Archive for the ‘ Ulasan ’ Category

Lima Cara Memeluk Diri Sendiri

Bisa dipastikan, siapa saja akan mengeluh jika daya baterai ponselnya melemah sementara mereka tak membawa charger. Ini sudah menjadi semacam pengetahuan umum. Seperti halnya daya baterai ponsel, semangat seseorang  juga perlu diisi ulang supaya tetap terjaga performanya. Menyemangati orang lain seringkali lebih mudah ketimbang menyemangati diri sendiri. Berbahagialah mereka yang mampu menjaga semangat dirinya secara baik.

Saat ini, saya sedang mengalami apa yang disebut orang sebagai quarter life crisis. Usia saya 25 tahun, tidak memiliki pekerjaan tetap, lajang, dan butuh asupan semangat yang lebih dari sebelumnya agar saya tetap waras. Alih-alih memohon orang lain untuk memberi saya semangat ekstra, saya memilih untuk mengingat apa saja yang pernah saya lakukan untuk mengisi ulang semangat. Kemudian saya brpikir, mengapa saya tidak mengulangi cara yang pernah saya lakukan saja daripada sibuk merepotkan orang lain yang mungkin justru perlu bantuan yang lebih besar. Setiap bahu menopang bebannya masing-masing, bukan?

Semampu saya dapat mengingat, inilah cara saya memeluk diri sendiri untuk megisi ulang semangat:

Mencatat. Saya gemar mencatat hal dan peristiwa baik yang pernah saya alami. Bukan untuk disiarkan kepada sebanyak-banyaknya orang kemudian jadi ajang pamer bahwa saya pernah bahagia, namun untuk pengingat. Pengingat bahwa hidup saya tak melulu berisi hal-hal buruk yang bikin saya merasa sebagai orang paling sial sedunia. Mencatat adalah pekerjaan mengingat kembali. Setelah mencatat, saya jadi ingat bahwa saya punya banyak hal yang patut saya syukuri. Terdengar klise memang, tapi saat kau tahu kau pernah merasa baik-baik saja, maka keyakinan menjadi baik-baik saja di kemudian hari akan tumbuh dengan sendirinya. Setidaknya ini bekerja pada saya.

Melancong ke Umang

Melancong ke Umang

Continue reading

Stand Up Fest: Lebih dari Sekadar Hiburan

Perkenalan saya dengan stand up comedy terjadi saat saya sedang jenuh bekerja sebagai wartawan majalah korporat. Sebuah pranala muncul di timeline Twitter. Saya klik, dan terhibur. Sebuah video open mic (latihan) stand up comedy Raditya Dika di Comedy Café Kemang cukup menghibur sekaligus bikin saya berpikir: Apa yang sebenarnya ia lakukan?

Kilas Balik

Selanjutnya, saya menonton satu per satu video yang diunggah oleh @StandUpIndo di akun YouTube-nya dan mulai mengikuti akun Twitternya untuk mencari tahu lebih banyak perihal stand up comedy. Seperti halnya orang lain, saya juga tidak mau ketinggalan zaman. Akhirnya saya berhasil menonton langsung pertunjukan stand up comedy untuk pertama kalinya di Rolling Stone Café, Kemang, 17 Agustus 2011.

Malam itu saya terkesan dengan penampilan Miund. Bukan berarti comic lainnya tidak lucu, hanya saja kesan adalah perkara personal. Setelah menonton langsung, saya merasa bisa melakukan apa yang mereka lakukan di atas panggung itu. Ternyata saya salah. Ternyata stand up comedy bukanlah persoalan mudah. Ternyata stand up comedy lebih dari sekadar berdiri di atas panggung lalu mencoba melucu.

Chatter Box, La Piazza, Kelapa Gading adalah tempat pertama kali saya mencoba open mic. Saat itu saya sedang memenuhi undangan peluncuran sebuah website yang menghadirkan Pandji sebagai bintang tamu sekaligus penghibur. Pandji stand up comedy selama 30 menit dan membuka sesi open mic yang dilombakan malam itu. Saya kalah, tentu saja. Malam itu juga pertama kalinya saya bertemu dengan Krisna Harefa—ia yang memenangkan sesi open mic. Seorang comic muda berbakat yang akan menggelar special show pertamanya dengan tajuk Ruang Tamu pada September mendatang.

Setelah malam itu, saya hampir selalu ke Comedy Café Kemang setiap Rabu malam usai bekerja, untuk berlatih stand up comedy. Di sana, saya cukup rutin melakukan open mic bersama Sammy Notaslimboy, Pandji, Krisna Harefa, Rindra, Luqman Baehaqi, Adriano Qalbi, Kukuh, Kemal Palevi, Reggy Hasibuan dan sederet comic lain yang hari ini telah begitu tersohor.

Dari sekian banyak sesi open mic yang saya ikuti, open mic di Es Teler 77 Adityawarman adalah sejarah tersendiri bagi saya. Di sanalah kali pertama saya menjumpai Adjis Doaibu yang kelak menjadi juara Street Comedy 1, sementara saya sekadar finalis dengan pelantang suara yang sempat mati. Harus diakui, saya dan Adjis adalah dua comic paling pecah sekaligus mendapat standing ovation terbanyak pada sesi open mic hari itu. Namun selanjutnya adalah fakta yang tak bisa dihindari, bahwa menjadi lucu sekali mungkin mudah, tapi untuk menjadi lucu berkali-kali? Try harder! Continue reading

Cinta dari Wamena: Cinta untuk Semua

Beberapa kawan saya mengidap HIV. Sebagian dari mereka mampu bertahan hidup secara baik karena mampu mengakses informasi dan kebutuhan medis HIV/Aids. Sayangnya tak semua orang mempunyai kemudahan akses tersebut, telebih mereka yang tinggal di pelosok desa. Lalu bagaimana caranya supaya para pengidap vitus mematikan ini mengetahui apa yang sebenarnya sedang menggerogoti tubuh dan hidup mereka?

Mengenal HIV/Aids

HIV/Aids merupakan infeksi pembunuh nomor satu di dunia. Menurut data yang dilansir World Health Organization (WHO), saat ini terdapat 34 juta orang hidup dengan HIV/Aids. Itu adalah jumlah yang berhasil terdata. Saya tidak sanggup membayangkan jumlah yang belum terdata.

Jumlah pengidap HIV/Aids tersebut tentu akan terus bertambah mengingat saat ini belum ditemukan obat penyembuhnya. Seingat saya, saat ini hanya tersedia sebatas pencegah virus HIV/Aids untuk berkembang biak dalam tubuh manusia, Antiretrovival Therapy (ART) – mohon koreksi jika saya salah. JIka proses reproduksi virus HIV/Aids ini berhenti, maka sistem imun dalam tubuh penderita akan bertahan lebih lama dan dapat melindungi pasien dari infeksi lain. Beberapa rumah sakit di Indonesia sudah menyediakan obat ini. Namun menurut data WHO lagi, hanya 54% penderita HIV/Aids memiliki akses terhadap ART. Bagaimana dengan sisanya? Continue reading

Menarikan Perlawanan

Pada mulanya, saya hampir selalu takut tiap kali bertemu dengan orang asing. Takut mereka tak bisa menerima saya apa adanya, sebab tidak sedikit yang menganggap saya ini tidak normal. Tidak normal menurut subjektivitas kolektif. Namun, Kamis, 14 Februari 2013 ialah hari yang sungguh berbeda. Di tengah ratusan orang asing yang baru saya temui di Monas hari itu, saya merasa begitu nyaman. Begitu bebas bersuara dan bergerak. Hari itu, kami tidak berkumpul untuk merayakan Valentine. Sekalipun ada yang kami rayakan, ialah kesetaraan. Ratusan orang–lelaki, perempuan, waria, tua, muda, lesbian, gay, biseksual, hitam, putih, berkumpul dan menari.

OBR Indonesia [Yose Riandi]

OBR Indonesia [Captured by Yose Riandi]

Kami ialah orang-orang yang resah. Saat orang-orang resah berkumpul, maka lahirlah sebuah pergerakan. One Billion Rising merupakan gerakan global yang menyerukan kampanye antiperkosaan dan kekerasan terhadap perempuan. Entah berapa banyak yang hari itu menari di 11 kota di Indonesia dan banyak kota di 202 negara. Menarikan perlawanan.

Saat saya dan tim One Billion Rising Indonesia sedang menyiapkan aksi ini, sebuah pertanyaan skeptis muncul: Melawan dengan tarian? Memangnya dengan menari bisa hentikan perkosaan? Tentu, menari tidak menghentikan perkosaan. Namun dengan mengajak sebanyak-banyaknya orang menari, kami berharap dapat menumbuhkan kesadaran kolektif akan pentingnya kesetaraan dan tidak pentingnya kekerasan. Bukankah setiap tubuh berhak merasa aman?

Melawan kekerasan tidak harus dengan kekerasan atau semuanya akan berakhir jadi abu. Saya sepakat pada apa yang dikatakan Kartika Jahja saat berdialog mengenai Diskriminasi Terhadap Perempuan sebagai Salah Satu Bentuk Kekerasan di Coffee War, Kemang (9/2), “Saya meyakini perlawanan dengan merangkul lengan, bukan dengan mengepalkan tangan.” Jadi, kalau kita bisa saling peluk, kenapa harus saling tunjuk?

STRIKE! [Captured by Gyrass]

DANCE! [Captured by Advena]

DANCE! [Photo by Advena]

obr by jose 2

RISE! [Captured by Yose Riandi]

One Billion Rising Indonesia ialah gerakan dari kita untuk kita tanpa bendera organisasi atau institusi apapun. Hanya ada satu bendera: kesetaraan. Semua dana yang digunakan untuk kegiatan ini berasal dari penjualan kaos dan sumbangan orang-orang yang peduli pentingnya hidup saling mengasihi. Maka kepada siapapun yang telah mendukung aksi ini, saya mengucapkan terima kasih. Terima kasih telah ambil bagian untuk bangkit bersama melawan kekerasan. Semoga ini bisa menjadi awal yang baik untuk hidup yang lebih baik. Mari bangkit!

BANGKIT! [Photo by Gyrass]

BANGKIT! [Captured by Gyrass]

Lawan Perkosaan! [Designed by Metavana]

Lawan Perkosaan! [Designed by Metavana]

I am rising because women are not men’s attribute. Vice versa!

Pancoran, 16 Februari 2013

————————————–

Pemberitaan aksi OBR Indonesia dapat dibaca di: ALJAZEERA | The Jakarta Post | Kompas.com | Surya Online | Bangka Pos | Bulgarian New Agency | Metro TV | Tempo | Lensa Indonesa | The Christian Science Monitor | Guardian 

Merayakan Pelukan

Menulis puisi sama dengan memeluk.

Ada yang lebih luas dari sekadar kata-kata dalam kalimat tersebut. Kalimat yang sering diungkapkan Aan Mansyur dalam berbagai kesempatan tersebut tanpa terduga memantik gagasan lahirnya buku himpunan puisi ini.

Jika menulis puisi sama dengan memeluk dan membacanya sama dengan membalas pelukan, alangkah banyak pelukan yang saling menghangatkan yang tentunya melebihi kemampuan sepasang lengan untuk melakukannya. Namun demikian, buku puisi yang seharusnya menjadi media pertemuan yang menyenangkan dianggap sulit lahir.

Begitulah penggalan pengantar yang saya sampaikan di acara perayaan terbitnya buku antologi puisi Merentang Pelukan, Kamis (13/12), di Coffee Toffee Hang Lekir. Saya lebih suka menyuka menyebutnya perayaan ketimbang peluncuran. Sesuatu yang meluncur akan berhenti pada akhirnya, sementara puisi, menurut saya, akan selalu ada sampai semesta padam. 

Para Agen Peluk

Para Agen Peluk

Banyak kejutan malam itu. Kejutan-kejutan yang menyenangkan. Saya tidak menduga kegiatan berpuisi akan seramai ini, apalagi di Jakarta. Saya tidak menghitung, tapi sepertinya lebih dari 100 orang datang. Meski saya yakin tak semuanya datang untuk mengapresiasi puisi, namun saya bahagia.

Saya bahagia karena beberapa mau bertahan berdiri karena tak dapat kursi, padahal sudah disediakan beberapa kursi tambahan. Saya bahagia karena semua berjalan cukup tepat waktu. Saya senang karena dengan tidak sengaja telah mengenalkan puisi kepada beberapa orang yang asing dengan puisi. Saya bahagia melihat orang-orang menikmati puisi sebagai sesuatu yang tidak membosankan. Continue reading

Mencatat Ulang Tokoh-Tokoh yang Merobohkan Surau

Saya suka membaca tetapi tidak banyak membaca. Sebagai seorang pembaca, saya termasuk golongan pemalas. Lebih suka membaca cerita-cerita pendek ketimbang novel yang lebih panjang. Barangkali karena ingatan saya tak sebaik kebanyakan orang. Sebab itu saya memilih cerita pendek untuk tugas pertama Kelas Anggit Narasoma ini. Setelah ingatan saya bekerja cukup keras, beberapa nama tokoh dari beberapa cerpen yang saya baca berbaris dalam kepala saya. Ajo Sidi di barisan terdepan. Mantap tanpa gelagap, saya mencari kliping yang saya dapat saat mengikuti pelatihan Gerakan Indonesia Membaca Sastra. Cerpen Robohnya Surau Kami ada di sana, karya Ali Akbar Navis.

