Yang Selalu Mampir Pukul Satu Pagi


Sepasang mata dan bibir terkatup dalam lelap tidurmu ialah puisi yang selalu kubaca sebanyak keraguanmu akan kata-kataku yang terlanjur tumpah tentang usaha menjadi baik-baik saja.

Sementara hangat yang diam-diam kuhantarkan lewat peluk yang kucuri dari punggungmu selalu melahirkan pertanyaan yang sama; mengapa kita tak pernah lagi sama?

Kemudian pagi selalu menjadi perkara yang tak dapat ditunda, yang menerbitkan matahari di keningmu–penerang jalan menuju pulangmu yang tak sanggup kucegah sebab aku tak pernah terlahir sebagai rumah.

Terima kasih sudah mampir.

(2014)

    • uli
    • September 23rd, 2014

    JEMPOL

  1. nice .

  2. Reblogged this on Peta Hati and commented:
    Kini, disini aku berpeluk gigil sendiri memerangi nurani; aku tak mencintaimu lagi.

    Aku tak pernah benar-benar baik-baik saja ketika rasa telah tumpah ruah menjadi samudera air mata.

    Sementara rapalan doa malam yang diam-diam kuselipkan di setiap amiinku masih melahirkan pertanyaan yang sama; mengapa kita tak pernah lagi sama?

    Lalu mentari memaksaku kembali membuka mata menemukan pagi tanpa senyummu sebab aku tak pernah benar-benar menjadi pemilik.

    Terima kasih sudah mampir.

  3. Selalu jatuh cinta sama puisi-puisimu 😍😍😍😍😍😍

  4. Reblogged this on julfnaa.

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: