Hujan Deras di Jakarta


hujan tak pernah merambatkan dingin
ia menerbitkan gigil di tengah kota
di dada pemulung yang kian dijauhkan dari kampung

hujan tak pernah menyeduh kopi
ia menguapkan pahit lidah para pejabat
membuntal lalu menjadi hujan di negeri pesolek

hujan tak pernah menciptakan puisi
ia melahirkan pelik di antara pucat
bait-bait sepi dan tagihan listrik rumah penyair tua

(Kalibata, 2015)

  1. Reblogged this on ANGGIA WIDY.

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: