Kepada RW


Saya sedang meminum kopi sembari menanggung rindu kepada kekasih yang jauh dan tak sempurna saat mendengar kabar telah lahir seorang bayi perempuan dari rahimmu yang tangguh. Tak berselang lama, saya teringat saudariku yang lebih jauh dan tak sempurna. Ia suster di Singapura yang meninggalkan empat orang anak di pangkuanku.

Tuti hamil pertama kali sebelum menikah. Kehamilan itu memaksanya menikah dan menjadi istri bagi suami yang kemudian hari gemar memukul dan menelantarkan bocah-bocah tak bersalah. Saya jadi tahu, pernikahan ternyata bukan tujuan melainkan permulaan jalan panjang yang melelahkan. Terberkatilah mereka yang mampu bertahan secara baik.

Kepergian Tuti bekerja demi masa depan anak-anaknya menjadikan saya ibu. Percayalah RW, mengasuh anak bukan pekerjaan mudah. Sayangnya hidup tercipa sepaket dengan kesulitan-kesulitan penuh kejutan. Sungguh saya terkejut mengetahui bagaimana kau diperlakukan oleh pria penyair itu.

Entah kena apa, saya serta merta memutuskan berhenti menulis puisi sejak tahu penyebab kehamilanmu. Saya serta merta merasa ngeri sendiri setiap kali seseorang menyebut saya penyair. Serta merta saya tak dapat membedakan antara karya dengan perilaku. Sungguh saya terkejut dan ingin memelukmu.

Sungguh saya tidak mengenalmu, juga sebaliknya. Namun asing bukan alasan untuk tidak peduli. Saya terlanjur tumbuh dan dibesarkan dengan berbagai peristiwa yang menjadikan perempuan sebagai korban. Saya terlanjur mengasuh anak-anak yang bukan darah daging saya namun sungguh saya mencintai mereka. Saya terlanjur mencintai anakmu dan kau bahkan sebelum mengenal kalian.

Sungguh saya merasa konyol menulis surat ini. Barangkali saya terlalu pening sebab ingin membantu namun tak tahu mesti berbuat apa. Maka izinkanlah saya yang jarang berdoa dan tak pernah tahu cara kerja doa untuk mendoakanmu dan putrimu.

Semoga putrimu dan kau terus tumbuh bersama menjadi sepasang tangguh yang selalu dikecup manisnya hidup. Rawatlah ia dengan cara-cara memeluk diri sendiri agar dijauhkan dari takut saat mesti sendiri. Gandenglah selalu ia ke tempat yang baik; hangat dadamu. Ajarilah ia berkata tidak saat seseorang membuat diri dan tubuhnya tak nyaman dan aman. Tubuhnya, miliknya. Tubuhmu, milikmu. Semoga tabah tumbuh lebih rindang daripada ingatan buruk dalam kepalamu.

Percayalah RW, meski tak mudah sebab tak diajarkan di sekolah, menjadi orangtua adalah berkah. Percayalah, kalian dicintai.

 

Salam,

Andi Gunawan

  1. Aku brebes mili, Ndi.. Anw, salam buat Ibu ya, Ndi..🙂

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: