Archive for the ‘ Fiksi ’ Category

Yang Berjalan di Sadranan

image

Ia tampak lelah namun terus berjalan. Dua karung putih di tangan kanan dan kirinya, entah berisi apa. Mungkin berisi doa; tentang sebuah rumah yang merindukan anak-anak yang bepergian. Mungkin berisi mantra; yang dibisikannya berungkali ke dadanya sendiri agar tak segera rubuh. Mungkin berisi nada; lagu tentang kursi goyang yang tak pernah ada.

Ia tampak lelah namun terus berjalan. Sepasang kakinya telah menjejak sepanjang jalan yang tak diukurnya, tanpa alas. Diinjaknya tatapan-tatapan tetangga yang lebih api daripada bara di tungkunya. Diinjaknya kerikil-kerikil peninggalan masa muda yang lebih tajam daripada parang di bawah bantalnya. Diinjaknya bukit-bukit berbatu, sebab ada yang lebih tinggi daripada bukit-bukit itu; sebuah harapan tentang ketukan pintu dan sebaris kalimat, “Aku pulang, Bu.”

Depok, 2013

*Foto adalah bagian kecil dari Pantai Sadranan, Gunung Kidul.

Balada Dua Janda

George Romney

George Romney*

Saya terkejut saat sedang merancang sebuah kejutan. Tentang pura-pura marah saat Wiranto terlambat pulang dari bekerja yang akan saya akhiri dengan sebuah pengakuan manis: “Saya hamil.”

Kalimat itu tak pernah tumpah dari mulut ini. Saya melihat Wiranto menggandeng mesra seorang perempuan masuk ke minimarket tak jauh dari tempat praktik bidan. Kami resmi bercerai sebulan kemudian. Setelah hari itu, saya baru paham bahwa kejutan tak melulu menyenangkan.

***

Ada waktu memulai, ada waktu untuk selesai. Begitulah seharusnya saya menyadari peran dari sebuah sikap. Saya telah memulai sebuah kebohongan, secara sadar. Sesadar saya meyakini bahwa kebenaran punya waktunya sendiri untuk menampakkan diri. Saya akan menampakkan diri. Saya akan pulang.

Sudah sewindu saya tak pulang ke rumah Ibu. Bukan karena saya menjalani peran Malin Kundang selama itu, namun selama itulah saya bersusah payah mengumpulkan keberanian. Sebab nekat seringkali adalah upaya menggali kubur sendiri, maka saya memilih menjadi lemah. Sekarang saya sudah cukup kuat. Mungkin. Setidaknya saya tak sendirian. Saya telah punya pengganti Wiranto dan siap mengenalkannya kepada Ibu.

Sepanjang perjalanan menuju rumah Ibu, kepala saya sibuk memikirkan kemarahannya. Ibu bukan janda pemarah. Namun, seperti yang kau tahu, seorang pendiam biasanya sangat kacau ketika menemukan alasan untuk marah. Ia bisa jadi apa saja yang terburuk yang bisa kaubayangkan. Continue reading

Dua Stoples Kenangan

Ilustrasi: Ellena

Senin yang dingin membuatku malas mencuci muka. Sebuah ingatan terpaksa tinggal lebih lama. Ingatan tentang Senin yang luka oleh aku yang muda dan terburu-buru.

Telah lama kau menjadi kupu-kupu di rumahku sebelum berterbangan di bukit luas bernama masa lalu. Di sana, kau sibuk mengitari bayang-bayang yang lebih gelap dari padam lampu. Menari di atas danau kenangan yang lebih keruh dari keluh janda-janda kota.

Saat sedang lelah di pucuk rendah pinus aku berhasil memeluk dan membawamu pulang. Pelukan yang asing dan asin sebab kau tak berhenti menangis sepanjang jalan ke rumahku. Rumah bercat putih pudar membosankan berbau apak.

Jendela-jendela berkarat dan segala pintu kututup rapat sebab aku enggan menaruhmu dalam stoples kaca. Satu-satunya stoples bekas isi nastar pemberian seorang yang dulu mengaku kekasihku. Seorang yang dibawa pergi kupu-kupu dari taman bunga yang tak pernah kukunjungi.

Sejak hari itu kau selalu beterbangan di dalam rumahku. Menyinggahi apa saja. Pigura-pigura berdebu bergambar senyum yang telah dimakamkan. Ranjang berlubang mahasepi. Juga gelas piring sendok yang selalu kucuci sendiri setelah menu-menu hambar tertelan. Aku berpikir kau telah mengenalku dengan sangat baik dari setiap sisi rumahku yang kausinggahi.

Lalu Senin malam yang lapar dan pasar kerlap-kerlip di pusat kota menggodaku. Setelah mengunci pintu aku berlari menuju ramai pasar malam. Tak kutemukan apa-apa di sana selain kesunyian yang lain dan stoples baru berwarna biru tembus pandang untukmu.

Aku pulang memandang cat putih semakin pudar dan rumah diserang hawa dingin mahadahsyat. Aku lupa menutup jendela dan dua stoples tak cukup menampung air mata.

(Depok 2012)

F!

“Mas Bhaga, lihat map biru dengan huruf F di depannya?”

Aku mengulang pertanyaan yang sama. Aku sudah menanyakannya ke Ibu, Ranti, dan Mba Titi, nihil. Aku mesti menuju stasiun sejam lagi dan masih terus mencari.

“Memangnya apa isi mapnya?” tanya Mas Bhaga tanpa menoleh. Ia hampir selalu terlihat bodoh di hadapan ponsel cerdasnya.

“Foto.”

“Oalah, aku kira berkas penting. Ternyata F itu foto.”

F for family! Itu foto lengkap keluarga kita. Foto itu penting buat aku yang mau tinggal jauh dari rumah. Lebih penting dari blackberry-mu!”

“Kalian meributkan apa?” sahut Bapak yang baru tiba.

“Foto,” jawabku.

Sepersekian detik, Bapak memberiku tas plastik. Kukeluarkan isinya, sebuah bingkai. Foto yang kucari di dalamnya.

 

(2011)

*juga dimuat di Jejakubikel

Sepakat untuk Tidak Sepakat

Kita hidup di negeri penuh aturan. Aturan-aturan tentang cara seseorang mengatur hidup orang lain. Juga tentang mengatur kematian orang lain. Kematian seorang hakim sedang diatur oleh sekoper uang dan senjata api yang isinya bisa mampir kapan saja ke kepalanya.

Ia dapat mengabaikan aturan sekoper uang, tapi ia mesti patuh kepada aturan yang dibuat senjata api. Kesepakatan telah lahir. Mantap tanpa gelagap, hakim tua mengetukkan palu ke mejanya. Ketukan yang membebaskan pejabat buncit dari dakwaan korupsi.

Bubar sidang, hakim tua dan pejabat buncit melenggang asing menuju mobil masing-masing. Belum sampai parkiran, hakim tua berbalik arah. Ia lalu menekan sesuatu di kolong mejanya, disusul ledakan mobil si pejabat buncit.

“Bagimu, aturanmu. Bagiku, aturanku.”

(2012)

*juga dimuat di Jejakubikel

Balada Pohon Mangga

 
Tell me his name I want to know
The way he looks and where you go
I need to see his face, I need to understand
Why you and I came to an end*
 

Aku tahu apa yang terjadi. Pada mulanya, namaku yang selalu kausebut-sebut saat malam mulai tinggi tapi kantuk belum juga menggantung di matamu. Pada mulanya, potretku yang selalu kautatap lekat-lekat saat kerinduan bertamu ke dadamu sebab hujan deras sekali; jalanan macet sekali; atau pekerjaan banyak sekali mengurungku di kantor. Pada mulanya, akulah tujuan pulangmu setelah berpergian ke mana saja: ke taman kota, ke kampung halaman, ke tempat-tempat asing yang membuatmu penasaran. Aku tahu, seseorang telah membuatmu begitu penasaran. Siapa namanya? Continue reading

Rindu yang Tinggal dan Tanggal

Tinggal? Tanggal?

Rindu adalah kediaman. Tempat segala doa tentangmu tinggal, dan menunggu pengabulan. Rindu adalah bocah yang tak berhenti mengaduh menunggu gulali sampai ke genggamannya. Rindu adalah cangkir kopiku yang kehilangan bibirmu. Tempat kita pernah saling berbagi hangat. Rindu adalah sebuah keyakinan dan aku tak perlu mati demi merasakan surga. Ia ada dalam setiap pertemuan kita. Rindu adalah pintu yang terbuka. Menunggu angin datang dengan sebuah pelukan. Rindu adalah lagu-lagu cinta yang merdunya kaubawa pergi. Lekaslah pulang, dan kita akan berdansa, lagi. Rindu adalah sebuah roman yang terbaca, yang halaman terakhirnya ada padamu. Tamatkanlah.

Rindu adalah setiap pagi saat matahari menjadi dingin, dan membekukan kata-kata. Secangkir kopi, roti isi, dan waktu yang melambat pada ingatan tentangmu.

Selalu ada kali pertama. Kali ini tentang rela-merelakan.


——————————————————————–

*ilustrasi diunduh dari sini.