Ada yang Menari di Dalam Kepalaku

ada yang menari di dalam kepalaku
kadang ia seorang bapak tua
setia membawa pisau
terlipat dalam sepatu
tajam memangkas
semaunya

ada yang menari di dalam kepalaku
kadang ia seorang perempuan
lengkap dengan kantung
berisikan cahaya
tapi tak tampak
silaunya

ada yang menari di dalam kepalaku
kadang ia seorang bocah laki-laki
yang ingin menangis
lantang sekali
namun tak ada
suaranya

[2013]

Advertisements

Ada Indah di Setiap Pindah

Waktu adalah hal yang bisa menyapu dan mengantar segalanya. Baik kenangan, maupun perasaan. Baik hal-hal buruk, maupun hal-hal baik. Baik awal maupun kesudahan. Hanya saja, tak banyak manusia yang mau merelakan sedikit detik lebih lama untuk berproses, untuk berani melangkahi sesuatu yang teramat dicintai. Untuk berpindah dari satu pijakan ke pijakan lain yang terasa begitu asing—tapi sesungguhnya adalah rumah yang seharusnya. Karena dalam hidup ini, manusia selalu butuh berpindah. Pindah dari hal-hal yang salah, pindah dari perasaan-perasaan yang keliru. Namun, untuk melakukannya diperlukan keteguhan, dan manusia terlalu tidak sabar menjalaninya; terlalu tidak berani memilihnya.

cover-dpn

Penulis:
Andi Gunawan – Disa Tannos – Falafu – Iyut SF – Lariza Oky Adisty – Lika Wangke – Raditya Nugie – Sammy Sumiarno

ISBN:
979-794-437-9 (10) / 978-979-794-437-7 (13)

Penerbit:
mediakita

Jumlah Halaman:
202 halaman

Sebuah buku kumpulan cerita tentang perpindahan-perpindahan yang tak dapat ditolak. Senang sekali saya bisa menerbitkan buku bersama tujuh penulis muda berbakat ini. Semoga apa yang kami lahirkan bukanlah sebentuk kesia-siaan. Buku ini akan segera hadir di toko buku, namun jika kamu tak sabar memilikinya, silakan melakukan pre-order (tentu dengan harga lebih murah dari harga jual normal) di Buku Plus

Terima kasih.

Yang Ibnu Habiby Tanyakan kepada Saya

Saya sedang sangat santai saat seorang kawan, Ibnu Habiby, menyapa saya secara tidak biasa melalui akun twitternya (@ibnuhabibi): “Wawancara, yuk. Emailmu apa?” Pertama, seingat saya dia bukan wartawan. Kedua, seharusnya dia tahu alamat email saya karena dia pernah mengirimkan cerita pendeknya melalui email untuk saya baca. Ketiga, saya penasaran pertanyaan apa yang akan diajukannya. Beginilah jadinya.

Ibnu Habiby:

Berikut di bawah ini terbersit pertanyaan spontan yang kubuat, tugasmu hanya menjawab. Tidak sulit, bukan? Mari memulai.

  • Jika saya adalah sebuah buku, maka saya pasti akan ditulis oleh? Karena dia?
  • Ketika saya berumur dua puluh, saya adalah seorang?
  • Bila saya adalah rumput paling hijau di dunia, saya akan katakan kepada orang-orang yang terus bertanya kepada saya untuk?
  • Saya memiliki beberapa hal yang akan saya sentuh saat saya marah, mereka adalah?
  • Selain tidak menganggap keberadaan orang lain, saya juga baik dalam bidang?
  • Sangatlah mudah untuk menggambarkan Ibnu Habibi kedalam tiga kata, dia adalah?
  • Tanpa twitter dan 14K followers saya, saya melihat diri saya sedang?

Berikut adalah pertanyaan-pertanyaannya yang telah saya jawab.
Continue reading

Lima Cara Memeluk Diri Sendiri

Bisa dipastikan, siapa saja akan mengeluh jika daya baterai ponselnya melemah sementara mereka tak membawa charger. Ini sudah menjadi semacam pengetahuan umum. Seperti halnya daya baterai ponsel, semangat seseorang  juga perlu diisi ulang supaya tetap terjaga performanya. Menyemangati orang lain seringkali lebih mudah ketimbang menyemangati diri sendiri. Berbahagialah mereka yang mampu menjaga semangat dirinya secara baik.

Saat ini, saya sedang mengalami apa yang disebut orang sebagai quarter life crisis. Usia saya 25 tahun, tidak memiliki pekerjaan tetap, lajang, dan butuh asupan semangat yang lebih dari sebelumnya agar saya tetap waras. Alih-alih memohon orang lain untuk memberi saya semangat ekstra, saya memilih untuk mengingat apa saja yang pernah saya lakukan untuk mengisi ulang semangat. Kemudian saya brpikir, mengapa saya tidak mengulangi cara yang pernah saya lakukan saja daripada sibuk merepotkan orang lain yang mungkin justru perlu bantuan yang lebih besar. Setiap bahu menopang bebannya masing-masing, bukan?

Semampu saya dapat mengingat, inilah cara saya memeluk diri sendiri untuk megisi ulang semangat:

Mencatat. Saya gemar mencatat hal dan peristiwa baik yang pernah saya alami. Bukan untuk disiarkan kepada sebanyak-banyaknya orang kemudian jadi ajang pamer bahwa saya pernah bahagia, namun untuk pengingat. Pengingat bahwa hidup saya tak melulu berisi hal-hal buruk yang bikin saya merasa sebagai orang paling sial sedunia. Mencatat adalah pekerjaan mengingat kembali. Setelah mencatat, saya jadi ingat bahwa saya punya banyak hal yang patut saya syukuri. Terdengar klise memang, tapi saat kau tahu kau pernah merasa baik-baik saja, maka keyakinan menjadi baik-baik saja di kemudian hari akan tumbuh dengan sendirinya. Setidaknya ini bekerja pada saya.

Melancong ke Umang

Melancong ke Umang

Continue reading

Lalu Hujan Deras Sekali

 

 

Dinihari ialah seni mengingat; ciuman yang ingin mengulangi dirinya di hadapan bibir-bibir para pencibir.

Sore itu, kau adalah berita dalam televisi yang mudah diduga bagaimana akhirnya, sementara aku penonton setia sebab kadang-kadang terlalu banyak pilihan sama dengan tak ada pilihan lain. Secara seksama, kudengar-lihat bagaimana kau memberitakan kronologi peristiwa yang kau tolak sebagai repetisi dan peranku bertambah satu di sini—penonton yang seolah bodoh dan harus tercengang menyaksikan siaran kabar tentang kejadian tipikal.

Kau selalu memulai dengan cara yang itu-itu lagi. Pertama, kau akan menyampaikan prolog membosankan tentang bagaimana kau bertemu mantan kekasihmu. Kedua, dengan sangat berbinar, kau ungkit segala baik dan mengabaikan keburukan yang lebih banyak kau telan darinya. Ketiga, seperti biasa kau akan menutupnya dengan pertanyaan, “Mengapa ia tega meninggalkan aku?”

Kemudian, bagian yang telah kuhafal, kau akan menatap langit ruangan dengan matamu yang berperan sebagai sepasang mata paling terluka di dunia. Yang pecah berikutnya; tangismu disusul pertanyaan-pertanyaan sialan. “Apakah aku terlalu gemuk untuknya? Apakah aku lawan bicara yang membosankan? Apakah ia telah kehilangan gairah terhadapku? Kalau iya, apa sebabnya? Mengapa ia bertingkah tak peduli atas segala kepedulianku padanya? Apakah aku tak tampak menarik? Apakah aku harus melakukan operasi plastik?”

Begitulah kau, bertahun-tahun menjadikan aku tempat bersandar saat kau merasa harus menangis sembari mempertanyakan adakah yang mau dan mampu menerima apapun adanya dirimu. Beginilah aku, bertahun-tahun mengusap airmatamu yang sesungguhnya tak perlu kautumpahkan andai kau tahu bagaimana aku telah menerimamu sebaik ibu menerima kehadiran anaknya lengkap dengan segala kenakalannya.

Begitulah kau, bertahun-tahun tak juga membuatmu merasa cukup. Bahwa sempurna bukanlah hal yang dapat kau kecup. Bahwa saat kau terluka, hatikulah yang satu-satunya kuncup. Beginilah aku, bertahun-tahun tak pernah kau baca. Mungkin sebab halaman terakhirku telah melipat dirinya sendiri setelah ciuman pertama kita. Ciuman yang pertanda, bahwa segalanya mengenal sudah – dengan atau tanpa akhir bahagia.

Setelah airmatamu kering, seperti biasa kau mengantarku pulang dan tak pernah sampai ke rumah. Di tepi jalan malam itu, kau melepas helm untuk mengakhiri hari dengan ucapan terima kasih yang lesu, sementara aku sibuk memilih antara membalasnya dengan sampai jumpa atau hati-hati saja. Aku tak memilih keduanya. Aku memilih menciummu dan sesaat melupakan bahwa kita adalah laki-laki. Lalu hujan deras sekali. Lalu dinihari terasa lama sekali.

 

Depok, 2013

17 Oktober 2013

Terkadang,
kembang apilah cinta
menyala sekali saja
tanpa punya kesempatan kedua
sementara ciuman pertama tetap di sana,
duduk manis menunggui yang ada atau sebaliknya.

Kemudian sepasang bibir menjadi perkara maju-mundur
yang ingin berlibur dan melebur
ke dadamu; tempat kenangan tumbuh subur,
meski daunnya tak berhenti gugur
dipukuli barisan angan dan angin
yang berbisik kepada jendela:

“Belilah baju merah, Tuan.
Sampai kapan duka akan kaukenakan?”

Tumbuh

Rian namanya, atau Ryan, saya tidak tahu persis. Yang saya tahu persis, dia terus tumbuh dan berkembang dan berubah. Dia bersama saya sejak kata pertama yang mampu dia ucapkan, sejak langkah pertama yang mampu dia jejakkan. Dia tetap bersama saya setelah yang dipanggilnya Ayah memilih hidup kembali bujang, seolah tak pernah membuahi selaput dara ibunya yang kemudian melahirkannya, lalu keempat adiknya. Dia tetap bersama saya setelah kehilangan kontak fisik, suara, dan mungkin batin, dengan indungnya.

15139_1258748518561_4768950_n

Ini potret saat dia berusia empat (kalau saya tak salah ingat). Sekarang dia mungkin lebih dari delapan tahun. Saya tak tahu persis. Saya bukan pengingat tanggal lahir yang baik. Yang saya tahu persis, dia kelas dua sekolah dasar sekarang. Mestinya kelas tiga tapi tidak naik kelas di tahun pertamanya. Ibu saya buta huruf dan saya terlalu sibuk bekerja saat itu. Tak ada yang membantunya belajar, saya menyesal. Sangat menyesal.

Dialah salah satu alasan saya bertahan hidup, agar bisa mempertahankan hidupnya juga. Bocah ini bukan bocah biasa. Mengasuhnya tak semudah mengasuh luka yang bisa sembuh dengan sekali pergi ke dokter lalu menuruti resepnya. Saya mengasuhnya dengan ketakutan.

Saya tak pernah berani menebak apa yang dia pikirkan saat dia lebih suka bermain di luar rumah selepas sekolah dan pulang saat malam tinggi sekali; saat dia kesulitan mengerjakan tugas pelajaran Bahasa Sunda lalu menangis; saat ibu anak tetangga menghardiknya setelah dia membalas pukulan anaknya; saat ia terbengong tiap kali sedang menyantap makanan yang dihidangkan untuknya; saat dia pergi bermain menggunakan sandal dan berkali-kali pulang tanpa alas kaki; saat saya pulang dari menginap beberapa malam dan dia menyambutnya dengan pertanyaan, “Om Andi kok pergi melulu sih?”

Saat suatu kali dia berkata, “Aku mau kerja, ah. Biar nggak minta duit lagi ke Om Andi.” Saya tak berani menebak apa yang dia pikirkan. Tak pernah berani.

Depok, 2013