Detik Tak Bertepi


Ada doa ada lara. Ada tangis dan nestapa. 
Meragu melebar jiwa. Kadang sendu kadang ceria.
Tatap angkuh penuh cela. Tiada lagi kubermanja. 
Berkeping hati berbudi. Kalang di mataku.
(Detik Tak Bertepi – Andien)
——————————————–

Hidup. Satu hal yang definisinya tak akan pernah selesai, dan selalu berganti. Saya pernah mengartikan hidup sebagai taman bermain mahaluas yang menyenangkan. Tempat saya berlari, terjatuh, lalu berlari lagi tanpa kenal kapok. Saya pernah mengartikan hidup sebagai kotak kecil. Tempat doa-doa berkumpul, diamini, dan menanti masa pengabulan yang tak dapat dikira-kira. Saya pernah mengartikan hidup sebagai panggung opera. Tempat segala drama dimulai, lalu tawa dan tangis selesai di sana. Saya pernah mengartikan hidup sebagai hutan: buas dan asing. Tempat saya begitu ingin ditemukan.

Saya pernah mengartikan hidup sebagai arena pertandingan. Tempat kaki-kaki bertarung dan saling injak. Menandai kaki siapa yang terbaik, kaki siapa yang tercela. Tempat semua orang ingin jadi pemenang. Saya pernah mengartikan hidup sebagai sarang pencuri. Tempat saya kehilangan bahu untuk bermanja-manja. Tempat saya kehilangan hati yang saya jaga. Tempat saya kehilangan kendali atas pandangan dan hari-hari depan. Tempat saya berkutat dengan perkara kebingungan tak berujung: pada (si)apa mesti percaya?

*Gambar diunduh dari sini

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: