Lalu Hujan Deras Sekali


 

 

Dinihari ialah seni mengingat; ciuman yang ingin mengulangi dirinya di hadapan bibir-bibir para pencibir.

Sore itu, kau adalah berita dalam televisi yang mudah diduga bagaimana akhirnya, sementara aku penonton setia sebab kadang-kadang terlalu banyak pilihan sama dengan tak ada pilihan lain. Secara seksama, kudengar-lihat bagaimana kau memberitakan kronologi peristiwa yang kau tolak sebagai repetisi dan peranku bertambah satu di sini—penonton yang seolah bodoh dan harus tercengang menyaksikan siaran kabar tentang kejadian tipikal.

Kau selalu memulai dengan cara yang itu-itu lagi. Pertama, kau akan menyampaikan prolog membosankan tentang bagaimana kau bertemu mantan kekasihmu. Kedua, dengan sangat berbinar, kau ungkit segala baik dan mengabaikan keburukan yang lebih banyak kau telan darinya. Ketiga, seperti biasa kau akan menutupnya dengan pertanyaan, “Mengapa ia tega meninggalkan aku?”

Kemudian, bagian yang telah kuhafal, kau akan menatap langit ruangan dengan matamu yang berperan sebagai sepasang mata paling terluka di dunia. Yang pecah berikutnya; tangismu disusul pertanyaan-pertanyaan sialan. “Apakah aku terlalu gemuk untuknya? Apakah aku lawan bicara yang membosankan? Apakah ia telah kehilangan gairah terhadapku? Kalau iya, apa sebabnya? Mengapa ia bertingkah tak peduli atas segala kepedulianku padanya? Apakah aku tak tampak menarik? Apakah aku harus melakukan operasi plastik?”

Begitulah kau, bertahun-tahun menjadikan aku tempat bersandar saat kau merasa harus menangis sembari mempertanyakan adakah yang mau dan mampu menerima apapun adanya dirimu. Beginilah aku, bertahun-tahun mengusap airmatamu yang sesungguhnya tak perlu kautumpahkan andai kau tahu bagaimana aku telah menerimamu sebaik ibu menerima kehadiran anaknya lengkap dengan segala kenakalannya.

Begitulah kau, bertahun-tahun tak juga membuatmu merasa cukup. Bahwa sempurna bukanlah hal yang dapat kau kecup. Bahwa saat kau terluka, hatikulah yang satu-satunya kuncup. Beginilah aku, bertahun-tahun tak pernah kau baca. Mungkin sebab halaman terakhirku telah melipat dirinya sendiri setelah ciuman pertama kita. Ciuman yang pertanda, bahwa segalanya mengenal sudah – dengan atau tanpa akhir bahagia.

Setelah airmatamu kering, seperti biasa kau mengantarku pulang dan tak pernah sampai ke rumah. Di tepi jalan malam itu, kau melepas helm untuk mengakhiri hari dengan ucapan terima kasih yang lesu, sementara aku sibuk memilih antara membalasnya dengan sampai jumpa atau hati-hati saja. Aku tak memilih keduanya. Aku memilih menciummu dan sesaat melupakan bahwa kita adalah laki-laki. Lalu hujan deras sekali. Lalu dinihari terasa lama sekali.

 

Depok, 2013

    • @indrianigunawan
    • November 12th, 2013

    Haddeeh udah serius2 dibaca ending’y bikin kaget ternyata gokill bang andi hehehe🙂 sukses terus yaa

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: