Posts Tagged ‘ Fiksi Pendek ’

Balada Dua Janda

George Romney

George Romney*

Saya terkejut saat sedang merancang sebuah kejutan. Tentang pura-pura marah saat Wiranto terlambat pulang dari bekerja yang akan saya akhiri dengan sebuah pengakuan manis: “Saya hamil.”

Kalimat itu tak pernah tumpah dari mulut ini. Saya melihat Wiranto menggandeng mesra seorang perempuan masuk ke minimarket tak jauh dari tempat praktik bidan. Kami resmi bercerai sebulan kemudian. Setelah hari itu, saya baru paham bahwa kejutan tak melulu menyenangkan.

***

Ada waktu memulai, ada waktu untuk selesai. Begitulah seharusnya saya menyadari peran dari sebuah sikap. Saya telah memulai sebuah kebohongan, secara sadar. Sesadar saya meyakini bahwa kebenaran punya waktunya sendiri untuk menampakkan diri. Saya akan menampakkan diri. Saya akan pulang.

Sudah sewindu saya tak pulang ke rumah Ibu. Bukan karena saya menjalani peran Malin Kundang selama itu, namun selama itulah saya bersusah payah mengumpulkan keberanian. Sebab nekat seringkali adalah upaya menggali kubur sendiri, maka saya memilih menjadi lemah. Sekarang saya sudah cukup kuat. Mungkin. Setidaknya saya tak sendirian. Saya telah punya pengganti Wiranto dan siap mengenalkannya kepada Ibu.

Sepanjang perjalanan menuju rumah Ibu, kepala saya sibuk memikirkan kemarahannya. Ibu bukan janda pemarah. Namun, seperti yang kau tahu, seorang pendiam biasanya sangat kacau ketika menemukan alasan untuk marah. Ia bisa jadi apa saja yang terburuk yang bisa kaubayangkan. Continue reading

Advertisements

Undangan Terbuka: Antologi Mencatat Perempuan

Hai.

Apa kabar teman-teman? Semoga semua baik-baik saja, meski kita sama tahu menjadi baik-baik saja bukan perkara mudah. Selalu ada saja yang mengganjal di antara hal-hal baik. Sungguh, kadang pikiran tak melulu dapat tersampaikan dengan baik melalui ucapan. Maka, mari tuliskan.

Sudah sejak lama saya ingin membuat sesuatu untuk perempuan. Perempuan adalah perkara yang tak pernah membuat saya bosan berpikir. Juga, perempuanlah yang mengajarkan saya bagaimana berpikir.

21 April, seperti yang kita ketahui, merupakan Hari Kartini. Sebetulnya tak ada pembeda besar dengan hari lainnya, ini perkara momentum. Menjelang Hari Kartini 2012, yang identik dengan sosok perempuan, saya–melalui blog ini, Opera Aksara–ingin mengajak siapa saja mencatat.

Sebut saja ini sebagai Antologi Mencatat Perempuan.

 

Berikut ketentuannya:

  1. Catatan bersifat fiksi, berbentuk cerita pendek.
  2. Tema umum: Perempuan, tema khusus: silakan bebaskan pikirannu, biar tak lagi ada yang mengganjal.
  3. Panjang cerita berkisar 3-7 halaman A4, diketik menggunakan Times New Roman dengan ukuran 12 berspasi 1,5.
  4. Siapa saja boleh mengirimkan ceritanya, tanpa batasab jenis kelamin atau apapun, dengan syarat tidak lebih dari 2 judul per orang.
  5. Lampirkan naskahmu dengan format .doc dan kirimkan via e-mail ke alamat: ndigun@gmail.com dengan subyek “Untuk Perempuan.”
  6. Dalam badan e-mail, tuliskan namamu, nomor telpon, dan akun Twitter [jika ada].
  7. Naskah ditunggu hingga tanggal 5 April 2012, pukul 23:59 WIB.
  8. 21 naskah akan segera dibukukan untuk perempuan-perempuan dalam hidupmu, sebagai tanda terima kasih.
  9. Hingga pengumuman ini disampaikan, belum ada hadiah untuk tulisan terpilih kecuali masing-masing akan mendapatkan 1 eksemplar gratis buku antologi ini. Doakan saja ada yang berbaik hati menyediakan hadiah.
  10. Jika ada pertanyaan lanjutan, silakan sampaikan dalam kolom komentar di bawah tulisan ini, atau via Twitter di akun @ndigun

Selamat mencatat! 🙂

——————————–

*ilustrasi diunduh dari sini.