Posts Tagged ‘ Catatan ’

Pergi Belanja

ayo beli meja
di bawahnya kita akan sembunyi
dari segala norma
yang berkaki terlalu banyak

atau beli lemari
ke dalamnya kita lari
dari pengadilan pasar
dan mulut-mulutnya yang berisik

atau beli monopoli
pemberi kesempatan berkali-kali
tanpa melahirkan kesedihan
yang sulit disangkal

asal jangan beli ular tangga
cukup di sini kita tahu rasanya hampir tiba
lalu tiba-tiba kembali ke nomor tiga

(2013)

*ditulis secara tidak sengaja bersama Disa

Advertisements

Terkesan

Aku terkesan padamu sejak lagu pertama yang kaunyanyikan malam itu. Syahdu. Meski aku tahu pada siapa lagu itu tertuju, aku pura-pura tak membaca. Suaramu menjernihkan segala buruk prasangka dalam kepala. Aku, suka.

Aku terkesan padamu sejak konsensus makan malam pertama itu. Kau bertanya dan kuberikan beberapa rekomendasi meja. Bukan karena bingung, hanya saja, apa pun pilihanmu, aku pasti turut serta. Lagipula, pilihanmu istimewa. Aku, suka.

Aku terkesan padamu sejak percakapan pertama setelah menahun melihatmu, malam itu. Aku tak banyak bicara bukan karena keki. Justru tiap kalimatmu ialah hal yang begitu kunikmati. Lepas, seperti bocah sumringah menceritakan mainan barunya. Aku, suka.

Aku terkesan padamu sejak kali pertama berada sejarak satu kursi dalam perjalanan pulang malam itu. Dingin yang semestinya dibawa malam sejenak merupa kehangatan dalam beberapa jenak diam kita menatap jalanan. Meski lampu-lampu remang, juga dadaku, tapi aku suka.

Aku terkesan padamu sejak malam yang belum juga bisa kuulang. Ah!

Jakarta, 27 Desember 2011

Cerita Punya Cerita

Saya selalu suka bertemu dengan orang-orang baru yang gemar bercerita. Mereka lebih menyenangkan dari televisi—pengembang drama. Mungkin saya menemukan drama dalam cerita orang-orang itu. Drama realita, potongan adegan dalam bentangan semesta, tanpa gincu. Bahkan saat gincu memerah-marahkan bibir-bibir para pencerita, saya masih bisa menikmatinya. Sungguh canggih koneksi tak berarti apa-apa ketimbang komunikasi tatap-muka.

Saya selalu suka bertemu dengan orang-orang baru yang gemar bercerita. Mimik-mimik yang tercipta. Gerak-gerak yang menjaga biar muka tetap punya citra. Terkembanglah iba: saat bunyi cerita mulai parau tetapi muka lebih mirip sakau; saat gerak tangan mulai menari dalam datar muka yang merindu belas-kasih. O, sungguh ini menyenangkan sekali.

Saya selalu suka bertemu dengan orang-orang baru yang gemar bercerita. Mereka membuatku tak menyesali gagal menonton opera ibukota paling ramai. Riuh vokal-konsonan yang melagu memang tak semerdu dongeng-bual sebelum tidur. Tetapi, lengking duka senyaring lantang spanduk di pinggir-pinggir jalan ialah irama syahdu. Irama pengingat, bahwa saya menjejak dalam hunian milik semua kaki; bahwa cerita saya kadang tak lebih baik dari mereka; bahwa cerita saya bukan terburuk yang pernah tercipta.

[Depok, Juni 2011]

*ilustrasi diunduh di sini.