Lima Cara Memeluk Diri Sendiri


Bisa dipastikan, siapa saja akan mengeluh jika daya baterai ponselnya melemah sementara mereka tak membawa charger. Ini sudah menjadi semacam pengetahuan umum. Seperti halnya daya baterai ponsel, semangat seseorang  juga perlu diisi ulang supaya tetap terjaga performanya. Menyemangati orang lain seringkali lebih mudah ketimbang menyemangati diri sendiri. Berbahagialah mereka yang mampu menjaga semangat dirinya secara baik.

Saat ini, saya sedang mengalami apa yang disebut orang sebagai quarter life crisis. Usia saya 25 tahun, tidak memiliki pekerjaan tetap, lajang, dan butuh asupan semangat yang lebih dari sebelumnya agar saya tetap waras. Alih-alih memohon orang lain untuk memberi saya semangat ekstra, saya memilih untuk mengingat apa saja yang pernah saya lakukan untuk mengisi ulang semangat. Kemudian saya brpikir, mengapa saya tidak mengulangi cara yang pernah saya lakukan saja daripada sibuk merepotkan orang lain yang mungkin justru perlu bantuan yang lebih besar. Setiap bahu menopang bebannya masing-masing, bukan?

Semampu saya dapat mengingat, inilah cara saya memeluk diri sendiri untuk megisi ulang semangat:

Mencatat. Saya gemar mencatat hal dan peristiwa baik yang pernah saya alami. Bukan untuk disiarkan kepada sebanyak-banyaknya orang kemudian jadi ajang pamer bahwa saya pernah bahagia, namun untuk pengingat. Pengingat bahwa hidup saya tak melulu berisi hal-hal buruk yang bikin saya merasa sebagai orang paling sial sedunia. Mencatat adalah pekerjaan mengingat kembali. Setelah mencatat, saya jadi ingat bahwa saya punya banyak hal yang patut saya syukuri. Terdengar klise memang, tapi saat kau tahu kau pernah merasa baik-baik saja, maka keyakinan menjadi baik-baik saja di kemudian hari akan tumbuh dengan sendirinya. Setidaknya ini bekerja pada saya.

Melancong ke Umang

Melancong ke Umang

Melancong. Ini penting buat saya. Rutinitas di kota macam Jakarta bikin saya cepat lelah. Sangat lelah. Segalanya seolah berlari. Entah apa yang sedang dikejar. Tidak terburu-buru adalah hal menyenangkan yang jarang saya temui akhir-akhir ini. Setiap punya kesempatan untuk ‘melarikan diri’ sejenak dari ibukota, saya pergi. Melakukan perjalanan adalah rehat yang baik. Temuilah orang-orang asing. Datangilah tempat-tempat baru. Di sana, kau akan menemui dirimu sendiri yang lain. Jangan lupa berfoto—ini juga termasuk dalam bagian mencatat. Sebuah potret adalah catatan yang mampu merekam apa yang tak bisa disampaikan kata-kata.

Musik. Saya sering berlama-lama di dalam kamar tanpa melakukan apa pun selain mendengarkan musik yang saya gemari. Sendirian. Sebab jika berdua dalam kamar, yang terjadi adalah penciptaan musik. Ha-ha-ha. Buat saya, musik adalah teman yang baik. Mendengar musik setara dengan mendapatkan senyuman, pelukan, dan tamparan sekaligus. Bersebab itu, saya menyusun daftar lagu dengan tajuk Syahdu dalam ponsel—biar selalu punya “teman” di mana dan kapan saja. Saya juga sering piknik ke SoundCloud, banyak musik asyik di sana, yang tak dapat saya temukan dalam acara-acara musik televisi pagi hari.

menonton

Menonton. Saya orang dengan rasa penasaran sangat tinggi. Saat ingin tahu, saya akan mengamati. Salah satunya dengan menonton; menonton film, menonton kekonyolan di YouTube, menonton twitwar yang tak pernah jelas pemenangnya, menonton orang-orang. Sejak ada media sosial, akses menonton orang-orang, bahkan yang tidak dikenal, jadi sangat mudah. Ha-ha-ha. Twitter, Facebook, Instagram, Blog, dan media sosial lain lebih sering saya kunjungi ketimbang bioskop belakangan ini. Lebih maya dan nyata sekaligus. Lebih dramatis dan tragis sekaligus. Dengan “menonton” mereka, setidaknya saya tidak merasa sendiri. Atau setidaknya saya bukan satu-satunya orang yang sering merasa sendirian di tengah keramaian. Terdengar konyol? Ya, manusia memang konyol.

Melek. Membuka mata. Bukan hanya bangun tidur tapi membuka mata selebar-lebarnya terhadap hal-hal baru. Tentu kita tak dapat menghidupkan kembali kejayaan masa lalu. Sebab itu, apa salahnya beradaptasi dengan hari ini? Salah satu cara saya beradaptasi adalah dengan memiliki teman baru. Kegiatan yang paling saya sukai dalam proses berteman adalah bercakap-cakap. Percakapan adalah upaya belajar paling murah dan mewah sekaligus, siapa pun lawan bicaranya. Bercakap-cakap adalah usaha memeluk diri sendiri yang paling sering saya lakukan. Belajar bicara, belajar mendengar, belajar hidup.

Saya semakin bersemangat melakukan kelima pekerjaan memeluk diri sendiri tersebut dengan kawan baru saya. Glace, begitu saya menyebut ponsel baru saja, Samsung Galaxy Ace 3. Bersamanya, saya bisa melakukan kelima hal di atas dalam satu genggaman.

GLACE

GLACE

Saya bukan maniak gadget, bahkan cenderung gagap teknologi. Alih-alih membeli ponsel mewah untuk memenuhi gengsi, saya lebih memilih yang terjangkau namun berfitur tepat fungsi. Setidaknya saya tidak menyesal menghabiskan Rp2.199.000,- demi sebatang Glace ini. Semoga kawan baru saya ini bukan termasuk golongan kawan yang gemar merengek juga berkhianat. 

  1. Pengeeeen. Tapi yaa

  2. terima kasih. saya sangat butuh artikel tutorial ini😆

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: