Posts Tagged ‘ Flash Fiction ’

F!

“Mas Bhaga, lihat map biru dengan huruf F di depannya?”

Aku mengulang pertanyaan yang sama. Aku sudah menanyakannya ke Ibu, Ranti, dan Mba Titi, nihil. Aku mesti menuju stasiun sejam lagi dan masih terus mencari.

“Memangnya apa isi mapnya?” tanya Mas Bhaga tanpa menoleh. Ia hampir selalu terlihat bodoh di hadapan ponsel cerdasnya.

“Foto.”

“Oalah, aku kira berkas penting. Ternyata F itu foto.”

F for family! Itu foto lengkap keluarga kita. Foto itu penting buat aku yang mau tinggal jauh dari rumah. Lebih penting dari blackberry-mu!”

“Kalian meributkan apa?” sahut Bapak yang baru tiba.

“Foto,” jawabku.

Sepersekian detik, Bapak memberiku tas plastik. Kukeluarkan isinya, sebuah bingkai. Foto yang kucari di dalamnya.

 

(2011)

*juga dimuat di Jejakubikel

Sepakat untuk Tidak Sepakat

Kita hidup di negeri penuh aturan. Aturan-aturan tentang cara seseorang mengatur hidup orang lain. Juga tentang mengatur kematian orang lain. Kematian seorang hakim sedang diatur oleh sekoper uang dan senjata api yang isinya bisa mampir kapan saja ke kepalanya.

Ia dapat mengabaikan aturan sekoper uang, tapi ia mesti patuh kepada aturan yang dibuat senjata api. Kesepakatan telah lahir. Mantap tanpa gelagap, hakim tua mengetukkan palu ke mejanya. Ketukan yang membebaskan pejabat buncit dari dakwaan korupsi.

Bubar sidang, hakim tua dan pejabat buncit melenggang asing menuju mobil masing-masing. Belum sampai parkiran, hakim tua berbalik arah. Ia lalu menekan sesuatu di kolong mejanya, disusul ledakan mobil si pejabat buncit.

“Bagimu, aturanmu. Bagiku, aturanku.”

(2012)

*juga dimuat di Jejakubikel

Tulus

Seingatku, aku tak pernah seiseng ini. Aku menemukan KTP saat sedang mencari botol dan gelas plastik bekas untuk kuuangkan kemarin. Pas fotonya agak buram tapi aku masih bisa membaca namanya, Tulus Pratama. Alamatnya pun terbaca dan aku sedang mencari jalan ke sana sekarang.

Aku tidak punya KTP tapi aku tahu betul kerepotan akibat tak memilikinya. Warno, tetanggaku, kesulitan cari kerja karena tak memiliki KTP. Akhirnya ia berhutang Rp200.000,- pada Bang Togar. Kata Pak RT, nominal itu terbilang murah sebagai harga teman. Blah!

Setelah berkeliling sembari bertanya kepada siapa saja di jalanan, aku sampai di depan rumah sesuai alamat. Tombol berwarna putih kutekan. Seseorang membuka pintu, perlahan.

“Pak! Bu! Mas Tulus pulang!”

———————————-

[Andi Gunawan, Juli 2011]

Di Ruang Tunggu

Aku tak pernah bosan berkaca di matamu. Meski kadang buram, ia selalu membuka pintu.

Suatu kali, mataku tak berhenti bergerak membaca gerakmu dan aku tak menemukan apa-apa. Seharusnya aku menunduk. Kau telah sampai di dada. Bisa jadi telingamu bosan dengar bising dadaku. Tak ada yang perlu engkau simak. Duduk saja. Maka, tak akan lagi sesak.

Ada yang tak pernah berhenti berkumpul, seperti tik-tok jam dinding.

————————————–

[AG, Depok, Oktober 2011]

*Ilustrasi diunduh dari sini

Anomali

Gelap. Aku melihat setitik cahaya mendekat. Ada hangat yang tiba-tiba sampai ke tubuhku. Tak mau penasaran, kubuka mataku. Perlahan.

Bidadari telanjang di hadapanku. Cahaya itu ia, laki-laki.

Senyumnya mengembangkan sayap-sayap di punggungnya. Sayap-sayap itu memelukku yang serta-merta ikut dalam ketelanjangannya, dan menggigil. Sebenar-benarnya, ia begitu hangat dan aku tak berhenti menggigil. Diciumnya bibirku dan tetap aku menggigil. Ia rapatkan tubuh lembutnya ke tubuhku hingga tercipta pertemuan buah-buah pelir mungil. Aku menggigil.

Seiring erat peluknya, cahayanya kian terang. Menyilaukan. Kupejamkan mata dalam satu tarikan napas untuk menghalau silau. Saat kubuka mataku, aku tak lagi telanjang dan matahari masuk ke kamarku diam-diam, silau.

Ah, celanaku basah. Aku merasa aneh meski orang-orang menganggapnya lumrah.

[Andi Gunawan, Jakarta, 21 September 2011]

Mencari Jalan

Pria itu mulai tunduk setelah pagutan pertama. Ia menyerah saat aku melucuti pakaiannya, satu per satu. Bibirnya masih berkutat di bibirku saat ia melakukan hal yang sama, menelanjangiku. Tanganku mengencang di bahunya, menghadapkan punggungnya ke cermin. Di sana, aku semakin mendekati tujuanku. Aku bersama orang yang tepat.

Aku tak menolak dilemparnya ke ranjang. Telah kusiapkan hadiah untuknya di bawah bantal. Perkakas yang akan mengantarku pada kejayaan.

Tubuhku terduduk di atas perutnya dan ciuman kami menghasilkan desahan setiap matanya terbuka-menutup.  Tangan kananku menelusup ke balik bantal. Setelahnya, pisau menancap tegas di dada kirinya. Ia mandi darah, menuju neraka.

Perlahan, kubalikkan tubuh kaku itu dan bersiap menguliti punggungnya. Sebuah jalan terbuka lebar untukku.

[AG, Mei 2011]

*ilustrasi diunduh dari sini.

Abdi Suami

Kikuk. Takut. Ini kali pertama Sari bertandang ke rumah Drajat, lintah darat. Ia tahu betul bagaimana reputasi lelaki itu. Drajat tak pernah pelit, terlebih pada wanita.

“Suami saya bangkrut, Bang. Perlu suntikan dana untuk bayar utang dan modal. Kalau usaha barunya nanti lancar, kami cepat kembalikan.” Sari ragu-ragu menyampaikan maksudnya. Nekat. Ia tak mau melihat suaminya babak belur dan berakhir di kubangan karena tak bisa melunasi utang.

“Butuh berapa?”

“Lima juta.”

Drajat terlihat berpikir. Ia tak sedang memikirkan soal pengajuan pinjaman. Ia memikirkan hal lain yang lebih menyenangkan..

“Lima juta tak masalah, asal kau mau menginap semalam saja di sini.”

Sari tak kaget mendengarnya. Sejak awal, ia sudah siap melepas kutang.

 

[AG, Depok, Maret 2011]