Archive for the ‘ Fiksi Kilat ’ Category

Yang Berjalan di Sadranan

image

Ia tampak lelah namun terus berjalan. Dua karung putih di tangan kanan dan kirinya, entah berisi apa. Mungkin berisi doa; tentang sebuah rumah yang merindukan anak-anak yang bepergian. Mungkin berisi mantra; yang dibisikannya berungkali ke dadanya sendiri agar tak segera rubuh. Mungkin berisi nada; lagu tentang kursi goyang yang tak pernah ada.

Ia tampak lelah namun terus berjalan. Sepasang kakinya telah menjejak sepanjang jalan yang tak diukurnya, tanpa alas. Diinjaknya tatapan-tatapan tetangga yang lebih api daripada bara di tungkunya. Diinjaknya kerikil-kerikil peninggalan masa muda yang lebih tajam daripada parang di bawah bantalnya. Diinjaknya bukit-bukit berbatu, sebab ada yang lebih tinggi daripada bukit-bukit itu; sebuah harapan tentang ketukan pintu dan sebaris kalimat, “Aku pulang, Bu.”

Depok, 2013

*Foto adalah bagian kecil dari Pantai Sadranan, Gunung Kidul.

F!

“Mas Bhaga, lihat map biru dengan huruf F di depannya?”

Aku mengulang pertanyaan yang sama. Aku sudah menanyakannya ke Ibu, Ranti, dan Mba Titi, nihil. Aku mesti menuju stasiun sejam lagi dan masih terus mencari.

“Memangnya apa isi mapnya?” tanya Mas Bhaga tanpa menoleh. Ia hampir selalu terlihat bodoh di hadapan ponsel cerdasnya.

“Foto.”

“Oalah, aku kira berkas penting. Ternyata F itu foto.”

F for family! Itu foto lengkap keluarga kita. Foto itu penting buat aku yang mau tinggal jauh dari rumah. Lebih penting dari blackberry-mu!”

“Kalian meributkan apa?” sahut Bapak yang baru tiba.

“Foto,” jawabku.

Sepersekian detik, Bapak memberiku tas plastik. Kukeluarkan isinya, sebuah bingkai. Foto yang kucari di dalamnya.

 

(2011)

*juga dimuat di Jejakubikel

Sepakat untuk Tidak Sepakat

Kita hidup di negeri penuh aturan. Aturan-aturan tentang cara seseorang mengatur hidup orang lain. Juga tentang mengatur kematian orang lain. Kematian seorang hakim sedang diatur oleh sekoper uang dan senjata api yang isinya bisa mampir kapan saja ke kepalanya.

Ia dapat mengabaikan aturan sekoper uang, tapi ia mesti patuh kepada aturan yang dibuat senjata api. Kesepakatan telah lahir. Mantap tanpa gelagap, hakim tua mengetukkan palu ke mejanya. Ketukan yang membebaskan pejabat buncit dari dakwaan korupsi.

Bubar sidang, hakim tua dan pejabat buncit melenggang asing menuju mobil masing-masing. Belum sampai parkiran, hakim tua berbalik arah. Ia lalu menekan sesuatu di kolong mejanya, disusul ledakan mobil si pejabat buncit.

“Bagimu, aturanmu. Bagiku, aturanku.”

(2012)

*juga dimuat di Jejakubikel

Tulus

Seingatku, aku tak pernah seiseng ini. Aku menemukan KTP saat sedang mencari botol dan gelas plastik bekas untuk kuuangkan kemarin. Pas fotonya agak buram tapi aku masih bisa membaca namanya, Tulus Pratama. Alamatnya pun terbaca dan aku sedang mencari jalan ke sana sekarang.

Aku tidak punya KTP tapi aku tahu betul kerepotan akibat tak memilikinya. Warno, tetanggaku, kesulitan cari kerja karena tak memiliki KTP. Akhirnya ia berhutang Rp200.000,- pada Bang Togar. Kata Pak RT, nominal itu terbilang murah sebagai harga teman. Blah!

Setelah berkeliling sembari bertanya kepada siapa saja di jalanan, aku sampai di depan rumah sesuai alamat. Tombol berwarna putih kutekan. Seseorang membuka pintu, perlahan.

“Pak! Bu! Mas Tulus pulang!”

———————————-

[Andi Gunawan, Juli 2011]

Makan Malam

Sudah sejak lama orang-orang di Jakarta tak mengenal makan malam. Mereka mesti merelakan jam makan malam menguap dalam perjalanan pulang. Mungkin ini sebab beberapa dari mereka memilih makan sore. Usai jam kerja, mereka membaur ke kedai-kedai kopi, kafe, atau pusat belanja—meski tak banyak yang benar-benar makan tetapi mereka suka sekali datang ke tempat-tempat ini, menunggu macet reda.

Di pusat belanja, mereka mencatat dalam kepala apa-apa yang ingin dibeli di kemudian hari selepas tanggal gajian. Ada juga yang hanya melihat-lihat dan berandai membeli. Berandai-andai sudah menjadi hal mewah sejak semakin banyak tagihan yang tak bisa ditunda.

Lapar tak bisa ditunda.

Sore itu hujan. Tak terlalu lebat tetapi cukup untuk memfungsikan payung yang jarang terbuka. Seorang bocah laki-laki berlari. Ia menuju ke pusat belanja dengan payung terbuka yang mulai bau karat. Hujan membuatnya harus bekerja keras demi menu makan malam yang menurutnya lebih baik.

Perempuan. Muda dan cantik. Ia tak membawa tas belanja, hanya tas kerja. Bisa jadi berisi komputer jinjing, peralatan dandan, atau bukan apa-apa. Berdiri ia sendiri di pintu keluar pusat belanja. Matanya seperti sedang mencari sesuatu.

Si bocah sudah kuyup. Dilihatnya perempuan itu seperti mencari sesuatu. Entah apa yang membuatnya begitu yakin, bahwa ia yang sedang dicarinya. Bocah itu bergegas menuju perempuan yang dagunya lebih tinggi dari kebanyakan orang. Payung terbuka.

Sebuah taksi berhenti tepat di hadapan si perempuan muda. Ia turunkan dagu, membuka pintu. Sebentar saja ia sudah ditelan taksi yang dapat menuju ke mana saja. Payung masih terbuka, pun mulut si pembawanya. Bocah itu melongo tetapi urung menutup payungnya. Ada seorang pria yang ingin ia hampiri. Ia masih ingin telur dadar jadi menu makan malamnya.

[AG, Jakarta, 06 Oktober 2011]

Anomali

Gelap. Aku melihat setitik cahaya mendekat. Ada hangat yang tiba-tiba sampai ke tubuhku. Tak mau penasaran, kubuka mataku. Perlahan.

Bidadari telanjang di hadapanku. Cahaya itu ia, laki-laki.

Senyumnya mengembangkan sayap-sayap di punggungnya. Sayap-sayap itu memelukku yang serta-merta ikut dalam ketelanjangannya, dan menggigil. Sebenar-benarnya, ia begitu hangat dan aku tak berhenti menggigil. Diciumnya bibirku dan tetap aku menggigil. Ia rapatkan tubuh lembutnya ke tubuhku hingga tercipta pertemuan buah-buah pelir mungil. Aku menggigil.

Seiring erat peluknya, cahayanya kian terang. Menyilaukan. Kupejamkan mata dalam satu tarikan napas untuk menghalau silau. Saat kubuka mataku, aku tak lagi telanjang dan matahari masuk ke kamarku diam-diam, silau.

Ah, celanaku basah. Aku merasa aneh meski orang-orang menganggapnya lumrah.

[Andi Gunawan, Jakarta, 21 September 2011]

Mencari Jalan

Pria itu mulai tunduk setelah pagutan pertama. Ia menyerah saat aku melucuti pakaiannya, satu per satu. Bibirnya masih berkutat di bibirku saat ia melakukan hal yang sama, menelanjangiku. Tanganku mengencang di bahunya, menghadapkan punggungnya ke cermin. Di sana, aku semakin mendekati tujuanku. Aku bersama orang yang tepat.

Aku tak menolak dilemparnya ke ranjang. Telah kusiapkan hadiah untuknya di bawah bantal. Perkakas yang akan mengantarku pada kejayaan.

Tubuhku terduduk di atas perutnya dan ciuman kami menghasilkan desahan setiap matanya terbuka-menutup.  Tangan kananku menelusup ke balik bantal. Setelahnya, pisau menancap tegas di dada kirinya. Ia mandi darah, menuju neraka.

Perlahan, kubalikkan tubuh kaku itu dan bersiap menguliti punggungnya. Sebuah jalan terbuka lebar untukku.

[AG, Mei 2011]

*ilustrasi diunduh dari sini.