Stand Up Fest: Lebih dari Sekadar Hiburan


Perkenalan saya dengan stand up comedy terjadi saat saya sedang jenuh bekerja sebagai wartawan majalah korporat. Sebuah pranala muncul di timeline Twitter. Saya klik, dan terhibur. Sebuah video open mic (latihan) stand up comedy Raditya Dika di Comedy Café Kemang cukup menghibur sekaligus bikin saya berpikir: Apa yang sebenarnya ia lakukan?

Kilas Balik

Selanjutnya, saya menonton satu per satu video yang diunggah oleh @StandUpIndo di akun YouTube-nya dan mulai mengikuti akun Twitternya untuk mencari tahu lebih banyak perihal stand up comedy. Seperti halnya orang lain, saya juga tidak mau ketinggalan zaman. Akhirnya saya berhasil menonton langsung pertunjukan stand up comedy untuk pertama kalinya di Rolling Stone Café, Kemang, 17 Agustus 2011.

Malam itu saya terkesan dengan penampilan Miund. Bukan berarti comic lainnya tidak lucu, hanya saja kesan adalah perkara personal. Setelah menonton langsung, saya merasa bisa melakukan apa yang mereka lakukan di atas panggung itu. Ternyata saya salah. Ternyata stand up comedy bukanlah persoalan mudah. Ternyata stand up comedy lebih dari sekadar berdiri di atas panggung lalu mencoba melucu.

Chatter Box, La Piazza, Kelapa Gading adalah tempat pertama kali saya mencoba open mic. Saat itu saya sedang memenuhi undangan peluncuran sebuah website yang menghadirkan Pandji sebagai bintang tamu sekaligus penghibur. Pandji stand up comedy selama 30 menit dan membuka sesi open mic yang dilombakan malam itu. Saya kalah, tentu saja. Malam itu juga pertama kalinya saya bertemu dengan Krisna Harefa—ia yang memenangkan sesi open mic. Seorang comic muda berbakat yang akan menggelar special show pertamanya dengan tajuk Ruang Tamu pada September mendatang.

Setelah malam itu, saya hampir selalu ke Comedy Café Kemang setiap Rabu malam usai bekerja, untuk berlatih stand up comedy. Di sana, saya cukup rutin melakukan open mic bersama Sammy Notaslimboy, Pandji, Krisna Harefa, Rindra, Luqman Baehaqi, Adriano Qalbi, Kukuh, Kemal Palevi, Reggy Hasibuan dan sederet comic lain yang hari ini telah begitu tersohor.

Dari sekian banyak sesi open mic yang saya ikuti, open mic di Es Teler 77 Adityawarman adalah sejarah tersendiri bagi saya. Di sanalah kali pertama saya menjumpai Adjis Doaibu yang kelak menjadi juara Street Comedy 1, sementara saya sekadar finalis dengan pelantang suara yang sempat mati. Harus diakui, saya dan Adjis adalah dua comic paling pecah sekaligus mendapat standing ovation terbanyak pada sesi open mic hari itu. Namun selanjutnya adalah fakta yang tak bisa dihindari, bahwa menjadi lucu sekali mungkin mudah, tapi untuk menjadi lucu berkali-kali? Try harder!

Singkatnya, saya menjadi bagian dari keluarga besar Komunitas Stand Up Comedy Indonesia (Stand Up Indo). Bersama Dimas Yudhistira, saya kemudian menginisiasi Komunitas Stand Up Comedy Bintaro-Tangerang-Serpong (Stand Up BTS). Ambil bagian dalam komunitas ini membuat saya tahu bagaimana sulitnya mengembang-kenalkan stand up comedy; bagaimana sulitnya mendapatkan sponsor saat ingin mengadakan pertunjukan; bagaimana menghadapi anggapan orang-orang yang meyakini secara sepihak bahwa jenis hiburan ini hanyalah tren sesaat.

Namun akhir pekan lalu, 15 dan 16 Juni 2013 adalah bukti dari sejarah baru dalam ranah stand up comedy Indonesia. Pada dua hari itu, Stand Up Comedy Festival (Stand Up Fest) digelar. Berangkat dari sebuah café berkapasitas 50 orang dengan jumlah comic yang lebih sedikit dibanding jumlah lengkap sepasang tangan, sampai ke lebih dari 7.000 penonton di Hall Basket Senayan dengan jumlah comic lebih banyak dibanding personel JKT48. Apakah ini sebuah pencapaian? YA! Apakah ini main-main? TIDAK! Apakah ini sebuah pertanda baik? BISA JADI!

Foto milik Ryan Adriandhy

Foto milik Ryan Adriandhy

Komedi Sebagai Sikap

Berhasil mendatangkan lebih dari 7.000 orang untuk menonton stand up comedy adalah sebuah pencapaian. Tidak hanya itu, Street Comedy 3 yang menjadi bagian dari Stand Up Fest pertama juga sebuah pencapaian. Berawal dari sebuah kompetisi stand up comedy yang hanya mencakup wilayah JABODETABEK dan Bandung dan diadakan di sebuah pusat belanja, dalam kurun waktu kurang dari dua tahun, menjadi sebuah kompetisi bertaraf nasional dengan peserta tak hanya lintas provinsi, namun juga lintas pulau: Medan, Padang, JABODETBEK, Cirebon, Malang, Jogja, Surabaya, Bali, Makassar, dll. Street Comedy adalah bagian penting dari stand up comedy Indonesia. Selain sebagai wadah regenerasi, juga merupakan tolok ukur tersendiri bagi kemajuan ranah hiburan berbasis komunitas ini.

Jumlah penonton Stand Up Fest adalah sebuah pertanda bahwa jenis komedi yang satu ini telah diterima oleh lebih banyak orang dibanding sebelumnya. Tidak berlebihan kalau saya bilang stand up comedy adalah hiburan untuk semua orang. Hal ini dibuktikan oleh penonton yang menghadiri Stand Up Fest. Mereka lintas usia, lintas etnis, lintas profesi, lintas latar belakang lainnya. Mulai dari bocah belasan tahun yang mungkin belum mimpi basah sampai kaum dewasa beruban; dari pelajar sampai kelas eksekutif; dari perempuan berpakaian seksi sampai pemakai hijab; dari pemuda kemayu sampai seorang bapak pemakai peci. Beragam!

Keragaman ini mungkin disebabkan juga oleh keragaman latar belakang dan materi para comic yang tampil. Namun apapun materi si comic, stand up comedy adalah sebuah sikap. Bukan hanya sebagai bentuk hiburan alternatif, melainkan ajang bertukar pikiran. Saya jelaskan sedikit. Para comic berdiri di atas panggung, di hadapan ribuan orang. Satu per satu comic menyampaikan opininya terhadap sebuah sikap atas sebuah realita. Mulai dari realita sehari-hari yang cenderung remeh sampai persoalan sosial, politik, bahkan ketuhanan. Kemudian tawa penonton dianggap sebagai sebuah persetujuan terhadap opini para comic tersebut, semacam terjadi momen “Anjing! Bener juga lo!” Meski beberapa comic menggunakan jurus hiperbola dalam opininya (baca: punch line), namun tawa adalah tawa. Dan bukankah seni seringkali mengejutkan?

Banyak yang setuju terhadap opini Krisna Harefa saat ia menyampaikan rasa kehilangannya atas perubahan sikap seorang teman yang baru saja punya pacar. Banyak yang setuju saat Awwe bilang kita bisa memejamkan mata saat melakukan perjalanan ke Bekasi, kalau jalanan sudah dirasa geradakan, artinya sudah sampai. Banyak yang setuju saat Sammy menyampaikan bagaimana cara pandangnya menilai apakah seseorang patut disebut pribumi atau non-pribumi. Banyak yang setuju terhadap opini Acho bahwa Tuhan bukan feminis karena, menurut agama yang dianutnya, Tuhan menyediakan 72 bidadari untuk laki-laki di surga tetapi tidak menyediakan bidadara untuk perempuan. Banyak yang setuju terhadap berbagai opini atas berbagai realita dan pemikiran yang disampaikan oleh para comic di Stand Up Fest. Persetujuan itu ditandai dengan gemuruh pecah tawa dan tepuk tangan ribuan orang di Hall Basket Senayan.

Ah, terima kasih sudah membaca catatan yang cukup panjang ini. Di akhir catatan ini, mungkin banyak yang bertanya: Apakah stand up comedy akan terus berkembang di Indonesia? Saya punya dua jawaban. Pertama, bergantung kepada pengembangan komunitas stand up comedy daerah. Konon, sebuah pohon akan semakin kuat jika ditunjang oleh akar yang sehat. Kedua, seperti yang dikatakan Sammy Notaslimboy di panggung Stand Up Fest, “Everything has a price!”

  1. Kak ndigun bener banget soal artikel nya. kebetulan aku juga nonton standupfest kemarin 2 hari😀 aku juga bikin artikelnya di blog.

    • Terima kasih! Ya, saya sudah baca tulisanmu. Semoga tahun depan ada Stand Up Fest lagi.

  2. Nice blog! Gw masih inget gw liat lu pertama di Es teler 77, dan termasuk salah satu yg tepuk tangan yg paling kenceng. Gak ada yg bikin lebih happy daripada ngeliat comic yg jujur dengan keresahannya. Keep up the good job, Gun!

  3. “Komedi Sebagai Sikap”” Kak saya suka tulisanmu!

    • dynda
    • June 21st, 2013

    wow!

  4. Akhirnya bisa ikutan comment setelah membuat blog juga. Gw akui melihat panggung waktu itu gw terpacu untuk menjalani proses dengan semangat. Dapat dikatakan telat bergabung di keluarga BTS, tapi gw akan tetap mengejar ketertinggalan gw. Cuma butuh tenaga untuk berlari dan kaki sudah ada.
    Terima kasih juga telah merentangkan pelukan buat gw dan teman-teman lainnya.😉

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: