Nyanyian Tuhan


seorang lelaki dari ibukota menemuiku di sebuah warung yang menjajakan kopi hitam paling muram dan puisi masam di atas panggung. dikenakannya topi rajut mirip paman petani –menutupi sebagian gimbal rambutnya, sebagian tebal isi kepalanya.

tak ada seorang pun terlahir menjadi petani di kota ini, bukan tak ada lahan subur tapi sebab tangan-tangan sibuk memupuk tinggi gedung dan hidung masing-masing, maka setiap orang hanya bisa menjadi buruh atau apa saja selain kehendaknya sendiri karena menjadi diri sendiri seringkali bikin peluh makin keruh.

lalu percakapan berpindah ke trotoar lebih terbuka masih dengan kopi muram semuram apa saja yang disebut benar. aku dan lelaki bertato tengkorak di kedua bahunya berbincang seperti kawan lama sedang melakukan reuni setelah jarak dan usia menjadi perihal paling malas dihitung dan melahirkan kesepakatan tentang keasingan yang lebih intim dari pertemuan tubuh-tubuh dan lebih mekar dari busung dada para saudagar.

kemudian malam tua dan memaksaku dan lelaki bertato tengkorak di kedua bahunya menamatkan pertemuan pertama yang mengguratkan epitaf dalam kepalaku bertuliskan nyanyian tuhan paling merdu; menerbitkan harapan purba tiba-tiba di dasar paling sembunyi tentang pertemuan kedua dan tato tengkorak ketiga setelah kematianku di bagian tubuhnya yang tak pernah kusentuh.

(2013)

    • dongengdenu
    • March 25th, 2013

    gloomy2 gmn gt bacany hmmm…

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: