Posts Tagged ‘ Liris ’

Murtad

Pada suatu lalu, aku adalah anak ibu yang mengimani kesendirian. Sendiri, cukup. Cukup sendiri. Aku hampir tak pernah mempertanyakan atap lain yang menaungi kepala bapakku saat ibuku sendirian. Tak pernah mengeluhkan matahari yang membuatku selalu mengantuk saat aku sendirian. Aku bukan kaum terkutuk.

Pada suatu kekinian, engkau datang. Bagai malaikat bersayap anomali, engkau bebuat baik tiada henti. Bagai bulir yang menetas, mengalir dari puncak gua, engkau meluruhkan keimananku yang sempat serupa batu. Melubanginya hingga dalam. Aku murtad dari kesendirian.

Pada suatu nanti, manakala namamu tak dapat berhenti dalam doa yang kurapal, aku berterima kasih kepada alam. Putaran semesta telah menempatkan aku dan engkau dalam dua pijakan di persimpangan. Aku tahu aku bisa merusak peta yang kaucipta dan memberimu kompas yang hanya menuju ke arahku, tetapi kemudian aku memutuskan mengimani waktu.

Wak-tu

[AG, Juli-Agustus 2011]

*ilustrasi diunduh dari sini.

Mengabdi Diam

Meski berjalan kaki sepanjang hari, kunikmati. Bersamamu bagai jarang yang hakiki. Mungkin aku tak bisa memelukmu lebih rapat, lebih hangat, tetapi doa baik buatmu kurapal tanpa kenal kiamat. Biarkanlah aku jadi yang setia mengingat hal-hal tentangmu, karena hanya dalam kepala bisa kurengkuh dirimu. Hitam putih punggungmu pun takkan mengaburkan pandanganku buatmu, meski dari jauh.

Aku mencintaimu karena caramu mencintainya. Caramu mencintainya tak meluruhkan caraku mencintaimu. Aku bertahan dalam gagu. Segalanya terlalu logis. Aku mungkin tak bisa bertahan lebih lama, lebih tak mungkin mengharapkan perkara magis.

Jika ternyata cinta ialah kepasrahan, maka aku akan mengabdi kepada diam.

[AG, Jakarta, Juli 2011]

*ilustrasi diunduh dari sini

Dalam Sebuah Ruang Asing

Aku terbangun dan gemetar. Berhadapan dengan kosong yang amat luas, dan gelap. Semoga aku tak bertemu cermin. Cermin memusuhiku seperti semua hal yang ada. Sekalipun sudi bekerja buatku, ia hanya akan memantulkan diriku yang lain. Bayangan itu, separuh diriku yang membenci separuh bagian lainnya. Serupa saudara kembar yang tak pernah akur. Ia sering datang dan menghunjamiku dengan penghakiman yang sudah aku mengerti tanpa ia katakan. Bahwa aku sial, miskin, dan terbuang. Semakin hari semakin tajam. Semakin dekat mengarah ke jantungku. Satu gerakan kecil akan mengakhiri semuanya tapi tak ia lakukan.

Ia tetap setia menghujatku tanpa melakukan hal lain. Mungkin, hanya itu yang ia bisa. Sialnya, ia menguasaiku sejak saat yang tak dapat kuingat. Aku selalu berusaha tak mengingat apa pun. Masa lalu memberiku banyak nyeri yang tak mau kuhitung. Aku bisa mati mengetahuinya.

Aku kalah. Ia mengantarku ke ngarai paling curam yang pernah ada. Aku tahu ia tak ingin membunuhku. Ia ingin melihatku menyerah. Ia ingin melihatku mati karena aku menginginkannya, ia tak memaksa. Aku benar-benar menyerah pada separuh diriku yang sedang tertawa.

“Aku akan melakukannya. Aku harus mati.”

Seharusnya aku berakhir di dasar ngarai jika ia tak menahanku saat itu. “Bodoh! Aku adalah bagian dari dirimu. Kau mati, aku pun mati. Aku tak mau mati dengan cara konyol seperti ini. Lagipula, aku hanya akan membiarkanmu mati jika kau sudah tahu mengapa kau hidup.”

Hari itu aku pulang dan masih hidup. Aku tak pernah bertemu dengannya lagi. Aku tak pernah takut bercermin lagi.

 

[AG, Depok. Maret 2011]

Huru-Hara Hari-Hari

Pagi membuatku duduk teratur. Di ujung ranjang, mengingat mimpi apa yang malam tadi gugur. Tiap malam, satu. Tiap hari, begitu. Kopi ini masih sama. Hitam, masam, juga meninggalkan ampas pada masa lalunya. Mirip aku, menikmati sisa pagi dengan membuntel rapat kenangan. Aku harus membuka jendela, matahari tak mengenal pengecualian. Uapkan. Uapkan.

Seseorang menghardik: jangan rusak pagi dengan kalimat langit yang kosong. Ia barangkali lupa, paginya bukan pagiku. Aku mengalamatkan kalimatku pada cermin agar memantul ia menamparku lalu merahlah pipi. Semerah harap-harap yang kehilangan cermin. Kausebut ini bual, sahihlah. Saat telinga merapat bagi suaramu, bual bisa jadi satu-satunya perkara menyenangkan. Aku membuali kepalaku sendiri.

Siang datang. Bersamanya, gamang. Dalam terang matahari, di celah-celah sempit kota, gelap isi kepala. Di hadapan, jalan seribu. Aku beranjak dan berlari dan tak menemukan apa pun. Aku seharusnya berkaca. Mendung. Di kepala semesta. Di kepalaku.

Di setiap pagi, sibuk pikir bagaimana melewati hari. Sampai pada malam meninggi, kesibukan masih sama. Hanya karena berpikir adalah cuma-cuma. Mengapa manusia harus memikirkan masa depan? Ini lebih menyakitkan dari patah hati paling buruk yang pernah kudengar. Pada akhirnya, aku tahu tak bisa berharap pada malam. Ia sudah cukup baik mengantarku menuju pagi dengan doa-doa tentang esok dan nanti.

 

[AG, Depok, Maret 2011]

 

Selamat Sore, Hujan! Terima Kasih Sudah Menyuburkan Rindu, Kenang, dan Angan.

“Dengar, pergilah sejauh mil-mil terjauh. Pergilah untuk mencari jalan pulang, ke rumahmu, Anakku.”

Telah lama pintuku tak terketuk. Rinduku sampai hingga pucuk. Terkulai pada mahadaya yang terlupa: Gusti. Benih rindu ini, Gusti, mengakar sampai paru. Menyumbat arteri-venaku. Sesak.

Hujan berhasil mengembangbiakan rindu jadi ragu. Bulir-bulirnya bisu, pun aku dalam tunggu. Di mataku, hujan menunggu Kau datang membawa payung Kita. Meneduhkan dahaga akan tunggu.

Sehampar kenang gula-gula, melayang dalam kepala. Merindu masa muda penuh gelora. Tua, terkadang, hanyalah gumpalan sia-sia.

“Aku mau pulang.”

[AG, Depok, Maret 2011]