Tentang Dunia di Dalam Mata


 
Ada dua? Tuhan berdoa. ~ @sisogi
 
Walaupun hanya empat kata, namun sungguh memantik imajinasi dan kaya penafsiran. Ini adalah fiksimini. Karya fiksi kurang dari 140 karakter yang dimuat di akun twitter @fiksimini. Tidak ada rumusan khusus, karya seperti apa yang layak di-retweet akun @fiksimini. Namun Agus Noor merumuskan dalam bentuk diktum fiksimini:
  •  Cerita yang menohok, seperti satu pukulan tinju yang telak.
  • Cerita yang berkelebat seperti bayangan, yang terus menempel di benak pembaca.
  • Cerita yang dengan seminim mungkin kata, namun menggambarkan dunia seluas-luasnya.
Agus Noor adalah penggagas Fiksimini, bersama Clara Ng dan Eka Kurniawan mengaktifkan akun @fiksimini sejak 18 April 2010. Sebelum akun @fiksimini dibuat, twitter diramaikan hastag #fiksimini, celotehan cerita fiksi. Seperti virus menyebar dan menular, membuat banyak orang ikut bermain-main kata dan imajinasi. Fiksimini menjadi buah bibir setelah diberitakan lewat kolom sastra dan budaya Harian Kompas edisi 11 April 2010. Dalam perkembangannya, Fiksimini tidak hanya ruang kecil di dunia maya, namun menjadi komunitas yang menghasilkan karya. Tidak hanya dalam bentuk tulisan, beberapa karya Fiksimini telah dikembangkan menjadi gubahan lagu dan film pendek.
 
Memasuki tahun ketiga usia komunitas Fiksimini, bekerja sama dengan @katabergerak mengadakan kontes menulis cerpen. Diumumkan 25 Oktober 2012. Hanya dalam waktu 16 hari, 384 naskah cerpen masuk, dikirimkan oleh 239 penulis. Tidak hanya 1 judul cerpen bahkan ada yang mengirimkan 9 judul. Mereka tidak hanya berasal dari kota-kota besar, ada juga yang mengaku berdomisili di pelosok Indonesia bagian timur, bahkan dari luar negeri. Kontes menulis tanpa tema khusus ini akhirnya disaring menjadi kurang dari 50 judul cerpen, kemudian 19 judul cerpen di antaranya dipilih editor Khrisna Pabichara. Sampai pada tahap terpilihnya naskah yang dibukukan, tim kurator dan editor tidak mengetahui siapa nama-nama penulis di balik cerpen yang diseleksinya. Itu sebabnya ada dua karya Nadia Sarah Adzani yang terpilih.
 
Tingginya minat keikutsertaan dari para pengirim naskah ini sungguh menggembirakan. Rupanya Fiksimini telah menjadi hulu sungai imajinasi, menampung potensi-potensi literasi yang tersembunyi. Sebagaimana sungai yang arusnya beragam, demikian pula potensi kepenulisan mereka. Beberapa masih terbawa arus, namun sebagian sudah membawa keunikan tersendiri.
 
Dari ratusan cerpen dengan beragam gaya dan genre yang ditulis para pengirim naskah, ada banyak kesamaan ide. Tiga- besar tema  yang mereka pilih di antaranya:
  • Tragedi sosial politik; isu PKI dan tragedi Mei 1998.
  • Isu LGBT (lesbian, gay, biseksual, transgender).
  • Konflik keluarga dan perselingkuhan yang berakhir dengan pembunuhan.
Cerita dengan ide yang sama, tidak akan menarik perhatian pembaca jika penulisnya tidak mempunyai kemampuan bertutur yang baik. Tanpa kejutan, cerita terasa membosankan. “Laki-Laki yang Memancarkan Cahaya dari Matanya” karya Andi Gunawan juga mengusung salah satu tema tersebut di atas. Sentilan kritik sosial cukup menarik perhatian. 
Ia bercerita seolah apa yang baru saja dilihatnya adalah berita penting. Mirip pernyataan Presiden tentang video porno yang mesti dibuatkan konferensi pers. Lebih penting daripada perut-perut busung lapar yang diabaikan negara.
Sementara Emil Amir dalam cerpennya “Hajrah, Langkahi Jenazah Suamimu” membawa nuansa budaya lokal. Mereka menghadirkan kejutan di akhir cerita. Begitu pula cerpen-cerpen lainnya. Keunikan sudut pandang, diksi yang menarik, juga hadir dalam kumpulan cerpen ini. Karya-karya penulis terseleksi berdampingan dengan cerpen para moderator Fiksimini. “Nyonya Fallacia”, Agus Noor; “Riwayat Tiga Codet”, M. Aan Mansyur; “Bunga Kapas Pecah Terbang Dibawa Angin”, Clara Ng; dan “Penggali Kubur”, Eka Kurniawan.
 
Selain cerpen ada ratusan fiksimini pilihan yang di-retweet akun @fiksimini dari 2010 hingga 2012. Fiksi kurang dari 140 karakter namun kaya, kisah humor, horor, science fiction, maupun kritik sosial politik. Ada pula fiksimini yang mirip penggalan cerita.
 
Aku terbahak, lelaki yang mengajakku kencan tiba-tiba panik. Cincin kawinnya lenyap bersama uang receh untuk pengemis.
 
Fiksimini @heningwicara tersebut mirip penggalan cerpen Eka Kurniawan “Gerimis yang Sederhana”, pernah dimuat di harian Kompas. Cerpen “Dunia di Dalam Mata” terpilih karena judul yang menarik dan dinilai membawa “ruh” Fiksimini. Kumpulan cerita pendek dan fiksimini, yang semoga saja, membawa mata pembacanya pada dunia yang seluas-luasnya. Meskipun secara isi, cerpen karya Ria Soraya ini mempunyai kemiripan dengan cerpen “Risalah Lidah” karya Clara Ng yang pernah dimuat di koran Tempo 2010. Gaya kepenulisan Clara Ng rupanya telah menjadi “arus kuat” bagi Ria.
 
Tidak pernah ada karya fiksi yang memuaskan pembacanya. Anggaplah itu justru sebagai kelebihannya. Dengan demikian, selalu akan ada karya yang lahir kemudian. Tidak lupa, ucapan terima kasih kepada Agus Noor, Clara Ng, Eka Kurniawan dan M. Aan Mansyur yang telah bersedia berbagi halaman buku dengan para penulis pemula. Semoga buku “Dunia di Dalam Mata” bisa menjadi perayaan-kecil komunitas yang mencintai literasi.
 
 
dunia di dalam mata
 
Judul:
Dunia di Dalam Mata
Penulis:
Agus Noor,Andi Gunawan, Andi WIrambara, Anggun Prameswari, Adellia Rosa, Chi Eru, Clara Ng, Dedy Tri Riyadi, Dian Meilinda, Disa Tannos, Eka Kurniawan, Emil Amir, Erka Matari, Faisal Oddang, Fitrawan Umar, Idawati Zhang, Liza Samakoen, M. Aan Mansyur, Nadia Sarah Adzani, Nastiti Denny, Raditya Nugie, Ria Soraya
Editor:
Khrisna Pabichara
Penyeleksi Fiksimini:
Dedi Rahyudi, Dian Harigelita, Diki Umbara, Oddie Frente
Pemindai Aksara:
Reni S. Umbara
Desain Sampul dan ilustrasi:
Penata Letak:
Fitria Agustina
Penerbit:
Motion Publising/Katabergerak
ISBN:
978-602-95630-5-8
 
Catatan ini disalin dari website Penerbit Katabergerak. Buku ini akan edar di toko-toko buku sekitar satu atau dua minggu dari tanggal catatan ini ditayangkan. Kamu boleh beli dan membacanya, kalau mau. Terima kasih.
 
Salam,
Andi Gunawan
 
  1. harus beli!😀 makasih reviewnya, Kak😀

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: