Balada Dua Janda


George Romney

George Romney*

Saya terkejut saat sedang merancang sebuah kejutan. Tentang pura-pura marah saat Wiranto terlambat pulang dari bekerja yang akan saya akhiri dengan sebuah pengakuan manis: “Saya hamil.”

Kalimat itu tak pernah tumpah dari mulut ini. Saya melihat Wiranto menggandeng mesra seorang perempuan masuk ke minimarket tak jauh dari tempat praktik bidan. Kami resmi bercerai sebulan kemudian. Setelah hari itu, saya baru paham bahwa kejutan tak melulu menyenangkan.

***

Ada waktu memulai, ada waktu untuk selesai. Begitulah seharusnya saya menyadari peran dari sebuah sikap. Saya telah memulai sebuah kebohongan, secara sadar. Sesadar saya meyakini bahwa kebenaran punya waktunya sendiri untuk menampakkan diri. Saya akan menampakkan diri. Saya akan pulang.

Sudah sewindu saya tak pulang ke rumah Ibu. Bukan karena saya menjalani peran Malin Kundang selama itu, namun selama itulah saya bersusah payah mengumpulkan keberanian. Sebab nekat seringkali adalah upaya menggali kubur sendiri, maka saya memilih menjadi lemah. Sekarang saya sudah cukup kuat. Mungkin. Setidaknya saya tak sendirian. Saya telah punya pengganti Wiranto dan siap mengenalkannya kepada Ibu.

Sepanjang perjalanan menuju rumah Ibu, kepala saya sibuk memikirkan kemarahannya. Ibu bukan janda pemarah. Namun, seperti yang kau tahu, seorang pendiam biasanya sangat kacau ketika menemukan alasan untuk marah. Ia bisa jadi apa saja yang terburuk yang bisa kaubayangkan.

Saya pulang membawa banyak alasan untuk memantik kemarahan Ibu. Bahwa saya telah bersama seorang laki-laki lain yang bukan suami saya; bahwa sudah delapan tahun saya menjadi janda tanpa sepengetahuannya. Bagaimana ia tak akan marah, saya telah melanggar satu-satunya larangannya.

“Kamu yakin siap menikah dengan Wiranto?”

“Saya tidak pernah seyakin ini, Bu.”

“Baiklah. Ibu merestui pernikahan kalian dengan satu syarat, jangan bercerai,” begitu pesan Ibu sebelum saya menikah lalu pindah ke Jakarta karena tuntutan pekerjaan Wiranto.

Ibu melarang saya bercerai bukan tanpa sebab. Saya bisa bilang sekolah itu penting atau tidak karena saya sekolah. Ibu bisa bilang perceraian adalah hal buruk karena ia melakukannya.

Hari itu Rabu dan saya kelas satu SMP. Ibu menjemput saya di sekolah, hal yang jarang dilakukannya. Ia tampak kuyu, terburu-buru, dan membawa dua tas besar.

“Kita harus pergi.”

“Ke mana?”

“Pindah.”

“Pindah rumah?”

“Iya.”

“Barang-barangku, Bu?”

“Baju-bajumu sudah Ibu bawa, yang lainnya nanti kita beli yang baru.”

“Ayah?”

“Nanti saja Ibu ceritakan di rumah baru. Ayo, kereta kita berangkat satu jam lagi. Ibu ndak punya uang buat beli karcis baru kalau kita terlambat.”

Untuk pertama kalinya saya naik kereta api, menuju daerah istimewa yang asing—yang akhirnya saya tahu bernama Yogyakarta. Setelah sampai di sana, Ibu sibuk mengajariku beradaptasi dengan tempat tinggal baru dan melupakan janjinya bercerita tentang mengapa kami pindah dan Ayah tak ikut serta.

Ia mengajariku bagaimana menyapa orang asing; bagaimana memulai pertemanan; bagaimana menjadi jujur; bagaimana meminta tolong dan bantuan-bantuan; bagaimana mendengarkan orang lain; bagaimana menatap dengan ramah; bagaimana meminta maaf setelah berbuat salah; bagaimana meminta maaf; bagaimana meminta maaf; dan bagaimana meminta maaf. Ibu tak pernah mengajariku bagaimana caranya memberi maaf. Saya tak tahu bagaimana caranya memberi Wiranto maaf.

Suatu hari setelah saya merasa betah dengan rumah baru dan sekelilingnya, Ibu tampak bosan dan kehabisan cara mengelak dari pertanyaanku seputar kepindahan tanpa Ayah.

“Ibu ndak tahu apakah kamu akan mengerti atau sebaliknya. Ibumu ini jahat dan Ayahmu pemarah. Ibu selingkuh dan kami harus berpisah. Begitulah,” sesingkat itu Ibu membuatku berhenti penasaran sesaat. Membuatku terbengong beberapa detik mencerma maksudnya dan tiba-tiba kepalaku pusing sekali. Ia lalu memelukku erat sekali.

Sekarang kepalaku pusing sekali. Barangkali Ibu tak akan terlalu marah saya datang sebagai janda. Bisa jadi ia sangat marah mengetahui saya telah berbohong sekian lama dan tak segera memberitahunya tentang laki-laki yang saya bawa. Bisa jadi ia akan marah kepada dirinya sendiri setelah tahu saya menjanda setelah diselingkuhi Wiranto; berpikir itu adalah karma buruk yang disebabkan oleh masa lalunya.  Kepalaku sakit sekali.

Dulu saya selalu menerka mengapa Ibu tak merestui perceraian. Sekarang, barangkali, saya telah memahaminya. Setelah menjanda, saya seolah tahu apa yang dirasakan Ibu selama ini. Segalanya menjadi berbeda. Segalanya menjadi sendiri saja; mengambil keputusan, merencanakan hari-hari esok yang entah dan misterus; menjadi lebih lelah dibanding saat masih bersuami. Belum lagi pandangan orang-orang, yang entah kena apa, kebanyakan kepala dan mulut mereka gemar sekali memikir-ucapkan sesuatu yang buruk perihal hidup menjanda. Dan kebanyakan mereka adalah perempuan juga. Mungkin benar adanya bahwa musuh terbesar perempuan adalah perempuan. Saya tak mau jadi musuh bagi Ibu.

Sulit memang saat orang sok tahu lebih banyak dibanding orang yang mau mencari tahu. Mereka berpikir dan berkata seolah paling mengerti bagaimana menjadi janda padahal mereka bersuami dan tak jarang di antaranya yang masih lajang. Mana bisa mereka tahu rasa kopi tanpa meminumnya? Sekali waktu saya sempat mengutuk mereka jadi janda supaya betul-betul tahu bagaimana jadi saya. Namun mereka beruntung saya bukan penyihir.

***

Tak banyak yang berubah. Pekarangan rumah Ibu masih ramai ditumbuhi pepohonan dan bunga-bunga dalam pot yang tak saya tahu nama-namanya. Bahkan sepertinya jumlahnya semakin banyak. Matahari sedang terik saat saya sampai dengan kegelisahan yang tak kalah terik. Lelaki itu menunggu di warung kopi tak jauh dari rumah. Saya butuh waktu sendiri menemui Ibu.

Ibu tampak terkejut melihatku setelah membuka pintu, setelah beberapa kali ketukan dari tanganku yang gemetar.

“Wulan!”

Sebuah pelukan menyergap tubuhku sebelum saya berhasil membuka mulut. Hangat sekali. Ibu tampak lebih gembira dibanding seorang bocah yang mendapat mainan baru, sementara saya menjadi lebih kaku daripada kerah seragam sekolah baru. Dilepaskannya tubuhku dari pelukannya, dipandanginya wajahku sekali lagi. Seperti memastikan bahwa yang sedang dilihatnya benar-benar putri semata wayang yang amat ia rindukan. Matanya berair. Mataku menerawang ke entah.

“Kenapa ndak bilang kalau mau pulang? Ibu bisa suruh Slamet jemput kamu di stasiun. Kasihan kamu pasti kepanasan. Sebentar, Ibu buatkan es teh.” Ibu juga tak banyak berubah. Ia yang pendiam masih saja cerewet kalau sudah menyangkut anak tunggalnya. Saya paham betul mengapa ia bersikap begitu. Tak mau lagi ia membuat saya terluka atau kecewa setelah memisahkan saya dengan Ayah. Namun saya justru pulang membawa kekecewaan sebagai oleh-oleh untuknya.

“Kamu bilang baru mau pulang kalau Ibu sudah punya cucu?” Segelas es teh dan ingatan tentang  sebuah kebohongan menghampiriku bersamaan. Saya harus mengarang alasan untuk menunda pulang. Janji saya adalah akan pulang membawa cucu buat Ibu, alih-alih menyiapkan diri memupuk keberanian untuk pulang sebagai seorang janda. Buru-buru saya teguk es teh manis itu.

“Begini, Wulan. Ibu mengerti kalau kamu belum punya anak. Mungkin memang belum waktunya. Atau mungkin begitulah takdirnya. Sudah lama Ibu mau bilang ini tapi Ibu takut menyinggung perasaanmu. Takut menyinggung perasaan suamimu,” ia mengira saya atau Wiranto mandul. Seketika seperti ada kelinci melompat-lompat di dalam dadaku. Saya meneguk es teh manis sekali lagi.

“Wiranto ndak ikut?”

“Maafkan saya, Bu.”

“Sudahlah, Ibu mengerti. Kamu ndak perlu minta maaf. Walau kamu belum kasih Ibu cucu, Ibu senang kamu pulang. Hampir saja Ibu menyangka kamu ndak kangen Ibumu ini.”

“Bukan soal anak, tapi soal yang lain, Bu.” Saya ambil napas dalam-dalam sebelum melanjutkan kalimat. Rasanya berat. Kerongkongan saya seperti tersumbat sesuatu yang ingin sekali saya muntahkan segera. Perut saya sedikit mual tapi sayangnya saya tak bisa berpura-pura lebih lama lagi.

“Selama ini saya membohongi Ibu. Saya dan Wiranto sudah cerai. Pernikahan kami belum satu tahun dan dia selingkuh. Saya tidak tahu harus berbuat apa selain menangis dan menjauh darinya. Selama ini saya tidak pulang karena tidak berani menyampaikan ini. Anak Ibu ini pembohong besar. Saya sudah melanggar perintah Ibu. Saya sudah delapan tahun jadi janda, Bu. Maafkan saya.”

Ibu bangun dari duduknya di seberangku. Tak berani saya menatapnya. Saya hanya bisa terdiam dalam tunduk yang berat. Seperti ada sesuatu menghunjam tengkuk. Ibu berpindah duduk ke sampingku tanpa berkata apapun. Diraihnya tubuhku dengan kedua tangannya yang hangat. Ia tenang sekali. Ia memeluk saya erat sekali. Kemudian sungai setenang Ibu mengalir dari mataku.

Saya dan Ibu masih berpelukan saat lelaki itu tiba-tiba muncul di pintu yang terbuka, mengagetkan kami berdua. “Ibu, aku ngantuk.”

Depok, Mei 2013

(*)Ilustrasi: A study of two women: a sketch for the Milner sisters by George Romney

  1. Ceritanya bagus..
    Aku suka tema cerita dan isi ceritanya… Menarik.
    Ilustrasinya juga bisa pas banget yaa… hehe

    • Indra
    • June 18th, 2013

    Mantap gun…!!!! gw suka gaya bahasanya

  2. ceritanya keren, nama tokohnya sama dengan akyuu…mirip2 hidupku laahh :))

  3. Wah mantap Gun!

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: