Archive for the ‘ Surat ’ Category

Kepada Tuan Penunggu

Hari itu aku datang terlambat dan kau masih di tempat. Tempat aku berjanji akan menemuimu.

Dalam perjalanan, aku memasrahkan diri jika kemudian hanya angin yang kutemui. Namun kau di sana, setia menungguku yang gemar tak menepati waktu. “Aku sudah terbiasa menunggu,” katamu. Aku tahu kau telah menunggu bertahun-tahun kesendirian hingga pertemuan pertama kita, ketidaksengajaan yang amat kusyukuri.

Melalui surat ini, izinkanlah aku berterima kasih karena telah kau curi waktuku yang sedikit ini dan menggantinya dengan kesenangan yang tak dapat dihitung.

Jika pada kemudian hari bukan aku yang kautemui dan itu membuatmu bersedih, ingatlah seseorang pernah begitu bahagia dalam kikuk jumpa pertamanya denganmu, aku. Jika pada kemudian hari tiada lagi yang kau tunggu sebab seseorang yang bukan aku telah membuatmu merasa utuh, ingatlah telah kurelakan kita sebagai singgahmu yang tak dapat kusanggah. Terima kasih sudah bersedia mengenalku di antara banyak kemungkinan yang lebih baik untukmu.

Kau dan aku saling tahu bahwa kita tak lebih dari sekadar kesementaraan yang mengenal usai. Terima kasih telah memulainya, Tuan.

Sejak mengenalmu, aku mengenal aku.

Kepada RW

Saya sedang meminum kopi sembari menanggung rindu kepada kekasih yang jauh dan tak sempurna saat mendengar kabar telah lahir seorang bayi perempuan dari rahimmu yang tangguh. Tak berselang lama, saya teringat saudariku yang lebih jauh dan tak sempurna. Ia suster di Singapura yang meninggalkan empat orang anak di pangkuanku.

Tuti hamil pertama kali sebelum menikah. Kehamilan itu memaksanya menikah dan menjadi istri bagi suami yang kemudian hari gemar memukul dan menelantarkan bocah-bocah tak bersalah. Saya jadi tahu, pernikahan ternyata bukan tujuan melainkan permulaan jalan panjang yang melelahkan. Terberkatilah mereka yang mampu bertahan secara baik.

Kepergian Tuti bekerja demi masa depan anak-anaknya menjadikan saya ibu. Percayalah RW, mengasuh anak bukan pekerjaan mudah. Sayangnya hidup tercipa sepaket dengan kesulitan-kesulitan penuh kejutan. Sungguh saya terkejut mengetahui bagaimana kau diperlakukan oleh pria penyair itu.

Continue reading

Surat untuk Perempuan yang Namanya Ada dalam Tubuhku

Dear Fibula

Aku tak pernah habis pikir mengapa orang tuamu menamaimu begitu. Salah satu bagian tubuh manusia. Salah satu bagian tubuhku. Kau, bukanlah satu-satunya perempuan yang aku cintai. Aku mencintai ibuku lebih dari aku mencintaimu. Tapi kau bisa jadi orang yang paling mempengaruhi keseimbangan pikiran dan perasaanku saat itu. Kau perempuan kedua yang membuatku nyaman berada di sampingnya setelah ibuku

Aku tahu sebenarnya aku tak cukup tahu banyak tentang dirimu. Ironis? Tidak. Itu hal biasa dalam hidup. Aku memahami benar bahwa tak semua hal bisa dan harus diketahui. Bahkan perihal kekasih hati sekalipun.

Aku tak pernah mempertanyakan ketakutanmu pada binatang-binatang. Aku tak pernah menanyakan tentang reaksi spontanmu setiap kali ada tangan jahil menyentuh bagian kecil tubuhmu. Kau begitu sensitif, juga lucu. Aku tak pernah mempertanyakan soal warna ungu kegemaranmu. Aku menerima semua itu sebagai bagian dari dirimu. Bagian yang melengkapi keutuhan hidupmu.

Mengapa kita harus selalu tahu? Setiap orang memiliki sisi yang hanya miliknya dan enggan berbagi pada siapa-siapa. Sisi gelap, terang, abu-abu. Apa kita harus mengetahui semuanya seolah kita punya hak untuk itu? Tidak. Kebenaran punya waktunya sendiri untuk mengungkapkan dirinya. Itu sikapku terhadap segala rahasia yang mungkin kau simpan dariku.

Aku pernah mencintaimu dengan segala teka-teki yang melekat dalam hidupmu. Apa pun itu, karena aku pernah mencintaimu tanpa syarat. Aku pernah mencintaimu bukan karena kau adalah kekasihku. Bukan juga karena kau berada di kedua kakiku. Aku pernah mencintaimu dengan kesadaran. Aku menyadari betul sejuta nyaman yang sempat kau berikan. Ya, aku senang bersamamu.

Seperti yang kubilang soal kebenaran, ia telah memilih waktunya. Kau tahu aku tak akan pernah menikahi gadis mana pun. Kau tahu aku lebih memilih mengencani sesamaku. Semesta telah memanggil dan aku tak bisa bersembunyi lebih lama.

Satu hal yang kau juga perlu tahu: tak pernah ada bual, juga kepura-puraan, saat aku menggenggam tanganmu dulu.

Andi

Menunggu Pintu Terketuk

Mba Iin.

Tempo hari Bapak pulang kerja bawa martabak telur, kehujanan. Keponakan-keponakan kita berebut, takut tak dapat bagian. Uwi sibuk memisahkan daun bawang dari martabak, mirip yang kau lakukan, baru kemudian ia makan. Mendadak, aku dan Ibu saling pandang. Aku dan Ibu mau kamu segera pulang.

O, ya, aku lupa menanyakan, apa kabar Mba? Semoga tak ada lagi lebam di muka. Semoga tak ada lagi tangisanmu di tengah malam buta. Semoga anakmu, Erin, tercukupi asupannya.

Mba, aku tahu kau merasa bersalah. Aku tahu mengawini pria yang tak kauingini itu tak mudah. Aku tak minta kau untuk pasrah. Hanya saja, ini adalah resiko yang harus kau terima. Mungkin, aku lupa mengingatkanmu soal resiko dulu. Bahwa selalu ada resiko tak peduli kecil-besar perilaku. Aku tahu ini bukan pilihanmu. Ini total ego lelaki itu.

Aku masih tak habis pikir tentang caranya memisahkan kau dari keluargamu, dari aku. Aku tak pernah sudi memberinya predikat kakak ipar meski ia ayah dari keponakanku .

Aku sempat kecewa saat kau terakhir pulang. Ternyata, kau masih tak lepas dari monopoli si hidung belang. Kukira, kau tak akan pernah luluh lagi pada si bajingan. Aku tahu kau punya alasan. Perkara anakmu dan sebuah masa depan. Semoga kau tak lagi salah jalan. Aku pesan satu: sejauh apa pun kau mengikuti pria terkutuk itu, aku harap kau tak melupakan jalan pulang. Aku menunggu ketukanmu di pintu, pun Ibu.

Depok, 15 Januari 2011

A, saudara lelakimu

Buat Ani


Selamat menua, Nona!

Enam belas tahun lebih dari sekedar usia. Berhentilah mengeluh soal banyak hal sepele. Jangan hanya berpikir bagaimana tampil kece. Mulailah belajar bersyukur. Belajar menikmati mimpi meski kadang gugur. Dengar, aku tak pernah melarang kau bermimpi. Sesukamu setinggi-tinggi. Tapi ingat soal keterbatasanmu. Aku tak minta kau uapkan mimpimu. Sederhanakan saja semampumu.

Lihat bagaimana saudara-saudara perempuan pendahulumu. Kau tak perlu bersumpah takkan mengulangi kesalahan mereka. Toh, aku tak menghakimi mereka sebagai perempuan-perempuan gagal. Hanya nasib mereka terlampau sial. Aku tahu kau akan menjadi lebih beruntung ketimbang mereka yang masih terlalu muda saat anak-anak lucu itu memanggilnya Ibu. Aku takkan pernah mau lagi ke Pasar Pramuka demi obat peluruh sialan itu. Dosaku sudah menggunung. Aku yakin kau takkan sudi menjadikannya bergunung-gunung.

Belajarlah berdamai dengan dirimu sendiri. Berdamai dengan mulutmu yang kerap memaki. Aku tahu aku tak sempurna, pun dirimu. Berilah keadilan pada waktu. Aku tahu kau muda belia ingin ini, ingin itu, ingin anu. Serahkan semua pada waktu. Kau tak harus menggamit kelamin lawan jenismu jika kau pikir itu belum waktunya. Aku lelaki, aku tahu lelaki. Mereka kadang bisa melancarkan rayu-rayu semerdu dendangan ibu. Yang kau perlu adalah keyakinan soal hari depanmu. Berkacalah pada realita yang lekat tak jauh dari mata hidungmu. Dulu itu kau bagai putri dalam kerajaan bapak ibumu. Apa yang kaumau terhidang dengan cepat tak perlu waktu. Tak ada kerajaan kini. Aku tahu kau tak begitu siap dengan tetek bengek kekurangan di sana di sini. Semua jadi tak seperti yang kaumau.

Pernah tahu badai? Buka buku geografimu kalau kau tak tahu. Anggap saja kita ini sedang diterpa badai entah sampai kapan nanti. Kau juga harus tahu akan ada pelangi saat badai berhenti. Aku tahu kau suka pelangi, pun aku. Merah. Jingga. Kuning. Hijau. Biru. Nila. Ungu. Sewarna-warni lollypop kegemaranmu dulu. Sewarna-warni hidup yang kadang kelabu. Kelabu yang kerap mengundang kau berairmata. Ahh, aku jadi ingat soal air matamu saat kau mengadu pada hujan. Kau tulis begini pada catatan Facebookmu:

di depan teras rumah
kulihat gemericik hujan membasahi bumi
bumi tempat aku berpijak
bumi tempat aku hidup
hidup dalam asuhan kedua orang tua
orang tua yang membimbing aku sampai saat ini
orang tua yang tegar
tegar dalam segala cobaan
cobaan yang mengguyur keluarga kami
aku rasa ini pahit, pahit rasanya
tetapi mereka tetap tersenyum manis menjalaninya
disaat hujan aku berharap
saat hujan berhenti semua itu berakhir
tapi tidak! SAMA !
sama seperti sebelum hujan turun
hambar!

Menangis memang kadang perlu. Tapi kuberi tahu, jangan pernah menangis lagi di hadapan ibu. Aku tahu tangis ibu lebih pecah di hatinya saat tahu salah satu dari kita berair mata. Aku tahu ibu lebih sering menangis di belakang kita entah di mana sambil memikirkan hari depan anak-anaknya. Aku lebih tahu ibu akan selalu ada di garis terdepan menyemangatimu saat senyummu tak terkendali barang sesimpul. Ayolah, jangan buat masa tua ibu menumpul. Kita sama tahu ibu berusaha tegar luar biasa. Kita sama tahu tak bisa setegar ibu. Kita sama tahu ibu senang teramat sangat melihat kita tersenyum.

Belajar juga soal menahan hasrat. Jangan mudah dikalahkan pikiran sesaat. Aku tahu kau terlalu belia. Terlalu bergejolak melihat kawan-kawanmu punya hampir segala. Tapi kau tak harus punya Blackberry saat mereka menggenggam ke sana kemari. Kau tak harus turut serta menonton film drama cinta saat mereka sibuk berebut tiket sinema. Ingat lagi soal keterbatasanmu. Keterbatasan kita. Jujur aku ingin memberikanmu segala rupa sesuai yang kau pinta. Mungkin nanti saat kau sudah tak belia. Saat kau bangga menjadi perempuan hebat setelah melewati badai yang lebih kejam dari Katrina. Berdua kita akan merubah hari depan ibu. Merubah dunia. Merubah segala. Merubah badai jadi pelangi di sore yang jingganya menghangatkan keriput-keriput kulit ibu. Aku menjanjikan ini padamu. Sungguh.


——————————————————-

Yang selalu menjadikanmu putri dalam dongengku.

Seorang saudara lelaki dan sahabatmu

[AG, Mei 2010]

Jangan Makan Babi Itu

Mbak Tuti

Sejak kali terakhir kau menghubungi kami, sejak nomorku habis masa tenggang karena pulsa tak terbeli, Ibu tak pernah berhenti menyebut namamu, nyaris setiap hari.

Sejak tuanmu tak balas pesan elektrikku, sejak kau cerita soal daging babi itu, pasti kau bekerja tak sefokus dulu. Aku tahu kau berharap ibumu, anak-anakmu, adik-adikmu, aku baik baik saja, pun kami di sini berharap sama. Meski kami tak pernah sebaik sebelumnya, berhentilah berprasangka.

O, ya, Sulungmu sudah mulai sekolah. Ada TK dekat rumah yang terima cicilan dan cukup murah. Dia sudah bisa berhitung dari satu sampai entah.

Adiknya, Uwi, sedang cemburu. Cemburu melihat abangnya pakai seragam lima hari seminggu. “Uwi mau sekolah juga,” katanya lugu.

Azis yang dulu kaukira bisu sudah cukup handal memekakan telinga seisi rumah. Mesti bicaranya tak terlalu jelas, dia hobi marah-marah. Marah saat adiknya menyamber gelasnya lalu tumpah. Marah saat rebutan mainan dengak kakak-kakaknya yang berakhir mainan patah.

Bungsumu amat lucu. Gemar bertingkah ini itu. Main air dan lempar batu. Dia sedang flu. Batuk-batuk tak berhenti sudah seminggu. Mungkin karena air hujan, bisa jadi karena debu. Kau tahu? Rumah ini tak pernah sebersih dulu.

Ini sudah nyaris setahun kau di negeri singa. Semoga kau baik saja di sana. Jangan risaukan anak-anakmu. Toh, aku ada menjaganya untukmu. Aku pesan satu: jangan makan babi itu!

Depok, 14 Januari 2011
A, saudara lelakimu