Posts Tagged ‘ Pidato ’

Seno Gumira Ajidarma: Media sebagai Panglima

Orasi untuk Pesta Media 2013

Seno Gumira Ajidarma (Wikipedia)

Seno Gumira Ajidarma (Wikipedia)

Puan-puan dan Tuan-tuan yang Terhormat,

Media bukanlah kenyataan, media adalah konstruksi kenyataan, dengan pencapaian yang sangat berdaya, sehingga nyaris merupakan ilusi kenyataan yang sempurna. Dalam pencapaian ini, media menjadi situs perjuangan berbagai kelompok, untuk menancapkan versi kenyataan menurut kepentingannya masing-masing, dalam suatu proses hegemoni tanpa akhir. Dalam proses sosial politik semacam itulah, berlangsung perlawanan kelompok terbawahkan maupun negosiasi kelompok dominan terhadap perlawanan itu, agar dalam konsesus sosial dari saat ke saat, dominasi wacana kelompoknya tetap bertahan.

Dalam pemahaman semacam ini, mungkinkah media tetap netral? Seperti telah dibuktikan, ternyata sama sekali tidak—bukan karena media telah mengkhianati cita-cita kelahirannya sendiri, melainkan karena konsep netral memang merupakan mitos yang sudah gugur. Kata netral tetap ada dan akan selalu ada, tetapi yang maknanya menjadi ajang perebutan berbagai kepentingan tersebut, sehingga media manapun akan disebut netral hanya sejauh menguntungkan diri atau kelompoknya. Netral tidaknya media tidaklah melekat dan terdapat pada media itu sendiri, melainkan adalah produksi wacana.

Demikianlah aliran berbagai kepentingan yang berusaha membebankan maknanya sendiri, mulai dari kepentingan ideologis sampai kepentingan finansial, dari saat ke saat membentuk arus berita dengan keterlibatan para wartawan di dalamnya.

Puan-puan dan Tuan-tuan yang Tentu Saja Saya Muliakan,

Menjadi penting untuk mempertanyakan sekarang, pertama, apakah wartawan mengikuti arus? Ataukah, kedua, para wartawan setidaknya berusaha menentukan ke mana arus berita bisa dibawa? Continue reading

Advertisements

Inspirasi Hari Ini, Terang Hari Esok

Naskah pidato pembukaan Pekan Film untuk Kebangkitan Nasional, 19 Mei 2011, Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. HAMKA, Jakarta Selatan.

Bangkit adalah terbangun dari jatuh, lalu kembali berdiri: tegak. Kebangkitan Nasional adalah momentum bangkitnya rasa dan semangat persatuan, kesatuan, dan nasionalisme, serta kesadaran untuk memerjuangkan kemerdekaan Republik Indonesia, yang sebelumnya tidak pernah muncul selama penjajahan Belanda, juga Jepang. Masa itu ditandai dengan dua peristiwa penting: berdirinya Boedi Oetomo pada 20 Mei 1908, serta ikrar Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 1928.

Hari ini, menjelang Hari Kebangkitan Nasional ke-103, Majelis LAJAR DJINGGA ingin mengajak masyarakat, khususnya mahasiwa, untuk bangkit. Bangkit dari modernitas pikiran yang perlahan mengikis habis nilai-nilai kebangsaan. Bangkit dari kepraktisan pikiran, menuju masa depan Bangsa yang lebih etis dengan etos pemahaman kritis.

Gandi pernah berujar: bahwa masa depan tergantung pada apa yang kita lakukan hari ini. Yang sedang dilakukan oleh Majelis Sinema LAJAR DJINGGA hari ini, semata-mata demi tumbuh-kembang pola berpikir kaum muda. Bukankah pemuda adalah generasi penerus bangsa? Bukankah pemuda adalah penentu arah masa depan Bangsa?

Bangsa yang besar adalah bangsa yang siap menghadapi tantangan, dan berhasil bangkit dari permasalahan yang dihadapinya. Untuk menghadapi segala permasalahan, maka diperlukan pemikiran yang kritis. Inilah yang sedang diupayakan oleh Majelis Sinema LAJAR DJINGGA, membiasakan berpikir kritis. Dengan berpikir kritis, kita menjadi tahu bahwa segala hal tak harus diterima bulat-bulat. Bahwa kita, sebagai bagian dari kesatuan, berhak menyaring apa-apa yang menerpa peradaban Bangsa, guna terwujudnya rasa kebersatuan yang sesuai dengan nila-nilai luhur, yang telah ada jauh sebelum Indonesia merdeka.

Dalam sejarahnya, Indonesia berkali-kali harus berterima kasih pada mahasiswa. Pergerakan-pergerakan mahasiswa telah banyak turut andil dalam kehidupan berbangsa. Hari ini, ke manakah pergerakan mahasiswa menuju? Ke jalan-jalan besar di bawah matahari dan meneriakkan hal yang bahkan mereka tak tahu? Mengangkat umbul-umbul yang pembuatnya tak kasat mata demi sebuah isi amplop? Atau bergeliat di kampus dan saling-injak dengan pengguna almamater berwarna sama, alih-alih menegakkan ideologi?

Majelis Sinema LAJAR DJINGGA, melalui Pekan Sinema ini, berusaha menggerakkan lagi para tenaga muda untuk berpikir. Berpikir dan menjadi lebih peka pada kehidupan berbangsa dengan film-film pilihan. Kami berharap, waktu yang sepekan ini,dapat menjadi pemecut inspirasi untuk menerangkan langkah pergerakan kaum muda, demi masa depan Bangsa. Maka, jadikanlah inspirasi hari ini, sebagai jalan terang hari esok.

Salam Persatuan.

Majelis Sinema LAJAR DJINGGA

Jakarta, 19 Mei 2011