Huru-Hara Hari-Hari


Pagi membuatku duduk teratur. Di ujung ranjang, mengingat mimpi apa yang malam tadi gugur. Tiap malam, satu. Tiap hari, begitu. Kopi ini masih sama. Hitam, masam, juga meninggalkan ampas pada masa lalunya. Mirip aku, menikmati sisa pagi dengan membuntel rapat kenangan. Aku harus membuka jendela, matahari tak mengenal pengecualian. Uapkan. Uapkan.

Seseorang menghardik: jangan rusak pagi dengan kalimat langit yang kosong. Ia barangkali lupa, paginya bukan pagiku. Aku mengalamatkan kalimatku pada cermin agar memantul ia menamparku lalu merahlah pipi. Semerah harap-harap yang kehilangan cermin. Kausebut ini bual, sahihlah. Saat telinga merapat bagi suaramu, bual bisa jadi satu-satunya perkara menyenangkan. Aku membuali kepalaku sendiri.

Siang datang. Bersamanya, gamang. Dalam terang matahari, di celah-celah sempit kota, gelap isi kepala. Di hadapan, jalan seribu. Aku beranjak dan berlari dan tak menemukan apa pun. Aku seharusnya berkaca. Mendung. Di kepala semesta. Di kepalaku.

Di setiap pagi, sibuk pikir bagaimana melewati hari. Sampai pada malam meninggi, kesibukan masih sama. Hanya karena berpikir adalah cuma-cuma. Mengapa manusia harus memikirkan masa depan? Ini lebih menyakitkan dari patah hati paling buruk yang pernah kudengar. Pada akhirnya, aku tahu tak bisa berharap pada malam. Ia sudah cukup baik mengantarku menuju pagi dengan doa-doa tentang esok dan nanti.

 

[AG, Depok, Maret 2011]

 

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: