lurah dan orang-orang berseragam itu menunggu di ruang tengah, aku mengetuk pintu kamar, tempat Dito rebah semalaman. Tak ada jawaban. Perlahan, tanganku kananku membuka pintu. Kosong, seperti sebelum Dito datang. Seperti benakku yang serta-merta hampa. Aku hanya menemukan secarik kertas dengan tulisan tangan di atas meja kayu dekat jendela. “Mbah, aku pulang.”

[Depok – Jakarta, Maret 2011]

*hasil kolaborasik dengan Suri Nathalia

  1. saya suka cerita ini, penggambaran percakapan Mbah dan Dito sangat jelas di imajinasi saya. thanks for sharing🙂

    • modusoperasi
    • March 21st, 2011

    keren deh ndi, like always.. ^ ^

    • Hilda
    • March 21st, 2011

    nice one, ndi😀
    i heart the ending. Especially kata-katanya, “aku pulang, Mbah”🙂

  2. scene awal bikin saya inget adegan pas saya pulang ke rumah eyang. eyang yang lupa sama cucunyaaaaaa… huaaa.. T_T

  3. ada apa ini? setelah baca tentang Mbah, pagi ini saya dibangunkan oleh berita duka: Mbah saya meninggal di Pamulang😦

  4. bagusss…

  5. aaakkkkkk, seneng bgdd bacanyaa, akhirnya nemu cerpen beginian😀

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: