Posts Tagged ‘ Sajak ’

Ada yang Menari di Dalam Kepalaku

ada yang menari di dalam kepalaku
kadang ia seorang bapak tua
setia membawa pisau
terlipat dalam sepatu
tajam memangkas
semaunya

ada yang menari di dalam kepalaku
kadang ia seorang perempuan
lengkap dengan kantung
berisikan cahaya
tapi tak tampak
silaunya

ada yang menari di dalam kepalaku
kadang ia seorang bocah laki-laki
yang ingin menangis
lantang sekali
namun tak ada
suaranya

[2013]

Perempuan dalam Tubuhku

_MG_5301

perempuan dalam tubuhku gemar sekali menonton televisi sepanjang hari sepanjang minggu sepanjang bulan sepanjang tahun yang melambat berkat drama akal-akalan tentang harga diri dan buramnya alat-alat kencing

IMG_20130417_152644

perempuan dalam tubuhku gemar sekali mengangkat tangan sampai dada sepanjang hari sepanjang minggu sepanjang bulan sepanjang tahun yang sepi mirip rapalan doa tersembunyi sebab amin sibuk membangun surganya sendiri

IMG_20130417_153009

perempuan dalam tubuhku gemar sekali duduk berlama-lama sepanjang hari sepanjang minggu sepanjang bulan sepanjang tahun yang tak ingin diulanginya sebab berdiri di atas kaki sendiri seringkali tak lebih dari sekadar keganjilan

IMG_20130415_004627

perempuan dalam tubuhku gemar sekali mengunci punggungnya sepanjang hari sepanjang minggu sepanjang bulan sepanjang tahun yang merunduk dan begitu ingin dipanen tapi mati mengering sebab paman petani hijrah ke kota besar

(Depok, 2012)

*Foto: Tegar Umbara

Abu dan Usaha Bunuh Diri yang Terlambat

Abu

Engkau,
sajak pesona tak berjarak, menjadikan aku
si buta ingin belajar membaca.

Engkau meredup, aku meraba.
Jantungku berdegub, napasmu kujaga.
Sesaat setelah kau melangkahkan kaki,
napasku tak berhenti.

Satu harapanku berhenti.

Lalu engkau menulis sajak, serta merta
dadaku sesak. Cemerlang di matamu
bagai bahagia dalam opera. Menangislah.

Aku merelakan kita
jadi anak persetubuhan api dengan kayu.

(2011)

 

Usaha Bunuh Diri

keriaan masa lampau ialah rayap
dan kau kursi malas yang bergoyang-goyang
lalu tumbang sendiri

karena sepasang lenganmu kalah luas
dari bayang-bayang panggung yang emas

(2012)

 

Terlambat

hidup bertumbuh jadi melankolia berbaju penyesalan
tapi siapa sanggup menolak takdir dan aku terlanjur mangkir
dikuasai biru kemalangan sebelum kaulancarkan aba-aba
              siapa pula sanggup mengukur kita?

(2012)

Usai Membaca Resep Sederhana Mengawetkan Cinta

 

hari ini aku membaca sajak Aan Mansyur
perihal resep sederhana mengawetkan cinta
kerongkongan dan kepalaku tersedak tiba-tiba
oleh sebuah nama yang bersemi di musim gugur

Sum, musuh kecoak-kecoak dapur
pernah suatu pagi kakiku sakit sekali
dipukulnya dengan sapu ijuk berkali-kali
sebab sesuatu mesti dibiarkan mengendur

hal yang terlalu kuat itu tak baik, katanya
seperti kencang langkah lelaki pemburu surga
melimbung tersandung gedung yang mega
menumpahkan jalan pulang dari sakunya

(2012)

Mereka Menyebutnya Siklus, Aku Menyebutnya Sirkus

 

sebatang pohon melancar kencang —seperti motor di jalan lengang; seperti mellophone berpelantang; seperti jarum jahit di pelukan mesin tua dan benang-benang; seperti pena yang mencatat dirinya sendiri dalam agenda terbuang

dilewatinya batu-batu, diinjaknya tahi-tahi kambing
lalu, bagai drama televisi, lajunya melambat —menjadi sepeda gunung

sebab cermin memburam, kopi terlalu masam,
kunci rumah merupa makam

 

Oktober di Bogor, 2012

Jumat Petang di Jalan Sudirman

Jumat malam ramai sekali kepalaku ramai sekali: sibuk mengingat jalan yang pernah aku dan kamu lalui sebagai kita, membuatku pulang terlambat sebab lalulintas padat dan aku tersendat di persimpangan –tempat lenganmu melepaskan diri dari tubuhku yang mencintai warna-warni lampu dari gedung-gedung, serupa cahaya matamu: menawan dan terlalu tinggi.

Aku masih berjalan di trotoar.

Jakarta, September 2012

 

Arus Balik

 
Dua kota adalah aku dan engkau.
Lalu tibalah kita di perbatasan,
menancapkan palang sendiri-sendiri
–menjadi asing.
 
 

 Depok, 2012