Yang Ibnu Habiby Tanyakan kepada Saya


Saya sedang sangat santai saat seorang kawan, Ibnu Habiby, menyapa saya secara tidak biasa melalui akun twitternya (@ibnuhabibi): “Wawancara, yuk. Emailmu apa?” Pertama, seingat saya dia bukan wartawan. Kedua, seharusnya dia tahu alamat email saya karena dia pernah mengirimkan cerita pendeknya melalui email untuk saya baca. Ketiga, saya penasaran pertanyaan apa yang akan diajukannya. Beginilah jadinya.

Ibnu Habiby:

Berikut di bawah ini terbersit pertanyaan spontan yang kubuat, tugasmu hanya menjawab. Tidak sulit, bukan? Mari memulai.

  • Jika saya adalah sebuah buku, maka saya pasti akan ditulis oleh? Karena dia?
  • Ketika saya berumur dua puluh, saya adalah seorang?
  • Bila saya adalah rumput paling hijau di dunia, saya akan katakan kepada orang-orang yang terus bertanya kepada saya untuk?
  • Saya memiliki beberapa hal yang akan saya sentuh saat saya marah, mereka adalah?
  • Selain tidak menganggap keberadaan orang lain, saya juga baik dalam bidang?
  • Sangatlah mudah untuk menggambarkan Ibnu Habibi kedalam tiga kata, dia adalah?
  • Tanpa twitter dan 14K followers saya, saya melihat diri saya sedang?

Berikut adalah pertanyaan-pertanyaannya yang telah saya jawab.

  • Jika saya adalah sebuah buku, maka saya pasti akan ditulis oleh M. Aan Mansyur karena dia, setahu saya, adalah pembaca yang tekun dan bersabar. Sementara saya adalah kerumitan yang tak selesai sekali baca.
  • Ketika saya berumur dua puluh, saya adalah seorang pria homoseksual yang sedang meresahkan keperjakaannya.
  • Bila saya adalah rumput paling hijau di dunia, saya akan katakan kepada orang-orang yang terus bertanya kepada saya untuk merawat rumput mereka sendiri sebelum bersarang ulat seperti saya. Mereka tak pernah tahu.
  • Saya memiliki beberapa hal yang akan saya sentuh saat saya marah, mereka adalah rokok, telapak tangan dan kemungkinan-kemungkinan terburuk jika saya mengembangkan amarah.
  • Selain tidak menganggap keberadaan orang lain, saya juga baik dalam bidang membuali diri sendiri dan menghabiskan uang yang tak seberapa banyaknya. Bukan sebab saya konsumtif, hanya saja saya tak pandai dalam pekerjan simpan-menyimpan.Termasuk perihal ingatan. Ingatan dan saldo tabungan saya sama pendeknya.
  • Sangatlah mudah untuk menggambarkan Ibnu Habibi kedalam tiga kata, dia adalah sumber ketakutan dirinya.
  • Tanpa twitter dan 14K followers saya, saya melihat diri saya sedang menjadi salah seorang dari ribuan buruh pabrik yang menuntut kenaikan upah.

Terima kasih sudah menanyakannya, Ibnu.

Salam,

Andi Gunawan

    • renaldi mcjimmy
    • December 27th, 2013

    Simply Awesome.
    You Both.

    Saya semacam membaca tulisan-tulisan Idrus.Hanya saja,Idrus yag ini,terlampau terpengaruh jaman gila ini.

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: