Posts Tagged ‘ Film ’

Cinta dari Wamena: Cinta untuk Semua

Beberapa kawan saya mengidap HIV. Sebagian dari mereka mampu bertahan hidup secara baik karena mampu mengakses informasi dan kebutuhan medis HIV/Aids. Sayangnya tak semua orang mempunyai kemudahan akses tersebut, telebih mereka yang tinggal di pelosok desa. Lalu bagaimana caranya supaya para pengidap vitus mematikan ini mengetahui apa yang sebenarnya sedang menggerogoti tubuh dan hidup mereka?

Mengenal HIV/Aids

HIV/Aids merupakan infeksi pembunuh nomor satu di dunia. Menurut data yang dilansir World Health Organization (WHO), saat ini terdapat 34 juta orang hidup dengan HIV/Aids. Itu adalah jumlah yang berhasil terdata. Saya tidak sanggup membayangkan jumlah yang belum terdata.

Jumlah pengidap HIV/Aids tersebut tentu akan terus bertambah mengingat saat ini belum ditemukan obat penyembuhnya. Seingat saya, saat ini hanya tersedia sebatas pencegah virus HIV/Aids untuk berkembang biak dalam tubuh manusia, Antiretrovival Therapy (ART) – mohon koreksi jika saya salah. JIka proses reproduksi virus HIV/Aids ini berhenti, maka sistem imun dalam tubuh penderita akan bertahan lebih lama dan dapat melindungi pasien dari infeksi lain. Beberapa rumah sakit di Indonesia sudah menyediakan obat ini. Namun menurut data WHO lagi, hanya 54% penderita HIV/Aids memiliki akses terhadap ART. Bagaimana dengan sisanya? Continue reading

Inspirasi Hari Ini, Terang Hari Esok

Naskah pidato pembukaan Pekan Film untuk Kebangkitan Nasional, 19 Mei 2011, Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. HAMKA, Jakarta Selatan.

Bangkit adalah terbangun dari jatuh, lalu kembali berdiri: tegak. Kebangkitan Nasional adalah momentum bangkitnya rasa dan semangat persatuan, kesatuan, dan nasionalisme, serta kesadaran untuk memerjuangkan kemerdekaan Republik Indonesia, yang sebelumnya tidak pernah muncul selama penjajahan Belanda, juga Jepang. Masa itu ditandai dengan dua peristiwa penting: berdirinya Boedi Oetomo pada 20 Mei 1908, serta ikrar Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 1928.

Hari ini, menjelang Hari Kebangkitan Nasional ke-103, Majelis LAJAR DJINGGA ingin mengajak masyarakat, khususnya mahasiwa, untuk bangkit. Bangkit dari modernitas pikiran yang perlahan mengikis habis nilai-nilai kebangsaan. Bangkit dari kepraktisan pikiran, menuju masa depan Bangsa yang lebih etis dengan etos pemahaman kritis.

Gandi pernah berujar: bahwa masa depan tergantung pada apa yang kita lakukan hari ini. Yang sedang dilakukan oleh Majelis Sinema LAJAR DJINGGA hari ini, semata-mata demi tumbuh-kembang pola berpikir kaum muda. Bukankah pemuda adalah generasi penerus bangsa? Bukankah pemuda adalah penentu arah masa depan Bangsa?

Bangsa yang besar adalah bangsa yang siap menghadapi tantangan, dan berhasil bangkit dari permasalahan yang dihadapinya. Untuk menghadapi segala permasalahan, maka diperlukan pemikiran yang kritis. Inilah yang sedang diupayakan oleh Majelis Sinema LAJAR DJINGGA, membiasakan berpikir kritis. Dengan berpikir kritis, kita menjadi tahu bahwa segala hal tak harus diterima bulat-bulat. Bahwa kita, sebagai bagian dari kesatuan, berhak menyaring apa-apa yang menerpa peradaban Bangsa, guna terwujudnya rasa kebersatuan yang sesuai dengan nila-nilai luhur, yang telah ada jauh sebelum Indonesia merdeka.

Dalam sejarahnya, Indonesia berkali-kali harus berterima kasih pada mahasiswa. Pergerakan-pergerakan mahasiswa telah banyak turut andil dalam kehidupan berbangsa. Hari ini, ke manakah pergerakan mahasiswa menuju? Ke jalan-jalan besar di bawah matahari dan meneriakkan hal yang bahkan mereka tak tahu? Mengangkat umbul-umbul yang pembuatnya tak kasat mata demi sebuah isi amplop? Atau bergeliat di kampus dan saling-injak dengan pengguna almamater berwarna sama, alih-alih menegakkan ideologi?

Majelis Sinema LAJAR DJINGGA, melalui Pekan Sinema ini, berusaha menggerakkan lagi para tenaga muda untuk berpikir. Berpikir dan menjadi lebih peka pada kehidupan berbangsa dengan film-film pilihan. Kami berharap, waktu yang sepekan ini,dapat menjadi pemecut inspirasi untuk menerangkan langkah pergerakan kaum muda, demi masa depan Bangsa. Maka, jadikanlah inspirasi hari ini, sebagai jalan terang hari esok.

Salam Persatuan.

Majelis Sinema LAJAR DJINGGA

Jakarta, 19 Mei 2011