Sepakat untuk Tidak Sepakat


Kita hidup di negeri penuh aturan. Aturan-aturan tentang cara seseorang mengatur hidup orang lain. Juga tentang mengatur kematian orang lain. Kematian seorang hakim sedang diatur oleh sekoper uang dan senjata api yang isinya bisa mampir kapan saja ke kepalanya.

Ia dapat mengabaikan aturan sekoper uang, tapi ia mesti patuh kepada aturan yang dibuat senjata api. Kesepakatan telah lahir. Mantap tanpa gelagap, hakim tua mengetukkan palu ke mejanya. Ketukan yang membebaskan pejabat buncit dari dakwaan korupsi.

Bubar sidang, hakim tua dan pejabat buncit melenggang asing menuju mobil masing-masing. Belum sampai parkiran, hakim tua berbalik arah. Ia lalu menekan sesuatu di kolong mejanya, disusul ledakan mobil si pejabat buncit.

“Bagimu, aturanmu. Bagiku, aturanku.”

(2012)

*juga dimuat di Jejakubikel

  1. Reblogged this on cokro148 and commented:
    Add your thoughts here… (optional)

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: