Archive for the ‘ Info ’ Category

Ada Indah di Setiap Pindah

Waktu adalah hal yang bisa menyapu dan mengantar segalanya. Baik kenangan, maupun perasaan. Baik hal-hal buruk, maupun hal-hal baik. Baik awal maupun kesudahan. Hanya saja, tak banyak manusia yang mau merelakan sedikit detik lebih lama untuk berproses, untuk berani melangkahi sesuatu yang teramat dicintai. Untuk berpindah dari satu pijakan ke pijakan lain yang terasa begitu asing—tapi sesungguhnya adalah rumah yang seharusnya. Karena dalam hidup ini, manusia selalu butuh berpindah. Pindah dari hal-hal yang salah, pindah dari perasaan-perasaan yang keliru. Namun, untuk melakukannya diperlukan keteguhan, dan manusia terlalu tidak sabar menjalaninya; terlalu tidak berani memilihnya.

cover-dpn

Penulis:
Andi Gunawan – Disa Tannos – Falafu – Iyut SF – Lariza Oky Adisty – Lika Wangke – Raditya Nugie – Sammy Sumiarno

ISBN:
979-794-437-9 (10) / 978-979-794-437-7 (13)

Penerbit:
mediakita

Jumlah Halaman:
202 halaman

Sebuah buku kumpulan cerita tentang perpindahan-perpindahan yang tak dapat ditolak. Senang sekali saya bisa menerbitkan buku bersama tujuh penulis muda berbakat ini. Semoga apa yang kami lahirkan bukanlah sebentuk kesia-siaan. Buku ini akan segera hadir di toko buku, namun jika kamu tak sabar memilikinya, silakan melakukan pre-order (tentu dengan harga lebih murah dari harga jual normal) di Buku Plus

Terima kasih.

Seno Gumira Ajidarma: Media sebagai Panglima

Orasi untuk Pesta Media 2013

Seno Gumira Ajidarma (Wikipedia)

Seno Gumira Ajidarma (Wikipedia)

Puan-puan dan Tuan-tuan yang Terhormat,

Media bukanlah kenyataan, media adalah konstruksi kenyataan, dengan pencapaian yang sangat berdaya, sehingga nyaris merupakan ilusi kenyataan yang sempurna. Dalam pencapaian ini, media menjadi situs perjuangan berbagai kelompok, untuk menancapkan versi kenyataan menurut kepentingannya masing-masing, dalam suatu proses hegemoni tanpa akhir. Dalam proses sosial politik semacam itulah, berlangsung perlawanan kelompok terbawahkan maupun negosiasi kelompok dominan terhadap perlawanan itu, agar dalam konsesus sosial dari saat ke saat, dominasi wacana kelompoknya tetap bertahan.

Dalam pemahaman semacam ini, mungkinkah media tetap netral? Seperti telah dibuktikan, ternyata sama sekali tidak—bukan karena media telah mengkhianati cita-cita kelahirannya sendiri, melainkan karena konsep netral memang merupakan mitos yang sudah gugur. Kata netral tetap ada dan akan selalu ada, tetapi yang maknanya menjadi ajang perebutan berbagai kepentingan tersebut, sehingga media manapun akan disebut netral hanya sejauh menguntungkan diri atau kelompoknya. Netral tidaknya media tidaklah melekat dan terdapat pada media itu sendiri, melainkan adalah produksi wacana.

Demikianlah aliran berbagai kepentingan yang berusaha membebankan maknanya sendiri, mulai dari kepentingan ideologis sampai kepentingan finansial, dari saat ke saat membentuk arus berita dengan keterlibatan para wartawan di dalamnya.

Puan-puan dan Tuan-tuan yang Tentu Saja Saya Muliakan,

Menjadi penting untuk mempertanyakan sekarang, pertama, apakah wartawan mengikuti arus? Ataukah, kedua, para wartawan setidaknya berusaha menentukan ke mana arus berita bisa dibawa? Continue reading

11 Alasan Tolak RUU Ormas

Rancangan Undang-Undang Organisasi Kemasyarakatan [RUU Ormas*] konon akan disahkan 25 Juni 2013. Kabar ini saya dapat dari mengikuti tweet di akun @RikaNova. “Jangan cuma ribut BBM. Kalau sudah sah, kalian yang demo BBM bakal ditangkapi! Menurut RUU Ormas, demo adalah tindakan politis yang berpotensi memengaruhi kebijakan. Baru merencanakan demo saja, bisa-bisa kita dipenjara. Penundaan pengesahan Ferbuari lalu cuma akal-akalan DPR untuk buying time. Pas kita ribut BBM begini, mereka bermanuver. Ayo tolak RUU Ormas! Kalau memang tak ada yang bergerak, apa artinya kelas menengah lebih suka  dibungkam seperti masa diktatornya Soeharto?” demikian saya menyarikan apa yang disampaikan Rika Nova melalui akun Twitternya (19/6).

Sebelum meneruskan membaca catatan ini, saya hanya pembaca tahu bahwa ini adalah catatan cukup panjang dan mungkin membosankan untuk sebagian orang. Namun demi hari depan yang lebih baik, saya harus tetap mencatatnya. Mari kita lanjutkan.

(fokusjakbar.com)

(fokusjakbar.com)

2011, RUU Ormas didengungkan dengan alasan menghalau organisasi macam FPI  [Front Pembela Islam] yang seringkali rusuh. Alasan tersebut dinilai Rika tidak relevan, toh ada KUHAP dan KUHP. Pertanyannya: Berani atau tidak?

RUU Ormas juga berpotensi halau organisasi ‘galak’ macam ICW [Indonesia Corruption Watch] dan KONTRAS [Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan]. “Ada KONTRAS saja kasus Munir atau Marsinah tidak tuntas, apalagi tidak ada?” imbuh Rika. Lalu, ICW tidak punya banyak cabang di daerah, maka ICW tidak boleh jadi organisasi skala nasional menurut RUU Ormas. Menyeramkan! Continue reading

Tentang Dunia di Dalam Mata

 
Ada dua? Tuhan berdoa. ~ @sisogi
 
Walaupun hanya empat kata, namun sungguh memantik imajinasi dan kaya penafsiran. Ini adalah fiksimini. Karya fiksi kurang dari 140 karakter yang dimuat di akun twitter @fiksimini. Tidak ada rumusan khusus, karya seperti apa yang layak di-retweet akun @fiksimini. Namun Agus Noor merumuskan dalam bentuk diktum fiksimini:
  •  Cerita yang menohok, seperti satu pukulan tinju yang telak.
  • Cerita yang berkelebat seperti bayangan, yang terus menempel di benak pembaca.
  • Cerita yang dengan seminim mungkin kata, namun menggambarkan dunia seluas-luasnya.
Agus Noor adalah penggagas Fiksimini, bersama Clara Ng dan Eka Kurniawan mengaktifkan akun @fiksimini sejak 18 April 2010. Sebelum akun @fiksimini dibuat, twitter diramaikan hastag #fiksimini, celotehan cerita fiksi. Seperti virus menyebar dan menular, membuat banyak orang ikut bermain-main kata dan imajinasi. Fiksimini menjadi buah bibir setelah diberitakan lewat kolom sastra dan budaya Harian Kompas edisi 11 April 2010. Dalam perkembangannya, Fiksimini tidak hanya ruang kecil di dunia maya, namun menjadi komunitas yang menghasilkan karya. Tidak hanya dalam bentuk tulisan, beberapa karya Fiksimini telah dikembangkan menjadi gubahan lagu dan film pendek.

Take A Closer Look: S4 is Here

 

Hidup adalah soal bertahan hidup. Untuk bertahan, kita mesti mampu beradaptasi. Salah satunya beradaptasi terhadap teknologi. Seorang kawan sempat bilang, “Kalau mau maju, ciptakan teknologi atau setidaknya jangan menutup mata pada perkembangan teknologi.” Saya memilih yang kedua.

Kemarin, Kamis, 2 Mei 2013, saya menjadi saksi lahirnya salah satu teknologi mutakhir. Setelah menampakkan diri di New York pada Maret lalu, akhirnya Samsung Electronics meluncurkan generasi ponsel pintar terbarunya, Galaxy S4, di Indonesia. Seisi Ballroom Grand Hyatt Jakarta dibuat terkesima dengan kecanggihan yang ditawarkan oleh ponsel seharga Rp7.499.000,- ini. Mahal? Ya! Apakah harganya layak? Let’s take a closer look!

 s4-1

Sungguh saya berterima kasih kepada PT. Samsung Electronics Indonesia yang mengenalkan Galaxy S4 dengan cara menyenangkan dan mudah dipahami oleh orang gagap teknologi macam saya. Perpaduan multimedia dan pantomim membuat lebih banyak pengunjung mengangguk tanda mengerti ketimbang mengernyitkan dahi tanda sebaliknya. Pilihan yang cerdas.

Don’t judge a book by its cover berlaku hari itu. Awalnya saya kira ponsel ini tak jauh berbeda dengan generasi sebelumnya karena tampilannya sekilas amat persis dengan Galaxy S3. Setelah dinyalakan, ternyata saya salah. Layarnya yang 5 inci dan memiliki 441ppi ditambah Full HD Super Amoled memberikan tampilan yang kece. Tajam betul! Barangkali lebih tajam daripada kenyataan hari ini diputusin dan dia punya pacar baru esoknya. Apa? Saya berlebihan? Baru putus, ya? Fufufu. Continue reading

Saya Cinta Indonesia, Kamu?

Barangkali, Anda bertanya-tanya: siapa sih Andi Gunawan? Apa pentingnya dia menulis soal Indonesia? Ya, saya bukan tokoh yang paling mengerti negara ini. Saya hanya seorang bocah yang ditakdirkan bertemu dengan Agus Wahadyo, laki-laki-unyu-sok-akrab-yang-ternyata-editor. Kalau saja dia tak berusaha sok akrab hari itu, mungkin tidak akan pernah ada buku ini. Ha-ha-ha.

Saya yakin kamu termasuk orang yang seringkali mengeluhkan berbagai ihwal yang terjadi di tanah yang kita jejaki bersama ini. Pun saya. Saya mengeluh karena saya memerhatikan. Saya memerhatikan karena saya peduli. Itu satu-satunya alasan mengapa saya bergabung dalam proyek penulisan buku ini.

Apa yang saya tulis bukan sesuatu yang paling benar. Bukan pemikiran yang paling baik. Namun inilah cara saya berkontribusi memikirkan ulang apa-apa yang (mungkin) diabaikan banyak orang, dan menuliskannya sebagai sesuatu yang patut diingat. Kenapa kita mesti mengingat? Biar tetap merasa waras. Biar tidak merasa sendirian karena ternyata ada orang lain yang juga memikirkan hal yang sama. You never walk alone, istilah kerennya.

Berikut ringkasan tentang buku baru yang saya tulis bersama tiga rekan comic lainnya: Continue reading

Undangan Terbuka: Antologi Mencatat Perempuan

Hai.

Apa kabar teman-teman? Semoga semua baik-baik saja, meski kita sama tahu menjadi baik-baik saja bukan perkara mudah. Selalu ada saja yang mengganjal di antara hal-hal baik. Sungguh, kadang pikiran tak melulu dapat tersampaikan dengan baik melalui ucapan. Maka, mari tuliskan.

Sudah sejak lama saya ingin membuat sesuatu untuk perempuan. Perempuan adalah perkara yang tak pernah membuat saya bosan berpikir. Juga, perempuanlah yang mengajarkan saya bagaimana berpikir.

21 April, seperti yang kita ketahui, merupakan Hari Kartini. Sebetulnya tak ada pembeda besar dengan hari lainnya, ini perkara momentum. Menjelang Hari Kartini 2012, yang identik dengan sosok perempuan, saya–melalui blog ini, Opera Aksara–ingin mengajak siapa saja mencatat.

Sebut saja ini sebagai Antologi Mencatat Perempuan.

 

Berikut ketentuannya:

  1. Catatan bersifat fiksi, berbentuk cerita pendek.
  2. Tema umum: Perempuan, tema khusus: silakan bebaskan pikirannu, biar tak lagi ada yang mengganjal.
  3. Panjang cerita berkisar 3-7 halaman A4, diketik menggunakan Times New Roman dengan ukuran 12 berspasi 1,5.
  4. Siapa saja boleh mengirimkan ceritanya, tanpa batasab jenis kelamin atau apapun, dengan syarat tidak lebih dari 2 judul per orang.
  5. Lampirkan naskahmu dengan format .doc dan kirimkan via e-mail ke alamat: ndigun@gmail.com dengan subyek “Untuk Perempuan.”
  6. Dalam badan e-mail, tuliskan namamu, nomor telpon, dan akun Twitter [jika ada].
  7. Naskah ditunggu hingga tanggal 5 April 2012, pukul 23:59 WIB.
  8. 21 naskah akan segera dibukukan untuk perempuan-perempuan dalam hidupmu, sebagai tanda terima kasih.
  9. Hingga pengumuman ini disampaikan, belum ada hadiah untuk tulisan terpilih kecuali masing-masing akan mendapatkan 1 eksemplar gratis buku antologi ini. Doakan saja ada yang berbaik hati menyediakan hadiah.
  10. Jika ada pertanyaan lanjutan, silakan sampaikan dalam kolom komentar di bawah tulisan ini, atau via Twitter di akun @ndigun

Selamat mencatat! 🙂

——————————–

*ilustrasi diunduh dari sini.