Abu dan Usaha Bunuh Diri yang Terlambat


Abu

Engkau,
sajak pesona tak berjarak, menjadikan aku
si buta ingin belajar membaca.

Engkau meredup, aku meraba.
Jantungku berdegub, napasmu kujaga.
Sesaat setelah kau melangkahkan kaki,
napasku tak berhenti.

Satu harapanku berhenti.

Lalu engkau menulis sajak, serta merta
dadaku sesak. Cemerlang di matamu
bagai bahagia dalam opera. Menangislah.

Aku merelakan kita
jadi anak persetubuhan api dengan kayu.

(2011)

 

Usaha Bunuh Diri

keriaan masa lampau ialah rayap
dan kau kursi malas yang bergoyang-goyang
lalu tumbang sendiri

karena sepasang lenganmu kalah luas
dari bayang-bayang panggung yang emas

(2012)

 

Terlambat

hidup bertumbuh jadi melankolia berbaju penyesalan
tapi siapa sanggup menolak takdir dan aku terlanjur mangkir
dikuasai biru kemalangan sebelum kaulancarkan aba-aba
              siapa pula sanggup mengukur kita?

(2012)

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: