Archive for the ‘ Opini ’ Category

Harga Sebuah Konversasi

“When the sale comes first and the truth comes second, just stop for a minute and smile.” [Price Tag: Jessie J feat. B.o.B]

Senyum. Itulah reaksi saya setelah mendengar lebih jelas lirik lagu yang saya kutip di awal halaman ini. Pada mulanya, lagu itu tak lebih dari sekadar lagu yang sedang popular di telinga saya. Rekan-rekan muda yang bergaya sering kali memperdengarkannya, juga pusat belanja. Senyum akibat lagu itu tersimpul persis sama ketika saya melewati atau masuk pusat belanja yang sedang mengembangkan kalimat seragam akhir-akhir ini: Jakarta Great Sale.

Senyum menjadi lebih lebar di mulut saya ketika lagu itu jadi latar kegiatan belanja. Ironis. Mereka yang sedang belanja tak mengerti bahasa Inggris atau memang mengabaikannya, saya tak tahu persis. Saya meringis.

Saat banyak orang merasakan kesulitan mendaftarkan anaknya sekolah, kesulitan menghasilkani rupiah, kesulitan tidur tanpa gelisah, kegiatan belanja dengan iming-iming diskon tak pernah benar-benar musnah. Faktanya, masih banyak orang kaya di negeri ini—tak sebanyak jumlah orang miskin tentunya.

Saya yakin ada beragam busana sia-sia di almari orang-orang kaya. Sekali pakai, terlupa. Belum sempat terpakai, telupa. Apa yang sebenarnya mereka sebut harga? Jangan-jangan mereka tak mengenal kata mahal. Entahlah. Yang paling jelas dari semua ini adalah saya iri.

Saya iri mereka mendapat kesenangan mahal dengan mudahnya sementara saya mesti bersusah payah demi sebuah kesenangan murah yang meriah: sebuah percakapan.

Saya memang gemar menulis, tetapi saya akan lebih memilih bercakap selagi sempat. Sebuah percakapan akan menghantar saya pada petikan-petikan dimensi yang pernah saya lewati tapi terlupa dengan sendirinya. Apa yang dikisahkan seorang teman—kisah baik ataupun sebaliknya—ialah jalan menuju kesadaran bahwa saya tak sendirian. Jalan yang tetap membuat saya merasa waras. Jalan yang tak dapat saya temui sesering saya bernapas.

Baru saja saya membaca sebuah halaman virtual seseorang bernama Zen. Madeleine, tajuknya. Pasase yang paling menarik buat saya dari catatannya ialah:

Dalam psikologi, dikenal istilah “involuntary memory”: kenangan yang muncul tiba-tiba karena dipicu suatu hal yang dengan serta merta membangun kembali satu bagian atau totalitas dari masa lalu.

Setelah membaca utuh Madeleine, serta merta saya sadar bahwa saya kerap kali mengalami situasi yang ia paparkan, involuntary memory. Saya merasakannya saat saya sedang bercakap dengan seseorang. Tiap kali saya bertemu dengan orang baru, saya hampir selalu mengajaknya terlibat dalam sebuah percakapan—hal yang saya gemari. Dari percakapan-percakapan itulah saya mengalami involuntary memory. Terlebih saat apa yang diucapkan oleh lawan cakap saya termasuk dalam pelbagai hal yang bersinggungan dengan masa lalu saya. Saya tak pandai mengingat dan berusaha tak mengingat. Masa lalu sering kali mengangakan luka berkarat, tetapi saya tak dapat menghindar saat sebuah percakapan menerbitkan kenangan. Ini bukan kebetulan. It’s not another meeting and greeting, it’s powwow that I love get involved in.

Pada akhirnya saya mesti sepakat pada apa yang ditulis Zen: Kenangan bukanlah perangkat, bukanlah alat, ia adalah sejenis “kata benda” yang hidup dan bergerak, tapi kehidupan dan pergerakannya sepenuhnya tak bisa kita kendalikan. Percakapan ialah bagian dari penggerak kehidupan yang sedang langka saya temui. Ia menjadi semakin mahal di ibukota, juga semakin berjarak. Poor me!


*Powwow: [noun] a conference or meeting for discussion, especially among friends or colleagues.[Origin: early 17th century: from Narragansett powah, powwaw ‘magician’]

*Ilustrasi diunduh dari sini.

 

Cerita Punya Cerita

Saya selalu suka bertemu dengan orang-orang baru yang gemar bercerita. Mereka lebih menyenangkan dari televisi—pengembang drama. Mungkin saya menemukan drama dalam cerita orang-orang itu. Drama realita, potongan adegan dalam bentangan semesta, tanpa gincu. Bahkan saat gincu memerah-marahkan bibir-bibir para pencerita, saya masih bisa menikmatinya. Sungguh canggih koneksi tak berarti apa-apa ketimbang komunikasi tatap-muka.

Saya selalu suka bertemu dengan orang-orang baru yang gemar bercerita. Mimik-mimik yang tercipta. Gerak-gerak yang menjaga biar muka tetap punya citra. Terkembanglah iba: saat bunyi cerita mulai parau tetapi muka lebih mirip sakau; saat gerak tangan mulai menari dalam datar muka yang merindu belas-kasih. O, sungguh ini menyenangkan sekali.

Saya selalu suka bertemu dengan orang-orang baru yang gemar bercerita. Mereka membuatku tak menyesali gagal menonton opera ibukota paling ramai. Riuh vokal-konsonan yang melagu memang tak semerdu dongeng-bual sebelum tidur. Tetapi, lengking duka senyaring lantang spanduk di pinggir-pinggir jalan ialah irama syahdu. Irama pengingat, bahwa saya menjejak dalam hunian milik semua kaki; bahwa cerita saya kadang tak lebih baik dari mereka; bahwa cerita saya bukan terburuk yang pernah tercipta.

[Depok, Juni 2011]

*ilustrasi diunduh di sini.

Inspirasi Hari Ini, Terang Hari Esok

Naskah pidato pembukaan Pekan Film untuk Kebangkitan Nasional, 19 Mei 2011, Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. HAMKA, Jakarta Selatan.

Bangkit adalah terbangun dari jatuh, lalu kembali berdiri: tegak. Kebangkitan Nasional adalah momentum bangkitnya rasa dan semangat persatuan, kesatuan, dan nasionalisme, serta kesadaran untuk memerjuangkan kemerdekaan Republik Indonesia, yang sebelumnya tidak pernah muncul selama penjajahan Belanda, juga Jepang. Masa itu ditandai dengan dua peristiwa penting: berdirinya Boedi Oetomo pada 20 Mei 1908, serta ikrar Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 1928.

Hari ini, menjelang Hari Kebangkitan Nasional ke-103, Majelis LAJAR DJINGGA ingin mengajak masyarakat, khususnya mahasiwa, untuk bangkit. Bangkit dari modernitas pikiran yang perlahan mengikis habis nilai-nilai kebangsaan. Bangkit dari kepraktisan pikiran, menuju masa depan Bangsa yang lebih etis dengan etos pemahaman kritis.

Gandi pernah berujar: bahwa masa depan tergantung pada apa yang kita lakukan hari ini. Yang sedang dilakukan oleh Majelis Sinema LAJAR DJINGGA hari ini, semata-mata demi tumbuh-kembang pola berpikir kaum muda. Bukankah pemuda adalah generasi penerus bangsa? Bukankah pemuda adalah penentu arah masa depan Bangsa?

Bangsa yang besar adalah bangsa yang siap menghadapi tantangan, dan berhasil bangkit dari permasalahan yang dihadapinya. Untuk menghadapi segala permasalahan, maka diperlukan pemikiran yang kritis. Inilah yang sedang diupayakan oleh Majelis Sinema LAJAR DJINGGA, membiasakan berpikir kritis. Dengan berpikir kritis, kita menjadi tahu bahwa segala hal tak harus diterima bulat-bulat. Bahwa kita, sebagai bagian dari kesatuan, berhak menyaring apa-apa yang menerpa peradaban Bangsa, guna terwujudnya rasa kebersatuan yang sesuai dengan nila-nilai luhur, yang telah ada jauh sebelum Indonesia merdeka.

Dalam sejarahnya, Indonesia berkali-kali harus berterima kasih pada mahasiswa. Pergerakan-pergerakan mahasiswa telah banyak turut andil dalam kehidupan berbangsa. Hari ini, ke manakah pergerakan mahasiswa menuju? Ke jalan-jalan besar di bawah matahari dan meneriakkan hal yang bahkan mereka tak tahu? Mengangkat umbul-umbul yang pembuatnya tak kasat mata demi sebuah isi amplop? Atau bergeliat di kampus dan saling-injak dengan pengguna almamater berwarna sama, alih-alih menegakkan ideologi?

Majelis Sinema LAJAR DJINGGA, melalui Pekan Sinema ini, berusaha menggerakkan lagi para tenaga muda untuk berpikir. Berpikir dan menjadi lebih peka pada kehidupan berbangsa dengan film-film pilihan. Kami berharap, waktu yang sepekan ini,dapat menjadi pemecut inspirasi untuk menerangkan langkah pergerakan kaum muda, demi masa depan Bangsa. Maka, jadikanlah inspirasi hari ini, sebagai jalan terang hari esok.

Salam Persatuan.

Majelis Sinema LAJAR DJINGGA

Jakarta, 19 Mei 2011

Opera Tentang Sebuah Predikat

Aktualisasi diri dari sudut pandang muda-mudi masa kini sudah menjadi lebih dari sekedar ajang pembuktian eksistensi. Selain telah mempolakan gaya hidup, juga telah menjadi ajang pura-pura demi mencapai kata sandang sempurna. Sebagai remaja awal dua puluhan, saya dibuat bingung dengan mereka yang seusia dengan saya. Terlalu banyak bentuk yang sama. Terlalu banyak kotak yang satu sama lainnya saling injak.

Banyak yang bilang remaja sekarang kurang kreatifitas, tapi, menurut laporan pandangan saya, mereka justru terlalu kreatif. Dua tangan melakukan banyak hal dan auranya amat sumringah saat mereka dilabeli multitasking person. Hal ini bisa jadi akibat terlalu banyak referensi untuk menjadi obsesif impulsif. Terlalu mau tahu. Terlalu mengekor pada peradaban. Terlalu haus sebuah pengakuan kehandalan. Terlalu memaksakan keterbatasan. Usaha adalah hal lain yang terbatas.

Menjadi pengikut tren yang sedang berkembang tidaklah haram, tapi haruskah menjadi sama seperti orang lain? Atau berpura-pura menjadi orang lain? Bukankah seharusnya tiap kepala memiliki kapasitas dan karakter berbeda dengan lainnya sekalipun kembar identik? Kadang, seseorang memang lebih baik dari yang lain, tapi bukan berarti sempurna.

Satu orang memotret dengan lensa terkini, mengarahkan film indie imajinasi, menulis bergulung-gulung fiksi, menggowes sepeda saat orang-orang berjamaah menanggalkan mesian, menjadi pahlawan hijau saat bumi terlanjur menguning dan selusin akifitas kekinian lainnya. Apa yang sebenarnya sedang ia lakukan? Semua hal dilakukan seperti tuntutan lakon pada opera sabun yang menanti tepuk tangan. Parahnya, tak jarang peran yang dilakoninya berimprovisasi dalam adegan saling merendahkan sesama pemeran. Menganggap dirinya paling juara sementara yang lain hanya aktor kacangan. Ia tak sadar bahwa perannya sama dengan banyak orang; sekedar tiruan.

———
[ndigun, Jakarta 02 Juli 2010]
*ilustrasi diunduh dari istockphoto

SBY, Bergurulah pada Sopir Taksi

Saat ini banyak orang dibuat gemas dan ragu oleh orang nomor satu negeri ini. Dengan keberuntungan yang luar biasa, SBY kini sedang dalam kali keduanya memimpin Indonesia. Adalah sikap ketidaktegasannya yang menggemaskan jutaan rakyat. Tukang sayur keliling di komplek rumah saya bilang, “Presiden kok menye-menye. Lha wong dia tinggal sebut A, ya semua menurut A.” Kegemasan ini lantas membuncah menjadi keragu-raguan. Ragu terhadap kinerja SBY serta kabinetnya.

Saya bukan ahli politik. Saya hanya pemuda bangsa yang peduli pada tanah yang kujejaki. Tetapi bukan berarti saya buta politik. Lah wong hampir setiap hari saya ‘bertemu’ dengan politik. Pagi tadi contohnya:

Ibu  : “Mas, nanti berangkat kerjanya bareng sama ibu ya.”
Saya: “Ibu mau kemana?”
Ibu  : “Mau ke rumah sakit. Cek darah. Temenin ibu ya.”
Saya: “Nanti saya bisa telat lho, Bu.”
Ibu  : “Ndak apa-apa telat sedikit. Mau ya temenin ibu? Nanti ibu tambahin ongkosnya.”

Apa itu bukan politik? Politik yang saya tahu adalah kegiatan orang atau sekelompok orang dalam mencapai tujuannya dengan berbagai cara (mohon koreksi). Dalam politik tak ada teman atau musuh abadi. Adalah kepentingan yang abadi. Ibu saya agaknya kurang peduli kalau saya terlambat sampai kantor asalkan keinginannya ditemani ke rumah sakit terwujud.

Sementara pemimpin sepengetahuan saya adalah orang yang tahu jalan, bisa menunjukkan jalan, serta ikut dalam jalan itu hingga ke tujuan. Jika SBY perlu figur untuk ditauladani kepemimpinannya, saya sarankan agar SBY berguru pada sopir taksi. Anda mau kemana? Depok? Rawamangun? Kebayoran? Tenang, sopir taksi tahu jalannya kok. Ia juga bisa menunjukkan jalan dengan baik serta ikut serta bersama Anda dalam jalan itu hingga Anda selamat sampai tujuan. Sopir taksi juga demokratis menurut saya. Ia selalu menanyakan kepada penumpangnya untuk memilih lewat jalan tol atau jalan biasa.

Anggaplah SBY adalah sopir taksi. Kita -rakyat- adalah penumpang yang ingin sampai ke tujuan. Tujuannya adalah kesejahteraan. Apakah SBY tahu jalan menuju kesejahteraan rakyat? Bila tahu, apakah ia bisa menunjukannya serta ikut bersama rakyat dalam jalan itu? Saya hanya punya satu kata terakhir: SEMOGA!

Pesan untuk penumpang: Tak selamanya jalanan lancar. Kadang Anda harus sampai lebih lama ke tempat tujuan karena macet. Sopir taksi tak bisa disalahkan karenanya. Asalkan Anda tetap selamat sampai tujuan ya lebih baik bersabar sedikit atas waktu.

[AG, Januari 2010]

Kelamin Bukan Penghalang

Pernah dianggap remeh hanya karena apa jenis kelaminmu? Aku punya cerita soal itu. Ada teman lelaki yang suka menari. Ia berlatih berhari-hari. Menari ke sana kemari. Lenggok sana lengggok sini. Putar kanan putar kiri. Hentakkan tangan dan kaki. Semakin sering ia menari semakin banyak yang memaki.

“Ngapain sih lo nari? Lo kan laki!”

“Eh, tahu ngga lo? Dia kan suka nari. Kaya banci aja deh!”

“Sekarang nari, nanti lama-lama mulai pakai bikini.”

Ada satu lagi teman. Perempuan. Ia gemar menentang. Terlebih soal kesetaraan gender yang timpang. Ia aktif menyuarakan pendapat. Soal pro bla bla bla atau kontra na na na. Ikut organisasi ini itu anu macam-macam lah pokoknya. Suatu waktu ia maju mencalonkan diri jadi ketua organisasi entah apa namanya. Rivalnya lelaki-lelaki muda yang merasa lebih pantas dipilih melancarkan serangan belakang lewat gosip murahan.

“Jangan pilih dia! Emang lo mau diperintah-perintah sama cewek?”

“Cewek bisa apa sih? Paling awalnya doang semangat!”

“Gue ngga mau punya ketua cewek! Pasti sensitif, secara lebih suka pakai perasaan. Apalagi kalau datang bulan.”

Sejak kapan kelamin mempengaruhi kemampuan seseorang? Toh, tarian tak mengenal jenis kelamin. Toh, banyak pemimpin dunia yang perempuan. Apa lelaki menari itu dosa? Apa perempuan jadi pemimpin itu dosa? Naif sekali mereka yang menganggap remeh kemampuan orang lain hanya karena jenis kelaminnya apa. Hei, ini era demokrasi! Katanya anak gaul harus beradaptasi dengan peradaban. Menyesuaikan diri dengan perkembangan. Percuma jika tampilan kalian amat sangat kekinian tapi pola pikir malah mundur jauh ke belakang.

Coba lihat Jacko, dia raja pop dunia yang hampir semua dari kalian menggemarinya. Dia lelaki dan dia menari. Apa kalian pernah mempermasalahkan gerakan moonwalk-nya hanya karena dia lelaki? Aku rasa justru banyak dari kalian yang juga lelaki menirukan gerakannya. Akuilah! Dan apakah Jacko terlihat seperti banci? Apa kalian yang tidak menari merasa lebih jantan ketimbang lelaki yang menari? Ini bukan soal tarian sebagai barometer kelaki-lakian seseorang. Ini soal keberanian menentukan pilihan. Keberanian mengikuti hasrat yang sejalan dengan kebisaan. Justru kalian yang gemar bergunjing di balik punggung orang lain lah yang banci. Maaf, kali ini aku benar memaki.

Kalian lupa pernah punya presiden perempuan? Aku ingatkan, Megawati namanya. Tentu ia jadi presiden bukan karena embel-embel nama bapaknya yang dulu juga presiden. Aku yakin banyak proses yang ditempanya sebelum akhirnya jadi presiden. Selama kepemimpinannya ia mampu jadi pepimpin yang baik dan ini bukan karena jenis kelaminnya. Ayolah, ini soal kemampuan dan kredibilitas. Bukan soal kelamin apa yang ada di antara selangkangan.

Bagian yang memuakkan adalah saat teman-temanku yang dianggap remeh itu berhasil dengan cara mereka sendiri. Mereka yang sebelumnya mencaci maki tralala trilili berebut simpati.

“Lo tahu ngga yang menang festival dansa kemarin? Keren banget yaa dia! Dia temen gue lho.”

“Ketua senat gue baru pulang dari Aussy lho. Dia ikut study banding di sana. Hebat yaa! Gue deket banget lho sama dia.”

Hahaha! Lucunya mereka. Kau tahu? Banyak hal yang lebih penting ketimbang menjadikan kelamin sebagai tolok ukur kemampuan seseorang. Jika nanti aku kaya raya banyak harta di mana-mana dan perusahaan rupa-rupa, aku tak akan pernah mencantumkan “diutamakan lelaki” atau “diutamakan perempuan” dalam syarat menjadi karyawan. Sungguh ini bukan bualan. Anggap saja harapan atau angan-angan atau apalah yang bisa kuamini. Jangan biarkan satu jenis kelamin mendominasi atau menindas jenis kelamin lainnya. Ayo kita nikmati keragaman ini dan berhenti menilai seseorang hanya berdasarkan jenis kelaminnya.

[AG, Jakarta, Mei 2010]

*ilustrasi diambil dari laman milik University of Massachusset

*Tulisan ini juga tayang di Baltyra dan Kompasiana.

Balada Lapangan Hijau

Meg Cabot menulis dalam Princess Lessons, 2003 “Tidak ada yang lebih sportif daripada menjadi atlet yang baik.” Bagaimana dengan atlet Indonesia? Hmm, baik di mata dirinya sendiri, mungkin. Kau, yang merasa dirimu atlet, seharusnya memberi contoh yang baik bagi yang lain, bagi penontonmu. Ini artinya tidak menjadi pecundang lapangan yang menyebalkan.

Atlet yang baik tidak marah-marah di lapangan. Tidak menuduh pihak lain melakukan kecurangan. Tidak juga melempar sepatu saat kalah. Mereka menerima kekalahan dengan anggun, berjabat tangan dengan pemenang, dan berkata dengan tulus “Permainan yang bagus, kawan.” Para jawara sejati tidak mempermasalahkan kondisi lapangan atau keputusan wasit yang melayangkan kartu warna-warni.

Saat seorang pemenang sejati menang, dia tidak pernah menyombongkan diri, menari-nari telanjang saat mencetak gol, atau menyanyikan lagu-lagu makian tentang pihak yang kalah. Pemenang yang baik selalu menghargai usaha lawannya dan ingat bahwa dirinya bisa dengan mudah berada di posisi yang kalah -kapan pun.


(Bukan) Penonton yang Baik

Tak ada yang lebih menyebalkan daripada membayar sepuluh ribu rupiah dan duduk dalam stadion hanya untuk menemukan orang-orang yang duduk di tribun seberangmu mengamuk-amuk. Berteriak menyalak, menendangi kursi-kursi, atau membakar segala atribut kebolaan. Ini bukan sikap penonton. Ini bahkan bukan sikap manusia. Ckckck!

Saat orang berkumpul dalam stadion untuk menikmati pertandingan, mereka biasanya sudah membayar tiket masuk -kecuali tetangganya sedang bertugas sekuriti disana. So, it’s not cool at all saat ada orang yang berusaha merusak pertandingan dengan berlari sambil salto menerobos pagar pembatas bagai jagoan dalam film kung fu lalu mereka adu jotos sambil teriak tujuh oktaf –well, ini bisa jadi adegan menghibur di ruang sidang, tapi tidak setiap saat harus begitu wahai bapak-bapak anggota dewan.

Miris sekali melihat pertandingan sepak bola menelan korban, entah luka ringan, luka agak berat, luka amat berat sekali, atau yang paling parah: meninggal dunia! Kalian tak tahu siapa yang jadi korban-korban itu? Mereka saudaramu, Bung! Dengan selembar kertas ungu bernominal sepuluh ribu rupiah kau bisa jadi malaikat pencabut nyawa dadakan, ooh murahnya! Kalian tak harus melakukan atraksi setelah pertandingan. Berharap saja tim kesayanganmu bisa menang di lain waktu lalu pulanglah dengan tenteram. Kita semua harus hidup di planet ini, tak peduli pemain idolamu mencetak gol atau tidak.

Satu nasihat untuk kau yang gemar menonton pertandingan langsung: bawalah kotak P3K! Supaya nanti saat hidungmu tak lagi mengeluarkan upil tapi darah, atau lenganmu terkoyak, atau betismu tersangkut bebesian, kau bisa jadi superhero untuk dirimu sendiri dengan senjata andalan yang siap di tangan -obat merah!


Belajarlah pada Pemandu Sorak

Untuk pemain, pelatih, dan penonton, pergilah ke rental DVD, cari film Bring It On, tonton! Kalian akan melihat bagaimana sekelompok pemandu sorak yang dipimpin si cantik rambut merah Kirsten Dunst mempelajari bahwa menang bukan segalanya: kadang melakukan hal benar lebih penting daripada mengangkat tropi kemenangan.

Andi Gunawan, Ibukota, 08 Maret 2010

*Penulis tidak pernah mencetak gol, seorang mahasiswa tumpul dan pemerhati karakter. Ahai!

*Ilustrasi diunduh dari sini.