Archive for the ‘ Liris ’ Category

Dua Stoples Kenangan

Ilustrasi: Ellena

Senin yang dingin membuatku malas mencuci muka. Sebuah ingatan terpaksa tinggal lebih lama. Ingatan tentang Senin yang luka oleh aku yang muda dan terburu-buru.

Telah lama kau menjadi kupu-kupu di rumahku sebelum berterbangan di bukit luas bernama masa lalu. Di sana, kau sibuk mengitari bayang-bayang yang lebih gelap dari padam lampu. Menari di atas danau kenangan yang lebih keruh dari keluh janda-janda kota.

Saat sedang lelah di pucuk rendah pinus aku berhasil memeluk dan membawamu pulang. Pelukan yang asing dan asin sebab kau tak berhenti menangis sepanjang jalan ke rumahku. Rumah bercat putih pudar membosankan berbau apak.

Jendela-jendela berkarat dan segala pintu kututup rapat sebab aku enggan menaruhmu dalam stoples kaca. Satu-satunya stoples bekas isi nastar pemberian seorang yang dulu mengaku kekasihku. Seorang yang dibawa pergi kupu-kupu dari taman bunga yang tak pernah kukunjungi.

Sejak hari itu kau selalu beterbangan di dalam rumahku. Menyinggahi apa saja. Pigura-pigura berdebu bergambar senyum yang telah dimakamkan. Ranjang berlubang mahasepi. Juga gelas piring sendok yang selalu kucuci sendiri setelah menu-menu hambar tertelan. Aku berpikir kau telah mengenalku dengan sangat baik dari setiap sisi rumahku yang kausinggahi.

Lalu Senin malam yang lapar dan pasar kerlap-kerlip di pusat kota menggodaku. Setelah mengunci pintu aku berlari menuju ramai pasar malam. Tak kutemukan apa-apa di sana selain kesunyian yang lain dan stoples baru berwarna biru tembus pandang untukmu.

Aku pulang memandang cat putih semakin pudar dan rumah diserang hawa dingin mahadahsyat. Aku lupa menutup jendela dan dua stoples tak cukup menampung air mata.

(Depok 2012)

Balada Pohon Mangga

 
Tell me his name I want to know
The way he looks and where you go
I need to see his face, I need to understand
Why you and I came to an end*
 

Aku tahu apa yang terjadi. Pada mulanya, namaku yang selalu kausebut-sebut saat malam mulai tinggi tapi kantuk belum juga menggantung di matamu. Pada mulanya, potretku yang selalu kautatap lekat-lekat saat kerinduan bertamu ke dadamu sebab hujan deras sekali; jalanan macet sekali; atau pekerjaan banyak sekali mengurungku di kantor. Pada mulanya, akulah tujuan pulangmu setelah berpergian ke mana saja: ke taman kota, ke kampung halaman, ke tempat-tempat asing yang membuatmu penasaran. Aku tahu, seseorang telah membuatmu begitu penasaran. Siapa namanya? Continue reading

Rindu yang Tinggal dan Tanggal

Tinggal? Tanggal?

Rindu adalah kediaman. Tempat segala doa tentangmu tinggal, dan menunggu pengabulan. Rindu adalah bocah yang tak berhenti mengaduh menunggu gulali sampai ke genggamannya. Rindu adalah cangkir kopiku yang kehilangan bibirmu. Tempat kita pernah saling berbagi hangat. Rindu adalah sebuah keyakinan dan aku tak perlu mati demi merasakan surga. Ia ada dalam setiap pertemuan kita. Rindu adalah pintu yang terbuka. Menunggu angin datang dengan sebuah pelukan. Rindu adalah lagu-lagu cinta yang merdunya kaubawa pergi. Lekaslah pulang, dan kita akan berdansa, lagi. Rindu adalah sebuah roman yang terbaca, yang halaman terakhirnya ada padamu. Tamatkanlah.

Rindu adalah setiap pagi saat matahari menjadi dingin, dan membekukan kata-kata. Secangkir kopi, roti isi, dan waktu yang melambat pada ingatan tentangmu.

Selalu ada kali pertama. Kali ini tentang rela-merelakan.


——————————————————————–

*ilustrasi diunduh dari sini.

Di Ruang Tunggu

Aku tak pernah bosan berkaca di matamu. Meski kadang buram, ia selalu membuka pintu.

Suatu kali, mataku tak berhenti bergerak membaca gerakmu dan aku tak menemukan apa-apa. Seharusnya aku menunduk. Kau telah sampai di dada. Bisa jadi telingamu bosan dengar bising dadaku. Tak ada yang perlu engkau simak. Duduk saja. Maka, tak akan lagi sesak.

Ada yang tak pernah berhenti berkumpul, seperti tik-tok jam dinding.

————————————–

[AG, Depok, Oktober 2011]

*Ilustrasi diunduh dari sini

Murtad

Pada suatu lalu, aku adalah anak ibu yang mengimani kesendirian. Sendiri, cukup. Cukup sendiri. Aku hampir tak pernah mempertanyakan atap lain yang menaungi kepala bapakku saat ibuku sendirian. Tak pernah mengeluhkan matahari yang membuatku selalu mengantuk saat aku sendirian. Aku bukan kaum terkutuk.

Pada suatu kekinian, engkau datang. Bagai malaikat bersayap anomali, engkau bebuat baik tiada henti. Bagai bulir yang menetas, mengalir dari puncak gua, engkau meluruhkan keimananku yang sempat serupa batu. Melubanginya hingga dalam. Aku murtad dari kesendirian.

Pada suatu nanti, manakala namamu tak dapat berhenti dalam doa yang kurapal, aku berterima kasih kepada alam. Putaran semesta telah menempatkan aku dan engkau dalam dua pijakan di persimpangan. Aku tahu aku bisa merusak peta yang kaucipta dan memberimu kompas yang hanya menuju ke arahku, tetapi kemudian aku memutuskan mengimani waktu.

Wak-tu

[AG, Juli-Agustus 2011]

*ilustrasi diunduh dari sini.

Mengabdi Diam

Meski berjalan kaki sepanjang hari, kunikmati. Bersamamu bagai jarang yang hakiki. Mungkin aku tak bisa memelukmu lebih rapat, lebih hangat, tetapi doa baik buatmu kurapal tanpa kenal kiamat. Biarkanlah aku jadi yang setia mengingat hal-hal tentangmu, karena hanya dalam kepala bisa kurengkuh dirimu. Hitam putih punggungmu pun takkan mengaburkan pandanganku buatmu, meski dari jauh.

Aku mencintaimu karena caramu mencintainya. Caramu mencintainya tak meluruhkan caraku mencintaimu. Aku bertahan dalam gagu. Segalanya terlalu logis. Aku mungkin tak bisa bertahan lebih lama, lebih tak mungkin mengharapkan perkara magis.

Jika ternyata cinta ialah kepasrahan, maka aku akan mengabdi kepada diam.

[AG, Jakarta, Juli 2011]

*ilustrasi diunduh dari sini

Kemas Ulang KEJUTAN!

Pada mulanya, Antologi Prosa Kejutan! Adalah bagian dari proyek 99 Writers in 9 Days yang diterbitkan secara mandiri melalui nulisbuku.com pada Oktober 2010. Dengan cara Tuhan, buku ini kemudian diterbitkan dan dikemas ulang oleh LiniKala Publishing, dari 20 judul prosa menjadi 40 judul prosa.

Antologi Prosa KEJUTAN!

Penulis ANDI GUNAWAN Penyunting DANIEL PRASATYO

Ilustrasi Isi GITA LISTYA Desain Sampul PUNGKY PRAYITNO

Penerbit LINIKALA PUBLISHING

MINISINOPSIS

Prosa-prosa dalam Kejutan! adalah cerminan babak-babak dalam drama bernama Kehidupan—sebuah drama mahakejut yang skenarionya tak pernah dapat terbaca. Ditulis sekaligus dalam diksi sederhana dan paradoks-paradoks mengejutkan yang sangat dekat dengan masyarakat. Buku ini akan sampai pada celah terdekat antara logika, rasa, dan realita setelah kau membacanya. Nikmati setiap kejutannya.

TESTIMONI

CERITA yang baik sama sekali tidak ditentukan oleh seberapa banyak kata yang digunakan dalam bercerita—dan buku ini menunjukkannya dengan baik. Sejumlah cerita hanya terdiri dari beberapa kalimat namun menggema begitu panjang seusai kita membacanya.

M. Aan Mansyur, penyair, Makassar.

KEMURAMAN yang indah. Ketika gelap tak selalu kelam, ketika muram tak selalu diam, demikianlah Andi Gunawan menggubah malam menjadi pualam.

Daniel Prasatyo, editor, Jogja.

SATU hal penting dari tulisan Andi Gunawan adalah ia berhasil menyentuh sisi humanis gue. Rasanya mau cepat  mendaratkan kaki di rumah, lalu menghadiahi satu demi satu kecupan di pipi orang-orang tersayang.

Erdian “ANJI” Aji, penulis dan musisi, Jakarta. Continue reading

Dalam Sebuah Ruang Asing

Aku terbangun dan gemetar. Berhadapan dengan kosong yang amat luas, dan gelap. Semoga aku tak bertemu cermin. Cermin memusuhiku seperti semua hal yang ada. Sekalipun sudi bekerja buatku, ia hanya akan memantulkan diriku yang lain. Bayangan itu, separuh diriku yang membenci separuh bagian lainnya. Serupa saudara kembar yang tak pernah akur. Ia sering datang dan menghunjamiku dengan penghakiman yang sudah aku mengerti tanpa ia katakan. Bahwa aku sial, miskin, dan terbuang. Semakin hari semakin tajam. Semakin dekat mengarah ke jantungku. Satu gerakan kecil akan mengakhiri semuanya tapi tak ia lakukan.

Ia tetap setia menghujatku tanpa melakukan hal lain. Mungkin, hanya itu yang ia bisa. Sialnya, ia menguasaiku sejak saat yang tak dapat kuingat. Aku selalu berusaha tak mengingat apa pun. Masa lalu memberiku banyak nyeri yang tak mau kuhitung. Aku bisa mati mengetahuinya.

Aku kalah. Ia mengantarku ke ngarai paling curam yang pernah ada. Aku tahu ia tak ingin membunuhku. Ia ingin melihatku menyerah. Ia ingin melihatku mati karena aku menginginkannya, ia tak memaksa. Aku benar-benar menyerah pada separuh diriku yang sedang tertawa.

“Aku akan melakukannya. Aku harus mati.”

Seharusnya aku berakhir di dasar ngarai jika ia tak menahanku saat itu. “Bodoh! Aku adalah bagian dari dirimu. Kau mati, aku pun mati. Aku tak mau mati dengan cara konyol seperti ini. Lagipula, aku hanya akan membiarkanmu mati jika kau sudah tahu mengapa kau hidup.”

Hari itu aku pulang dan masih hidup. Aku tak pernah bertemu dengannya lagi. Aku tak pernah takut bercermin lagi.

 

[AG, Depok. Maret 2011]

Huru-Hara Hari-Hari

Pagi membuatku duduk teratur. Di ujung ranjang, mengingat mimpi apa yang malam tadi gugur. Tiap malam, satu. Tiap hari, begitu. Kopi ini masih sama. Hitam, masam, juga meninggalkan ampas pada masa lalunya. Mirip aku, menikmati sisa pagi dengan membuntel rapat kenangan. Aku harus membuka jendela, matahari tak mengenal pengecualian. Uapkan. Uapkan.

Seseorang menghardik: jangan rusak pagi dengan kalimat langit yang kosong. Ia barangkali lupa, paginya bukan pagiku. Aku mengalamatkan kalimatku pada cermin agar memantul ia menamparku lalu merahlah pipi. Semerah harap-harap yang kehilangan cermin. Kausebut ini bual, sahihlah. Saat telinga merapat bagi suaramu, bual bisa jadi satu-satunya perkara menyenangkan. Aku membuali kepalaku sendiri.

Siang datang. Bersamanya, gamang. Dalam terang matahari, di celah-celah sempit kota, gelap isi kepala. Di hadapan, jalan seribu. Aku beranjak dan berlari dan tak menemukan apa pun. Aku seharusnya berkaca. Mendung. Di kepala semesta. Di kepalaku.

Di setiap pagi, sibuk pikir bagaimana melewati hari. Sampai pada malam meninggi, kesibukan masih sama. Hanya karena berpikir adalah cuma-cuma. Mengapa manusia harus memikirkan masa depan? Ini lebih menyakitkan dari patah hati paling buruk yang pernah kudengar. Pada akhirnya, aku tahu tak bisa berharap pada malam. Ia sudah cukup baik mengantarku menuju pagi dengan doa-doa tentang esok dan nanti.

 

[AG, Depok, Maret 2011]

 

Selamat Sore, Hujan! Terima Kasih Sudah Menyuburkan Rindu, Kenang, dan Angan.

“Dengar, pergilah sejauh mil-mil terjauh. Pergilah untuk mencari jalan pulang, ke rumahmu, Anakku.”

Telah lama pintuku tak terketuk. Rinduku sampai hingga pucuk. Terkulai pada mahadaya yang terlupa: Gusti. Benih rindu ini, Gusti, mengakar sampai paru. Menyumbat arteri-venaku. Sesak.

Hujan berhasil mengembangbiakan rindu jadi ragu. Bulir-bulirnya bisu, pun aku dalam tunggu. Di mataku, hujan menunggu Kau datang membawa payung Kita. Meneduhkan dahaga akan tunggu.

Sehampar kenang gula-gula, melayang dalam kepala. Merindu masa muda penuh gelora. Tua, terkadang, hanyalah gumpalan sia-sia.

“Aku mau pulang.”

[AG, Depok, Maret 2011]