Posts Tagged ‘ Surat Cinta ’

Kepada Tuan Penunggu

Hari itu aku datang terlambat dan kau masih di tempat. Tempat aku berjanji akan menemuimu.

Dalam perjalanan, aku memasrahkan diri jika kemudian hanya angin yang kutemui. Namun kau di sana, setia menungguku yang gemar tak menepati waktu. “Aku sudah terbiasa menunggu,” katamu. Aku tahu kau telah menunggu bertahun-tahun kesendirian hingga pertemuan pertama kita, ketidaksengajaan yang amat kusyukuri.

Melalui surat ini, izinkanlah aku berterima kasih karena telah kau curi waktuku yang sedikit ini dan menggantinya dengan kesenangan yang tak dapat dihitung.

Jika pada kemudian hari bukan aku yang kautemui dan itu membuatmu bersedih, ingatlah seseorang pernah begitu bahagia dalam kikuk jumpa pertamanya denganmu, aku. Jika pada kemudian hari tiada lagi yang kau tunggu sebab seseorang yang bukan aku telah membuatmu merasa utuh, ingatlah telah kurelakan kita sebagai singgahmu yang tak dapat kusanggah. Terima kasih sudah bersedia mengenalku di antara banyak kemungkinan yang lebih baik untukmu.

Kau dan aku saling tahu bahwa kita tak lebih dari sekadar kesementaraan yang mengenal usai. Terima kasih telah memulainya, Tuan.

Sejak mengenalmu, aku mengenal aku.

Advertisements

Surat untuk Perempuan yang Namanya Ada dalam Tubuhku

Dear Fibula

Aku tak pernah habis pikir mengapa orang tuamu menamaimu begitu. Salah satu bagian tubuh manusia. Salah satu bagian tubuhku. Kau, bukanlah satu-satunya perempuan yang aku cintai. Aku mencintai ibuku lebih dari aku mencintaimu. Tapi kau bisa jadi orang yang paling mempengaruhi keseimbangan pikiran dan perasaanku saat itu. Kau perempuan kedua yang membuatku nyaman berada di sampingnya setelah ibuku

Aku tahu sebenarnya aku tak cukup tahu banyak tentang dirimu. Ironis? Tidak. Itu hal biasa dalam hidup. Aku memahami benar bahwa tak semua hal bisa dan harus diketahui. Bahkan perihal kekasih hati sekalipun.

Aku tak pernah mempertanyakan ketakutanmu pada binatang-binatang. Aku tak pernah menanyakan tentang reaksi spontanmu setiap kali ada tangan jahil menyentuh bagian kecil tubuhmu. Kau begitu sensitif, juga lucu. Aku tak pernah mempertanyakan soal warna ungu kegemaranmu. Aku menerima semua itu sebagai bagian dari dirimu. Bagian yang melengkapi keutuhan hidupmu.

Mengapa kita harus selalu tahu? Setiap orang memiliki sisi yang hanya miliknya dan enggan berbagi pada siapa-siapa. Sisi gelap, terang, abu-abu. Apa kita harus mengetahui semuanya seolah kita punya hak untuk itu? Tidak. Kebenaran punya waktunya sendiri untuk mengungkapkan dirinya. Itu sikapku terhadap segala rahasia yang mungkin kau simpan dariku.

Aku pernah mencintaimu dengan segala teka-teki yang melekat dalam hidupmu. Apa pun itu, karena aku pernah mencintaimu tanpa syarat. Aku pernah mencintaimu bukan karena kau adalah kekasihku. Bukan juga karena kau berada di kedua kakiku. Aku pernah mencintaimu dengan kesadaran. Aku menyadari betul sejuta nyaman yang sempat kau berikan. Ya, aku senang bersamamu.

Seperti yang kubilang soal kebenaran, ia telah memilih waktunya. Kau tahu aku tak akan pernah menikahi gadis mana pun. Kau tahu aku lebih memilih mengencani sesamaku. Semesta telah memanggil dan aku tak bisa bersembunyi lebih lama.

Satu hal yang kau juga perlu tahu: tak pernah ada bual, juga kepura-puraan, saat aku menggenggam tanganmu dulu.

Andi