Selamat Pagi, Jakarta!


Tidakkah kau mencium wangi Pagi? Aromanya,
lebih menggoda ketimbang merek terkini. Bukalah jendela,
tanahmu rindu dijejaki.

Aku memang tak menemukan rumput-rumput,
juga muntahan embun. Ini kota, Bung!
Kesejukan ada bersama lelah
yang tersapu gemuruh cerita gang sempit.

Roda-roda berlari. Mesin-mesin menari. Kaki-kaki memaki.

Aku sedang belajar berdamai
dengan ban-ban aus metropolitan: berharap Astaga
merupa Semoga tanpa tekanan.

Tak ada yang lebih perih, dari Pagi yang melirihkan rintih.
O, semesta tak pernah berwarna putih.

 

[AG, Jakarta, Juni 2011]

*ilustrasi diundur dari Gerilya Sketsa

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: