Archive for the ‘ Fiksi Pendek ’ Category

Balada Dua Janda

George Romney

George Romney*

Saya terkejut saat sedang merancang sebuah kejutan. Tentang pura-pura marah saat Wiranto terlambat pulang dari bekerja yang akan saya akhiri dengan sebuah pengakuan manis: “Saya hamil.”

Kalimat itu tak pernah tumpah dari mulut ini. Saya melihat Wiranto menggandeng mesra seorang perempuan masuk ke minimarket tak jauh dari tempat praktik bidan. Kami resmi bercerai sebulan kemudian. Setelah hari itu, saya baru paham bahwa kejutan tak melulu menyenangkan.

***

Ada waktu memulai, ada waktu untuk selesai. Begitulah seharusnya saya menyadari peran dari sebuah sikap. Saya telah memulai sebuah kebohongan, secara sadar. Sesadar saya meyakini bahwa kebenaran punya waktunya sendiri untuk menampakkan diri. Saya akan menampakkan diri. Saya akan pulang.

Sudah sewindu saya tak pulang ke rumah Ibu. Bukan karena saya menjalani peran Malin Kundang selama itu, namun selama itulah saya bersusah payah mengumpulkan keberanian. Sebab nekat seringkali adalah upaya menggali kubur sendiri, maka saya memilih menjadi lemah. Sekarang saya sudah cukup kuat. Mungkin. Setidaknya saya tak sendirian. Saya telah punya pengganti Wiranto dan siap mengenalkannya kepada Ibu.

Sepanjang perjalanan menuju rumah Ibu, kepala saya sibuk memikirkan kemarahannya. Ibu bukan janda pemarah. Namun, seperti yang kau tahu, seorang pendiam biasanya sangat kacau ketika menemukan alasan untuk marah. Ia bisa jadi apa saja yang terburuk yang bisa kaubayangkan. Continue reading

Dalam Perjalanan Pulang

“Mbah…!”

Aku mendengar suara seseorang memanggil dari luar. Ranting-ranting kayu bakar yang sedang kususun kutinggalkan. Aku beranjak ke luar, melintasi ruang tengah yang hampa, menuju asal suara.

“Mbaaah!”

Suaranya terdengar sekali lagi, kali ini lebih tegas. Aku bergegas. Ketukan terdengar bertalu seiring suara hujan serta angin menderu. Sejak pagi, hujan tiada henti.

Sudah lama tak ada yang mengetuk pintuku. Sejak dua anak perempuanku mekar dan berkembang jadi ibu. Aku, nenek tua yang sedang merindukan cucu-cucunya.

Aku ingat betul bagaimana terakhir kali kami berkumpul sebagai keluarga, dua tahun silam. Sebuah ritual lebaran yang tak ingin kuulang. Benar saja, tak ada yang datang setahun kemudian. Idul Fitri hanya kurayakan berdua dengan suamiku, di pusaranya.

“Pak, pagi tadi aku menikmati opor ayam sendirian. Tak ada perayaan. Tak ada anak cucu kesayangan. Mereka menjadi orang asing bagi saudaranya sendiri. Hardiklah mereka untuk kembali.” Di sela air mataku yang tegak menghangatkan pipi, aku memohon pada nisan mati. Permohonan yang jadi doa, kurapalkan di setiap usai sujudku. Continue reading