Posts Tagged ‘ Perempuan ’

Dia Tak Perlu Negeri Dongeng

Hujan. Awan hitam timbul tenggelam di gugusan cakrawala. Bulir-bulir airnya sesekali menyibak bau tanah, mengisyaratkan bumi masih ada.

Uwi(*)

Sesekali kesejukan menyelinap pada celah ruang persegi yang mulai retak. Bukan dingin yang menggigil, hanya sejuk yang semilir melewati jendela-jendela berkarat.

Di ruang persegi yang lain anak-anak tertidur dalam peluk hangat ibunya, bapaknya, beberapa keduanya. Anak-anak itu bermimpi tentang negeri dongeng lengkap dengan ibu peri lalu angsanya pada halaman istana kerajaan awang-awang. Sebagian terjaga memburu bulir-bulir hujan. Berlari-lari mendendangkan keriangan khas mereka. Continue reading

Menarikan Perlawanan

Pada mulanya, saya hampir selalu takut tiap kali bertemu dengan orang asing. Takut mereka tak bisa menerima saya apa adanya, sebab tidak sedikit yang menganggap saya ini tidak normal. Tidak normal menurut subjektivitas kolektif. Namun, Kamis, 14 Februari 2013 ialah hari yang sungguh berbeda. Di tengah ratusan orang asing yang baru saya temui di Monas hari itu, saya merasa begitu nyaman. Begitu bebas bersuara dan bergerak. Hari itu, kami tidak berkumpul untuk merayakan Valentine. Sekalipun ada yang kami rayakan, ialah kesetaraan. Ratusan orang–lelaki, perempuan, waria, tua, muda, lesbian, gay, biseksual, hitam, putih, berkumpul dan menari.

OBR Indonesia [Yose Riandi]

OBR Indonesia [Captured by Yose Riandi]

Kami ialah orang-orang yang resah. Saat orang-orang resah berkumpul, maka lahirlah sebuah pergerakan. One Billion Rising merupakan gerakan global yang menyerukan kampanye antiperkosaan dan kekerasan terhadap perempuan. Entah berapa banyak yang hari itu menari di 11 kota di Indonesia dan banyak kota di 202 negara. Menarikan perlawanan.

Saat saya dan tim One Billion Rising Indonesia sedang menyiapkan aksi ini, sebuah pertanyaan skeptis muncul: Melawan dengan tarian? Memangnya dengan menari bisa hentikan perkosaan? Tentu, menari tidak menghentikan perkosaan. Namun dengan mengajak sebanyak-banyaknya orang menari, kami berharap dapat menumbuhkan kesadaran kolektif akan pentingnya kesetaraan dan tidak pentingnya kekerasan. Bukankah setiap tubuh berhak merasa aman?

Melawan kekerasan tidak harus dengan kekerasan atau semuanya akan berakhir jadi abu. Saya sepakat pada apa yang dikatakan Kartika Jahja saat berdialog mengenai Diskriminasi Terhadap Perempuan sebagai Salah Satu Bentuk Kekerasan di Coffee War, Kemang (9/2), “Saya meyakini perlawanan dengan merangkul lengan, bukan dengan mengepalkan tangan.” Jadi, kalau kita bisa saling peluk, kenapa harus saling tunjuk?

STRIKE! [Captured by Gyrass]

DANCE! [Captured by Advena]

DANCE! [Photo by Advena]

obr by jose 2

RISE! [Captured by Yose Riandi]

One Billion Rising Indonesia ialah gerakan dari kita untuk kita tanpa bendera organisasi atau institusi apapun. Hanya ada satu bendera: kesetaraan. Semua dana yang digunakan untuk kegiatan ini berasal dari penjualan kaos dan sumbangan orang-orang yang peduli pentingnya hidup saling mengasihi. Maka kepada siapapun yang telah mendukung aksi ini, saya mengucapkan terima kasih. Terima kasih telah ambil bagian untuk bangkit bersama melawan kekerasan. Semoga ini bisa menjadi awal yang baik untuk hidup yang lebih baik. Mari bangkit!

BANGKIT! [Photo by Gyrass]

BANGKIT! [Captured by Gyrass]

Lawan Perkosaan! [Designed by Metavana]

Lawan Perkosaan! [Designed by Metavana]

I am rising because women are not men’s attribute. Vice versa!

Pancoran, 16 Februari 2013

————————————–

Pemberitaan aksi OBR Indonesia dapat dibaca di: ALJAZEERA | The Jakarta Post | Kompas.com | Surya Online | Bangka Pos | Bulgarian New Agency | Metro TV | Tempo | Lensa Indonesa | The Christian Science Monitor | Guardian