Balada Lapangan Hijau

Meg Cabot menulis dalam Princess Lessons, 2003 “Tidak ada yang lebih sportif daripada menjadi atlet yang baik.” Bagaimana dengan atlet Indonesia? Hmm, baik di mata dirinya sendiri, mungkin. Kau, yang merasa dirimu atlet, seharusnya memberi contoh yang baik bagi yang lain, bagi penontonmu. Ini artinya tidak menjadi pecundang lapangan yang menyebalkan.

Atlet yang baik tidak marah-marah di lapangan. Tidak menuduh pihak lain melakukan kecurangan. Tidak juga melempar sepatu saat kalah. Mereka menerima kekalahan dengan anggun, berjabat tangan dengan pemenang, dan berkata dengan tulus “Permainan yang bagus, kawan.” Para jawara sejati tidak mempermasalahkan kondisi lapangan atau keputusan wasit yang melayangkan kartu warna-warni.

Saat seorang pemenang sejati menang, dia tidak pernah menyombongkan diri, menari-nari telanjang saat mencetak gol, atau menyanyikan lagu-lagu makian tentang pihak yang kalah. Pemenang yang baik selalu menghargai usaha lawannya dan ingat bahwa dirinya bisa dengan mudah berada di posisi yang kalah -kapan pun.


(Bukan) Penonton yang Baik

Tak ada yang lebih menyebalkan daripada membayar sepuluh ribu rupiah dan duduk dalam stadion hanya untuk menemukan orang-orang yang duduk di tribun seberangmu mengamuk-amuk. Berteriak menyalak, menendangi kursi-kursi, atau membakar segala atribut kebolaan. Ini bukan sikap penonton. Ini bahkan bukan sikap manusia. Ckckck!

Saat orang berkumpul dalam stadion untuk menikmati pertandingan, mereka biasanya sudah membayar tiket masuk -kecuali tetangganya sedang bertugas sekuriti disana. So, it’s not cool at all saat ada orang yang berusaha merusak pertandingan dengan berlari sambil salto menerobos pagar pembatas bagai jagoan dalam film kung fu lalu mereka adu jotos sambil teriak tujuh oktaf –well, ini bisa jadi adegan menghibur di ruang sidang, tapi tidak setiap saat harus begitu wahai bapak-bapak anggota dewan.

Miris sekali melihat pertandingan sepak bola menelan korban, entah luka ringan, luka agak berat, luka amat berat sekali, atau yang paling parah: meninggal dunia! Kalian tak tahu siapa yang jadi korban-korban itu? Mereka saudaramu, Bung! Dengan selembar kertas ungu bernominal sepuluh ribu rupiah kau bisa jadi malaikat pencabut nyawa dadakan, ooh murahnya! Kalian tak harus melakukan atraksi setelah pertandingan. Berharap saja tim kesayanganmu bisa menang di lain waktu lalu pulanglah dengan tenteram. Kita semua harus hidup di planet ini, tak peduli pemain idolamu mencetak gol atau tidak.

Satu nasihat untuk kau yang gemar menonton pertandingan langsung: bawalah kotak P3K! Supaya nanti saat hidungmu tak lagi mengeluarkan upil tapi darah, atau lenganmu terkoyak, atau betismu tersangkut bebesian, kau bisa jadi superhero untuk dirimu sendiri dengan senjata andalan yang siap di tangan -obat merah!


Belajarlah pada Pemandu Sorak

Untuk pemain, pelatih, dan penonton, pergilah ke rental DVD, cari film Bring It On, tonton! Kalian akan melihat bagaimana sekelompok pemandu sorak yang dipimpin si cantik rambut merah Kirsten Dunst mempelajari bahwa menang bukan segalanya: kadang melakukan hal benar lebih penting daripada mengangkat tropi kemenangan.

Andi Gunawan, Ibukota, 08 Maret 2010

*Penulis tidak pernah mencetak gol, seorang mahasiswa tumpul dan pemerhati karakter. Ahai!

*Ilustrasi diunduh dari sini.

Advertisements

Tentang Sebuah Sebab

mengapa Bumi menggeliat nakal

mengapa Mani-mani mencair tak lagi kental

mengapa Langit menangis tak keruan

mengapa Perempuan-perempuan berdandan

mengapa Laut mendekat tak berjarak

mengapa Persetubuhan begitu semarak

mengapa Tanah-tanah gemar merata

mengapa Kitab mulai tak terbaca

mengapa Gunung mengamuk-amuk

mengapa Anak-anak kehilangan bentuk

mengapa Awan menjelaga

mengapa Waktu kian tak bersahaja

mengapa Pohon terukir

mengapa Raja-raja berjemaah mangkir

mengapa Adam membumi basah

mengapa Kita setiap malam gelisah

sebab Kau ada, berkata

:mendekatlah

 

 

Andi Gunawan, ruang persegi, 03 Pebruari 2010

Ego Abu

Jendela-jendela terbuka
Menganga
Semenganga sadar yang dibiaskan semburat warna rupa-rupa
Semenganga mereka yang menghadangku dengan hanya satu warna


Hei, ini soalku dan semesta!


Toh, aku pernah menjejak pada satu warna
setiap kali menghamba pada indukku: Si tunggal bermata elang

Marah yang Merah

Perempuan itu bergincu. Merah. Bayi dalam gendongannya menangis. Marah

Beberapa tetangga memanggilnya Mbak Mir. Miranti. Usianya entah berapa. Muda. Awal dua puluhan sepertinya. Ia hidup nomaden. Dari satu petak kontrakan ke petak lain kontrakan. Kadang lebih kecil. Jarang yang lebih besar. Tergantung penghasilan. Ia tak pernah bertahan lebih dari tiga bulan dalam satu petak kontrakan. Didemo ibu-ibu sekitar. Ibu-ibu yang gusar. Gusar suaminya sering menghilang tengah malam.

Miranti tak pernah menutup pintu rapat-rapat. Tak pernah mengenakan pakaian rapat-rapat. Ramah pada setiap tamu yang datang dalam petaknya. Datang berbasa-basi sebelum beraksi. Kebanyakan lelaki.

“Anakmu lucu sekali.”

“Terima kasih.”

“Berapa usianya?”

“Entah. Belum genap setahun yang kuingat.”

“Sudah merangkak?”

“Sudah. Ia selalu merangkak ke arah dadaku. Minta disusui.”

Basa-basi tak pernah lebih lama dari pariwara di sela drama televisi. Tamu Miranti menyegerakan diri. Merangkak ke arah dada Miranti. Minta disusui. Biasanya ini tanpa basa-basi. Setelahnya, beberapa lembar rupiah berganti genggaman. Miranti segera menuju minimarket yang buka seharian. Beli susu kemasan. Ia terlalu lelah untuk menyusui bayinya. Entah siapa bapaknya. Salah satu tamu yang kebocoran.

Alasan ekonomi kata Miranti. Klise. Ia tak punya ijazah. Tak punya bakat yang untuk diasah. Ia punya kelamin yang sering basah. Kali pertama basah oleh ayah tirinya. Basah tak berbuah. Ibunya kehilangan kendali atas nafasnya. Meninggal seketika setelah tahu kelamin Miranti basah. Sebelumnya sempat murka. Berapi-api. Merah. Semerah darah yang mengucur di kepala suaminya setelah linggis menghantamnya.

Bayi itu masih menangis. Marah. Merah. Merayu pada susu ibunya yang terlalu sibuk menyusui bapak bayi tetangga

———

*semoga tak ada lagi frase klise ‘alasan ekonomi’ di balik prostitusi.

[AG] di dalam petak perseginya, 19 April 2010

Si Anak dari Perempuan Hebat: Sum

Dua orang sahabat mencatatku

———————————–

Dia bicara tentang kodrat saat pertama kali bertemu. Dia tidak memilih menjadi laki-laki, walaupun ada batang penis di selangkangannya. Dia adalah digraf ‘kh’ dalam kata ‘makhluk’. Sekalipun samar, aku melihat jarinya berbentuk pena dan di dadanya ada sinar bertuliskan ‘IBU’.

Di balik virtual, dia bercerita tentang keluarga. Tentang mimpi seorang perempuan tua yang terhambat dia wujudkan, tentang mimpinya sendiri yang dia kesampingkan. Seolah sangat meyakini, bahwa pintu masuk surga benar-benar tersembunyi di bawah telapak kaki perempuan tua itu, yang dia panggil Ibu.

Seperti aku, dia juga suka menyapa Tuhan. Tetapi, ada malaikat bilang padaku bahwa Tuhan agaknya lebih suka berbincang dengannya. “Cerita kalian pada Tuhan serupa tak sama. Kau terlalu muluk tentang jodohmu, sedang dia justru ingin menjodohkan Tuhan dengan ibunya.”

Malam kali pertama aku membuka isi kepalanya. Indah. Dia mahir bermain kata-kata. Masih, dia menyanjung puji keanomalian otakku. Sedang dia bercerita tentang realita, menyajikannya dengan semburat warna. Entah bagaimana, abu-abu pun tak terasa sendu di tangannya. Aku mengagumi itu, berhenti mengeluh dan menerima. Seharusnya dia tidak menundukkan kepala. Angkat topi dan hormat tertinggi untuk keberaniannya melirik ke belakang, tanpa tertatih berjalan ke depan.

Lama setelah itu, dia menceritakan umurnya. Menurutnya, sejak dulu dia sudah dikarbit tak sengaja oleh keluarganya. Astaga! Menurutku, dia neokarpi! Dan bunganya harum dan buahnya ranum. Tiba-tiba saja aku ingin mengganti anggurku dengan kreolin. Aku malu. Kuputuskan untuk tidak bertemu lagi dengannya.

Aku bukan biarawan, katanya. Dosa aku masih punya. Nafsu pun sesekali singgah. Apapun itu, dia laki-laki, istimewa. Rasa lapar dia tangkis dengan jejak-jejak tulisan. Masih sempat dia mendengar beberapa cerita dari kawan, padahal dialah yang paling membutuhkan sandaran.

Aku benar-benar mengganti anggurku dengan kreolin sesampaiku di rumah. Tapi, aku memang pengecut! Aku tidak jadi meminumnya, cuma berani mencium aromanya. Aku mabuk, kemudian menangis. Dia meneleponku, tidak kujawab. Dia mengirimkan surat elektronik, tidak kubalas. Lalu akhirnya aku menyerah ketika dia mengirimkan aku sebuah lukisan kota. Aku memang kagum setengah hidup setengah mati padanya. Kubalas suratnya dan segera meneleponnya. Dia bilang: rindu. Aku bilang: hai, sinar kosmik!

Berjanjilah padaku, mainkan sebuah lagu saat nanti kita bertemu. Begitu pintanya, aku mengiyakan. Lagu pertama yang kubawakan di depan orang ramai, pertama kuhafal di luar kepala. Setinggi itu aku menghargaimu, anak Sum. Bahkan untuk merasa sedih di depanmu pun aku rasa aku tak akan mampu. Bagaimana aku mengeluh tentang luka yang digoreskan hidup di pesisir dahiku, sementara badanmu penuh luka, tapi bukan darah, kulitmu mengeluarkan cahaya.

Aku lega sekali bisa berjalan berduaan lagi dengannya. Aku berharap ada bahagia yang kutinggalkan di sekujur hatinya setiap bertemu denganku. Aku ingin sekali menciumnya, tetapi dia lebih pantas diberi decak kagum. Maka, aku melakukannya kapanpun aku bisa, kadang sembari membayangkan senja di Sadranan yang pernah ia ceritakan.