Saat sepi, saya gemar berandai melakukan dialog dengan Tuhan yang entah wujudnya. Mungkin kegemaran ini yang membuat cerpen Robohnya Surau Kami menjadi satu dari sedikit hal yang paling saya ingat. Terdapat dialog dengan Tuhan dalam cerpen itu. Dialog yang membuat saya jatuh cinta pada pembacaan pertama. Saya jatuh cinta kepada A.A. Navis.

Dalam cerpen Robohnya Surau Kami, Navis bercerita perihal kematian tragis seorang Kakek penjaga surau (musholla)—garin. Siapa menyangka seorang Kakek yang tekun beribadah akan mati dengan menggorok lehernya sendiri menggunakan pisau asahannya? Navis mengisah­kannya dengan kata-kata amat satir dan cenderung ceplas-ceplos mencemooh kolotnya pikiran manusia.

Karena tugas ini adalah soal membaca penokohan, maka berikut ini adalah tokoh-tokoh yang terdapat dalam Robohnya Surau Kami—sesuai yang tertangkap dalam mata baca saya yang terbatas:

1

Aku. Tokoh “Aku” muncul sebagai pengisah. Penutur cerita yang digambarkan Navis sebagai seorang yang ingin tahu perkara orang lain. Perangainya ini dibuktikan dengan pertanyaan-pertanyaan yang diajukannya kepada Kakek perihal cerita Ajo Sidi. Alih-alih menghilangkan rasa penasaran, ia juga seorang pendengar yang baik. Ia tidak banyak memotong saat Kakek sedang menceritakan kesedihannya. Dari mulut tokoh “Aku” ini pembaca tahu bagaimana tragisnya kematian si Kakek. Selain suka ingin tahu urusan orang lain, tokoh “Aku” ini cukup perhatian. Saya mendapat perhatiannya. Apa yang dilakukannya setelah mendengar kabar kematian Kakek adalah sebuah perhatian khusus. Continue reading

Menggerakkan Pendidikan

apa gunanya banyak baca buku,
kalau mulut kau bungkam melulu
–Wiji Thukul

“Perubahan tidak akan terjadi jika kita tidak mau belajar,” ucap Ainun Chomsun, Sabtu (1/9) dari atas panggung Teater Bulungan. Kalimat tersebut menutup kelas umum Taman Pembelajaran untuk Perubahan yang digelar dalam rangka peringatan tahun kedua Akademi Berbagi.

Juni 2010, tanpa niat muluk selain ingin belajar, Ainun mengumpulkan beberapa temannya yang berminat memelajari copywriting melalui media sosial Twitter. Subiakto jadi gurunya, gratis. Sesederhana itulah Akademi Berbagi kemudian berkembang, karena keinginan untuk terus belajar.

Dua tahun Akademi Berbagi/ @ms_renny

Dalam kelas akbar yang menyerupai kuliah umum tersebut, Anies Baswedan, rektor Universitas Paramadina berbagi pandangannya mengenai dunia pendidikan di Indonesia. Di hadapan ratusan murid Akademi berbagi, Anies Baswedan dengan mantap mengajak siapa saja untuk menjadikan pendidikan sebagai sebuah gerakan, bukan sebuah program.

“Ini (pendidikan) masalah bersama, bukan sekadar tantangan pemerintah. Pendidikan adalah eskalator sosial dan ekonomi. Akses yang semestinya merata bagi siapa saja supaya setiap orang bisa ‘naik kelas’,” ungkapnya.

Indonesia memiliki populasi yang sangat besar. Setiap tahunnya, sebanyak 4,7 juta anak masuk SD, tetapi hanya 2,3 juta yang lulus di tahun yang sama. 2,4 juta lainnya hilang di jalan. Bayangkan dalam sepuluh tahun, jika ini terus dibiarkan, 24 anak Indonesia akan hilang di jalan. Mereka yang seharusnya jadi modal negara, justru beralih menjadi beban.

“Pendidikan adalah interaksi antarmanusia yang bisa diletakkan di mana saja. Tidak harus di sekolah,” tambahnya lagi. Hari ini, sekolah tak lebih dari sekadar mesin-mesin pencetak ijazah. Yang diburu adalah nilai, bukan kualitas manusianya. Lalu, bagaimana solusinya? Continue reading