Posts Tagged ‘ Dialog ’

Melankolia Dua Puluh Lima

Barangkali saya gila, atau sekadar melankolia, tapi yang pasti bukanlah kesepian penyebab saya kerap berdialog dengan diri sendiri. Saya bertanya sebanyak-banyaknya, saya menjawab sebebas-bebasnya. Sebab tak ada yang lebih bebas daripada menciptakan kebebasan dari dan untuk diri sendiri. Rumit? Ya, karena hidup tak semudah Susilo bikin empat album musik sementara banyak musisi kelojotan tampil setengah hati di acara musik pagi. Dan inilah 25 tanya-jawab di usia 25 saya.

Selamat ulang tahun, Andi! Apa yang kau maknai dari sebuah ulang tahun?
Terima kasih, Gun! Ulang tahun tak lebih dari sekadar repetisi yang semakin lama semakin rumit. Semakin tua, semakin rumit. Usia hanyalah angka yang menumpuk di atas kepala, yang sebetulnya hitungan mundur menuju awal: tiada –dan tak bisa diduga kapan ujungnya. Semoga saya bisa menikmati sisa hitungan dan diselamatkan dari usia yang terlalu panjang, terlalu rumit.

Lalu, apa yang kauinginkan di usia dua puluh lima tahun ini?
Sekarang ini saya hanya ingin tidur nyenyak tanpa takut dibangunkan tiba-tiba oleh kabar-kabar buruk. Juga ingin jajan di warung dekat rumah tanpa harus memikirkan bagaimana kalau tiba-tiba uang habis dan tak ada apa-apa yang bisa ditelan selain angin.

Bicara soal tidur, mengapa kau seringkali terjaga saat kebanyakan orang sedang tidur?
Karena saya bisa memilih jam tidur dan tak harus sampai ke kantor sebelum pukul sembilan pagi lagi. Bertemu banyak orang memang menyenangkan, tapi tidak di pagi hari yang terik di dalam metomini sesak bau besi berkarat dan ketiak-ketiak. Karena saya harus terjaga saat Ibu sedang tidur supaya siaga saat ia terbangun, memanggil nama saya, dan minta diantar ke kamar mandi.

Soal nama, lupakan Shakespeare dan beri tahu apa arti namamu, boleh?
Boleh, tapi sayang saya tak tahu. Saya cuma tahu asal-usulnya, bukan artinya. Andi diambil dari Andy Lau. Ibu gemar menonton film-filmnya dan memutuskan namanya jadi nama anaknya. Mungkin Ibu berharap saya jadi laki-laki putih bersih yang gagah, tapi faktanya saya hitam dan kemayu. Gunawan adalah nama dokter bersalin yang membantu ibu melahirkan saya. Saya sempat curiga nama depan dokter itu adalah Ivan. Ibu memberi nama saya semudah ini bukan karena tak punya uang membeli buku berisi nama-nama beserta artinya, tetapi karena ia tak bisa membaca. Begitulah.

Tapi kau bisa membaca dan gemar sekali membaca, kan? Kenapa?
Saya suka membaca karena saya bisa membaca dan karena pisau yang diasah akan lebih tajam dibanding pisau yang tergeletak di dalam lemari orang-orang kaya raya. Saya suka membaca supaya dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan Ibu yang jawabannya hanya bisa didapat dengan membaca. Saya suka membaca karena halaman-halaman buku punya aroma yang tak dimiliki tubuh siapa pun.

Mengenai tubuh, mengapa kau menyetubuhi laki-laki?
Jangan tolol! Ya jelas, karena saya homoseksual, apa lagi? Continue reading

Advertisements

Dialog Senja #2

Tuhan

“Kemana saja kau?”

“Berkelana”

“Apa yang kau cari?”

“Dia”

“Bodoh! Dia ada di dalam sana.”

“Dimana?”

“Cermin.”

 

Kelamin

“Apa itu kelamin?”

“Sesuatu yang licik.”

“Selicik apa?”

“Ia selalu punya celah untuk mendominasi”

“Apa?”

“Mendominasi norma.”


Surga

“Amin.”

“Kau berdoa?”

“Bersyukur.”

“Atas apa?”

“Aku masih bisa cium tangan ibu.”

“Kaki?”

“Itu bukan urusanku.”


Abu

“Ada yang marah.”

“Siapa?”

“Ibu, kucuri gincunya.”

“Buat apa?”

“Aku hanya ingin sedikit berwarna. Salah?”

[AG, Depok, September 2010]

*Dialog Senja #1

Dialog Senja

Atas Nama Tuhan

“Apa yang kau imani?”

“Kesendirian.”

“Kau benci manusia?”

“Tidak.”

“Lalu? “

“Aku terlahir dan akan mati sendiri.”

———

Atas Nama Cinta

“Aku cinta.”

“Aku muak.”

“Muak apa?”

“Cinta!”

“Sejak kapan kau mati rasa?”

“Sejak kapan matamu membeku?”

———

Atas Nama Ibu

“Kau sakit jiwa!”

“Mungkin.”

“Cuci otakmu”

“Deterjen?”

“Ibumu.”

“Cuci mulutmu!”

—————————-

[AG, Depok, September 2010]