Dan sore tadi aku terima sebuah undangan. Untuk bertemu seorang perempuan hebat yang telah melahirkannya. Hampir berteriak aku senang, girang bukan kepalang. Rasanya ingin ikut mengecup tangan si perempuan tua jika diperbolehkan. Jika Ibuku begitu menakjubkan, maka kupastikan dia iri kepada Sum, yang memiliki anak lelaki dengan hati selembut sulaman sutra karya tangan.

Suatu malam, kami berbincang lewat pesan instan persegi empat. Mungkin kami berjodoh, karena kami sama-sama kelaparan malam itu. Ada air menggenang tiba-tiba di mataku dan segera saja mengalir senyap ke pipiku, setelah dia katakan kepadaku bahwa hanya ada nasi di rumahnya untuk dimakan. Tidak ada mi instan dan telur seperti yang selalu tersedia di rumahku, tidak ada cemilan anu ini itu seperti yang selalu ada di kamarku, tidak ada? Aku ketik: “andai bisa mengirimkan makanan lewat messenger kita ini ya?” Ah! Dia tak perlu negeri dongeng! Kelak aku datang kesana, ke rumahnya, membawa hasil resepku. Dia ketik: ‘aikon senyum’, yang indah sekali.

Tapi dia tidak perlu dikasihani. Tidak, tidak. Terkasihani hanya bagi mereka yang lemah. Dia kuat, sekali! Dan aku mengasihinya, itu berbeda. Masih pagi lagi ketika kami bertukar salam menyambut hari melalui pesan singkat seratus empat puluh huruf. Dia katakan tak sabar menunggu siang, telah disiapkan sang Ibu, sekotak bekal. Aku tak tahu isinya apa, rasanya bagaimana, itu tidak penting. Yang aku tahu, dia akan makan lahap sekali. Lalu mengetik kabar gembira berbagi padaku dan semua, bahwa masakan itu adalah terlezat di dunia.

Andi adalah peri yang selalu berucap atas nama ketidaksempurnaan, yang tak pernah alpa mengingatkanku untuk melafalkan doa-doa di atas bantal. Mari kutebak: Ibu peri pasti cantik sekali.

Jakarta-Medan, 25 Juli 2010.

Alinea ganjil Sabrina : Fiksi yang kisah nyata; cetak-tebal-miring adalah karya-karya anak Ibu Sum.

Alinea Genap Dee Dee : Penggalan pembicaraan yang tersangkut di kepala.

*Rekam kata aslinya terdapat di sini.

Separatisme Kekinian

Perbedaan yang seharusnya menjadi motivasi peningkatan integritas bangsa beralih fungsi seiring dengan maraknya medornitas pemikiran yang dipengaruhi oleh rasa ingin bersaing. Persaingan antarkelompok itu mulai memberangus rasa kebersatuan.

Fenomena seperti ini terlihat jelas di banyak institusi pendidikan tinggi. Perbedaan cara pandang prematur mengakibatkan munculnya kelompok-kelompok mahasiswa yang mulai memisahkan diri dari mayoritas. Sebuah bentuk separatisme yang dilandasi ego bahwa mereka lebih baik ketimbang para mahasiswa lainnya.

Mereka mungkin tidak dengan sengaja memisahkan diri dari mayoritas. Tetapi, dengan alih-alih bahwa ideologi prematur mereka tidak sejalan dengan kebanyakan, mereka mulai membuat jarak. Beberapa menganggap ini masalah sepele, hanya sekedar soal memilih teman nongkrong. Padahal ini adalah bentuk awal dari perpecahan integritas dalam sebuah institusi pendidikan.

Anggap saja ini sebagai fenomena sosial yang tak terhindarkan, tapi toh tetap dapat diminimalisir. Mungkin banyak yang lupa bahwa selalu ada hal penting di balik sesuatu yang dianggap sepele. Ada banyak hal luar biasa yang dimiliki oleh para mahasiswa yang dianggap remeh oleh mahasiswa lainnya yang merasa lebih superior. Sayangnya, keengganan mencari tahu sudah mengakar lebih dalam. Kalau sudah begini, siapa yang salah dan siapa yang benar? Mari kita telaah soal pengelompokan mahasiswa ini dengan pembagian sebaga berikut; Akademisi, Organisator, dan Anak Gaul.

Bhineka Tunggal Ika

Kelompok Akademisi yang dimaksud adalah mereka yang beorientasi pada nilai. Ada yang menyebut mereka sebagai mahasiswa kupu-kupu (kuliah-pulang, kuliah-pulang). Tujuan mereka ke kampus hanya untuk belajar demi mendapatkan nilai yang memuaskan. Satu hal yang mereka lupa; kampus bukanlah sekedar tempat belajar, tetapi juga tempat interaksi sosial.

Kelompok kedua, Organisator, adalah mereka yang bergelut dalam kelembagaan kampus. Oke, sebut saja mereka mahasiswa kura-kura (kuliah-rapat, kuliah-rapat). Beberapa dari mereka sudah mempunyai pengalaman organisasi sebelumnya. Beberapa lainnya, seperti kesetanan, mengikuti hampir semua organisasi yang mungkin mereka ikuti sebagai bentuk pertunjukan eksistensi. Bersosialisasi dengan banyak orang mungkin adalah salah satu cara pencapaian aktualisasi diri, tapi bukan berarti mengesampingkan tugas utama seorang mahasiswa; belajar. Sesungguhnya, organisator yang baik adalah yang memiliki kontrol diri dan manajemen waktu yang baik. Menjadi organisator seharusnya bukan alasan untuk menunda kelulusan setahun atau dua tahun lebih lama.

Kelompok ketiga disebut Anak Gaul. Mereka adalah para mahasiswa yang tidak terlalu berorientasi pada setinggi apa nilai yang mereka dapatkan dalam setiap mata kuliah. Mereka juga tidak gila organisasi. Kelompok ini disebut gaul dengan ditandai bagaimana cara mereka berpenampilan. Mereka selalu mengikuti arus tren penampilan dan hiburan. Dua kelompok yang disebut di awal menganggap kelompok ini sebagai kaum hedonis. Menurut saya, tahu wawasan kekinian dan tahu bagaimana menyikapinya bukan melulu hedonis. Kecuali jika mereka menjadikan kekinian tersebut sebagai orientasi utama dalam segala hal.

Ketiga kelompok itu sudah dipastikan saling menganggap remeh satu sama lain. Menganggap kelompoknya selalu lebih baik ketimbang kelompok lain. Kelompok akademisi menganggap kelompok organisator membuang terlalu banyak waktu di luar kelas dan itu bukan hal yang seharusnya dilakukan mahasiswa. Kelompok organisator menyikapi kelompok anak gaul sebagai orang-orang yang tidak bisa apa-apa selain berpenampilan menarik. Sementara, penampilan bukanlah segalanya. Kelompok anak gaul berpendapat bahwa kelompok akademisi adalah sekumpulan orang aneh yang anti-sosial dan ingin sekali mengingatkan mereka bahwa manusia itu makhluk sosial, tetapi mereka terlalu gengsi untuk berinteraksi dengan orang-orang di luar lingkarannya.

Pengelompokan ini bukanlah hal yang baik untuk dipertahankan. Para mahasiswa cukup dewasa berpikir bahwa integritas adalah pilar yang seharusnya tidak bercabang. Bagaimana caranya? Mereka bisa belajar menghargai perbedaan untuk mencapai rasa kebersatuan yang utuh di bawah nama institusi pendidikan mereka. Mereka juga bisa beradaptasi dengan lebih baik lagi. Tidak ada salahnya menjadi seorang orginastor yang baik asal tidak melipakan perihal akademis dan tetap bisa mengikuti pergaulan. Ini akan menjadi kombinasi yang baik bukan?

—————————————————

Jakarta, 27 Maret 2010