Aku Terkejut, maka Aku Ada


Friday The 13th

Sungguh. Aku tak pernah mengamini diri sebagai orang sial. Sialnya, kesialan seperti tak mau henti datang menjelang acara peluncuran bukuku, Kejutan! Kesialan yang sangat mengejutkan. Hari itu, Jumat, 13 Mei 2011.

Semua sudah siap. Ya, semua: kaos mendarat dengan selamat ke kantorku, buku untuk kepentingan promo rampung tercetak, undangan tersebar, pin siap diambil Sabtu pagi, backdrop selesai dicetak, video promo baru saja jadi, MC dan pengisi acara lainnya sudah konfirmasi, dan segalanya. Pukul 15.00, aku sedang berleha-leha di kantor setelah menyelesaikan artikel untuk Thawaf Magazine, dan ponselku bergetar. Satu pesan diterima.

Dari: Junaedi

Kak Andi, aula ngga bisa dipakai besok. Ada pelantikan guru besar di kampus.

Dang! Aku tak pernah merasa sesial ini. Pening, hening, lalu mengumpat. Mau senang sedikit kok susah😦 Aku, dibantu teman-teman BEM FISIP UHAMKA–tempat kuliahku dulu, merencanakan acara di aula kampus. Perizinan tempat sudah diurus dua minggu sebelum hari pelaksanaan, 14 Mei 2011, dan dibatalkan sepihak begitu saja. Dan, aku tak punya kuasa menentang acara rektorat. Ah, semoga saja si Guru Besar yang dilantik punya hati dan isi kepala lebih besar dari panitia acara pelantikan. Setidaknya, semoga ia tahu bahwa kredibilitas tak melulu diukur dari gelar-gelar, tapi juga tanggung jawab atas ucap-laku.

Menjelang pukul 17.00, aku bergegas menuju kampus untuk menemui Juanedi dan mencari solusi bersama. Jumat sore macet? Jangan tanya! Aku cukup berterima kasih kepada tukang ojek di gang dekat kantor.

Kami tak mendapat ruang di UHAMKA: beberapa terpakai ujian komprehensif AIKA [Al-Islam dan Kemuhammadiyahan]—salah satu syarat yang harus dipenuhi mahasiswa sebelum mengajukan skripsi, beberapa lainnya digunakan untuk kuliah program pascasarjana. Menggunakan kelas di fakultas lain itu mungkin, tapi tak birokrasinya tak mungkin secepat mengurus KTP.

Kami mulai menyusuri jalanan sekitar UHAMKA dan mendatangi tempat-tempat yang mungkin kami jadikan pengganti untuk acara esok. Kebanyak adalah restoran dan café. Pukul 21.00—17 jam menjelang acara, kami masih belum mendapatkan tempat. Saat berjalan kembali ke UHAMKA, tempat terakhir yang kami lewati adalah Bakmi Kebayoran. Aku masuk ke sana, sendiri. Jun menjaga barang-barang di depan kampus.

Setelah pembicaraan panjang dengan manajer Bakmi Kebayoran yang ternyata cukup kece, aku dapat tempat. Selain sangat dekat dengan tempat semula, tempat ini memberikan harga paling murah dari yang lainnya. Lega, dan akhirnya aku bisa pulang. Sabtu, pukul 01.00 dini hari, aku mengetuk pintu, lunglai. Dalam ketakutan, juga kemarahan, yang luar biasa, aku masih berharap semua akan berjalan dengan baik. Setelah ralat tempat via Twitter, dan Facebook, aku merebahkan diri. Aku mendadak lupa bagaimana caranya tidur!

Kejutan di Akhir Pekan

Aku tak pernah sebahagia ini. Daniel, editorku, adalah orang yang pertama datang bersama dua teman lainnya, David dan Emiralda. Yang pertama dilakukannya adalah meyakinkanku bahwa semua akan baik-baik saja. Aku pura-pura percaya dan menanyakan: apa yang sedang Tuhan lakukan?

Setelah semua kelengkapan acara siap, orang-orang mulai berdatangan. Aku berharap jantungku tak mengejang saat itu. Dan, semua baik-baik saja.

Cara Teddy Andika memandu acara sangat menyenangkan. Paduan suara Ifan dan petikan gitar Hendra sangat mendamaikan, meredakan jantung yang berlari. Cara Daniel meyakinkanku, bahwa proses yang menyakitkan akan menghasilkan rasa mahabahagia, berhasil. Cara Mariska Lubis menumbuh-kembangkan inspirasi, memecut mimpi, tak pernah mati. Akhirnya aku tahu aku harus bersyukur. Terima kasih, Gusti.

Meski tak ada sahabat-sahabat yang sangat kuharapkan kehadirannya, hari itu aku mendapat banyak kejutan oleh orang-orang yang bahkan baru kukenal. Editorku datang jauh dari Jogja, juga ilustrator isi bukuku, Gita Listya pun datang dari Jogja. Ada peramai pesta, Rendra dari Makasar. Mariska Lubis, mahaguru dari Bandung. Teman-teman Fiksimini yang hangat-ramahnya luar biasa. Dan semuanya. Aku terkejut. Sungguh!

  1. Alhamdulillah, akhir yang bahagia. Atau awal dari kejutan-kejutan berikutnya🙂

  2. Wow! Luar Biasa perjuangannya mas!

    Memang rektorat suka gitu parah abis. Dikampus mana aja, sama. mesti kepentingan ‘internal’ didahulukan.

    Selamat ya sukses launching bukunya.

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: