Persona Seorang Comic


Tempo hari, Raditya Dika, melalui akun Twitter-nya [@radityadika] membagi bahasan tentang persona seorang stand up comedian. Twit yang ia beri tagar #persona, saya arsipkan dan tulis ulang di blog saya ini. Jadi, ayo kita belajar lagi!🙂

Raditya Dika memulai bahasannya dengan menjelaskan beberapa istilah yang ada dalam stand up comedy untuk memudahkan follower-nya memahami apa yang disampaikannya. Istilah-istilah tersebut, antara lain:

  • Comic = Orang yang melakukan stand up comedy.
  • Bit = Sebuah lelucon dalam sebuah set materi seorang stand up comedian.
  • Delivery = Cara seorang comic menyampaikan bit-nya di atas panggung.

Secara harafiah, persona berarti “social mask“, topeng sosial. Istilah ini juga digunakan sebagai padanan ‘karakter’ dalam pertunjukan teater. Persona, dalam konteks stand up comedy mengacu pada aura [karakter panggung] seorang comic. Jadi, persona seorang comic adalah topeng apa yang ia pakai di atas panggung. Apakah ia seorang yang sinis? Pemarah? Heboh?

Persona seorang comic tidak serta-merta merupakan kepribadian aslinya. Bisa jadi, itu adalah karakter yang ia ingin mainkan. Persona berkaitan erat dengan delivery [penyampaian] materi seorang comic, tapi sebenarnya tidak terbatas pada itu saja. Persona bisa didapatkan dari gesture, ekspresi wajah, gaya berpakaian, sampai emosi yang dibawakannya di atas panggung. Comic yang baik adalah yang personanya kuat, sehingga membedakannya dari comic lainnya. You don’t have to be better, you just have to be different.

Beberapa contoh comic dengan persona yang baik:

George Carlin dengan persona oracle-nya [pemberi pencerahan]. Ia tampil seperti berceramah di panggung.

Larry David dengan personya yang pemarah, sinis, dan penggerutu. Ia sering memarahi penontonnya dari atas panggung!

Jerry Seinfeld dengan personanya sebagai seorang pemerhati yang dingin. Bajunya rapi, tutur katanya terstruktur dengan jelas, dan banyak jeda saat bicara.

Zach Galifianakis dengan personanya yang aneh dan cenderung out of place. Rambut acak-acakan dan sering bengong di atas panggung.

Dane Cook dengan personanya sebagai seseorang yang manak, heboh, dan hiperaktif. Ia sering loncat di atas panggung, banyak berteriak, dan banyak memainkan suara.

Idealnya, persona berkaitan dengan bit seorang comic. Seorang comic yang bit-nya tentang kutubuku, kalau personanya juga ke-kutubuku-an, pasti jadi lebih mantap. Raditya Dika mencontohkan Shani Budi  (klik untuk video open mic-nya). Shani Budi membawakan bit tentang kutubuku. Persona yang ditampilkan di panggung pun ke-kutubuku-an dengan pembawaannya yang agak canggung dan delivery-nya lambat. Pada baju yang dikenakannya, terdapat lambang superhero di bagian dada. Persona: kutubuku. Komplet.

Membangun Persona

Persona seorang comic bisa lahir dengan sendirinya—terbawa oleh bit yang dimilikinya—atau dipersiapkan dengan matang secara sadar. Bagi seorang comic yang beruntung, mereka dapat menemukan sendiri persona uniknya hanya dengan seringnya tampil dari panggung ke panggung. Namun, ada beberapa comic yang sampai sekarang bahkan personanya belum terbangun dengan baik. Ini sayang sekalit. Ia akan terlihat sama dengan comic lainnya.

Jadi, jika mau jadi comic yang dapat terlihat berbeda, mulai sekarang tentukan persona panggungnya mau seperti apa. Cari kekuatan dan kelemahan serta ciri pribadi yang dipunya, lalu tentukan persona apa yang mau dibangun. Misal: persona yang malas, di panggung matanya sayu dengan delivery yang malas-malasan. Atau persona ke-bapak-an dengan baju rapi dan delivery yang hangat.

Jika seorang comic telah menentukan personanya, maka gesture, pakaian, dan delivery harus diperhatikan agar sesuai dengan persona yang ia bangun tersebut. Membangun persona bisa dimulai dari hal terdekat dengan diri sendiri. Jangan gunakan persona rockstar kalau Anda sering menangis saat mendengar lagu-lagu mellow. Tidak sesuai.

Semakin unik persona yang dimiliki seorang comic [misal: anak gym naif], akan semakin membedakannya dengan comic lain. Lalu, untuk menajamkan persona, sering-seringlah naik panggung. Semakin sering stand up, persona akan semakin terbentuk. Jika sudah menemukan persona yang sesuai, maksimalkanlah, agar membekas di kepala penonton. Ini akan semakin membedakan Anda dari comic lainnya. Good luck!

Persona is what makes you unique. Remember, you don’t need to be better, you just need to be different.

[Raditya Dika]

————————-

Depok, 5 Januari 2012

*Ditulis ulang dengan beberapa perubahan oleh Andi Gunawan

  1. tulisan ini kayak Standup Comedy 101 buat saya. tapi kayaknya belum berani mencoba, hehehe.

    Jerry Seinfeld rocks!!!!

  2. apapun itu kita ambil manfaatnya?

  3. mukanya muka lucu, muka komersia

  4. persona saya spt apa ya . hmm..

    • kendedez
    • January 6th, 2012

    Lagi naik daun nih standupcomedy,, suka dan salut dgn para comic2 yg sukses membuat kita tertawa atw minimal senyum, karena sudut pandang analisis mereka itu konyol abis. ^-^ nice share… Salam kenal

    • amirullah
    • January 6th, 2012

    keren..gw penggemar stand up gan..

  5. sukaaa nonton comic😀
    mereka lucu2 ^^

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: