Archive for the ‘ Memoar ’ Category

Kepada Tuan Penunggu

Hari itu aku datang terlambat dan kau masih di tempat. Tempat aku berjanji akan menemuimu.

Dalam perjalanan, aku memasrahkan diri jika kemudian hanya angin yang kutemui. Namun kau di sana, setia menungguku yang gemar tak menepati waktu. “Aku sudah terbiasa menunggu,” katamu. Aku tahu kau telah menunggu bertahun-tahun kesendirian hingga pertemuan pertama kita, ketidaksengajaan yang amat kusyukuri.

Melalui surat ini, izinkanlah aku berterima kasih karena telah kau curi waktuku yang sedikit ini dan menggantinya dengan kesenangan yang tak dapat dihitung.

Jika pada kemudian hari bukan aku yang kautemui dan itu membuatmu bersedih, ingatlah seseorang pernah begitu bahagia dalam kikuk jumpa pertamanya denganmu, aku. Jika pada kemudian hari tiada lagi yang kau tunggu sebab seseorang yang bukan aku telah membuatmu merasa utuh, ingatlah telah kurelakan kita sebagai singgahmu yang tak dapat kusanggah. Terima kasih sudah bersedia mengenalku di antara banyak kemungkinan yang lebih baik untukmu.

Kau dan aku saling tahu bahwa kita tak lebih dari sekadar kesementaraan yang mengenal usai. Terima kasih telah memulainya, Tuan.

Sejak mengenalmu, aku mengenal aku.

Advertisements

Kepada RW

Saya sedang meminum kopi sembari menanggung rindu kepada kekasih yang jauh dan tak sempurna saat mendengar kabar telah lahir seorang bayi perempuan dari rahimmu yang tangguh. Tak berselang lama, saya teringat saudariku yang lebih jauh dan tak sempurna. Ia suster di Singapura yang meninggalkan empat orang anak di pangkuanku.

Tuti hamil pertama kali sebelum menikah. Kehamilan itu memaksanya menikah dan menjadi istri bagi suami yang kemudian hari gemar memukul dan menelantarkan bocah-bocah tak bersalah. Saya jadi tahu, pernikahan ternyata bukan tujuan melainkan permulaan jalan panjang yang melelahkan. Terberkatilah mereka yang mampu bertahan secara baik.

Kepergian Tuti bekerja demi masa depan anak-anaknya menjadikan saya ibu. Percayalah RW, mengasuh anak bukan pekerjaan mudah. Sayangnya hidup tercipa sepaket dengan kesulitan-kesulitan penuh kejutan. Sungguh saya terkejut mengetahui bagaimana kau diperlakukan oleh pria penyair itu.

Continue reading

Dia Tak Perlu Negeri Dongeng

Hujan. Awan hitam timbul tenggelam di gugusan cakrawala. Bulir-bulir airnya sesekali menyibak bau tanah, mengisyaratkan bumi masih ada.

Uwi(*)

Sesekali kesejukan menyelinap pada celah ruang persegi yang mulai retak. Bukan dingin yang menggigil, hanya sejuk yang semilir melewati jendela-jendela berkarat.

Di ruang persegi yang lain anak-anak tertidur dalam peluk hangat ibunya, bapaknya, beberapa keduanya. Anak-anak itu bermimpi tentang negeri dongeng lengkap dengan ibu peri lalu angsanya pada halaman istana kerajaan awang-awang. Sebagian terjaga memburu bulir-bulir hujan. Berlari-lari mendendangkan keriangan khas mereka. Continue reading

Merdeka dalam Bercinta

Di hari kemerdekaan ke-67 Indonesia ini, saya mau cerita tentang kemedekaan saya dalam bercinta. Iya, bercinta.

Semua berawal hari itu. Saya lupa tepatnya. Yang saya ingat, sore itu, di kampus, saya putus. Ha-ha-ha. Sejak hari itu, saya bukan pacar Fibula lagi. Dia bukan gadis paling cantik di kampus, tapi dia perempuan kedua yang berhasil beri saya kenyamanan setelah ibu saya. Sekonyong-konyong, setelah tahu saya putus, bukannya dihibur, malah dinyanyikan Akhir Cerita Cinta. Satria orangnya, anak band paling kece di kampus waktu itu. Dia mirip Saiful Jamil, suka nyanyi selagi ada kesempatan. Masa muda memang konyol, ya?

Sedih? Jangan tanya! Saya sedih banget. Lebih sedih dari Anang saat KD direbut Raul Lemos. Iya, begitulah. Fibula itu pacar ketujuh saya. Sampai sekarang saya sudah 8 kali pacaran. Lima kali dengan perempuan, sisanya laki-laki. Jangan protes ya, saya memang bukan orang suci. Tapi setidaknya saya tahu apa yang saya mau.

@vivi_vibula

Putusnya saya dari Fibula ini semacam mengantarkan saya ke pintu gerbang kemerdekaan bercinta. Setelah hari itu, saya tidak pernah lagi menggoda perempuan. Mereka bukan minyak kayu putih yang bisa dicoba-coba macam di iklan. Sejak hari itu, saya memerdekakan orientasi seksual saya. Mantap tanpa gelagap. Pada akhirnya, tanpa sadar, Fibula memberikan saya sebuah pemahaman: bahwa cinta tak berjenis kelamin. Kami berteman baik sekarang.

Beginilah cara saya memerdekakan diri.
Beginilah cara saya mencintai diri sendiri.
Kamu?
 

——————————————————–

Catatan: Halaman ini diikutsertakan dalam #ceritacintamerdeka @17thglennfredly ^.^

Surat untuk Perempuan yang Namanya Ada dalam Tubuhku

Dear Fibula

Aku tak pernah habis pikir mengapa orang tuamu menamaimu begitu. Salah satu bagian tubuh manusia. Salah satu bagian tubuhku. Kau, bukanlah satu-satunya perempuan yang aku cintai. Aku mencintai ibuku lebih dari aku mencintaimu. Tapi kau bisa jadi orang yang paling mempengaruhi keseimbangan pikiran dan perasaanku saat itu. Kau perempuan kedua yang membuatku nyaman berada di sampingnya setelah ibuku

Aku tahu sebenarnya aku tak cukup tahu banyak tentang dirimu. Ironis? Tidak. Itu hal biasa dalam hidup. Aku memahami benar bahwa tak semua hal bisa dan harus diketahui. Bahkan perihal kekasih hati sekalipun.

Aku tak pernah mempertanyakan ketakutanmu pada binatang-binatang. Aku tak pernah menanyakan tentang reaksi spontanmu setiap kali ada tangan jahil menyentuh bagian kecil tubuhmu. Kau begitu sensitif, juga lucu. Aku tak pernah mempertanyakan soal warna ungu kegemaranmu. Aku menerima semua itu sebagai bagian dari dirimu. Bagian yang melengkapi keutuhan hidupmu.

Mengapa kita harus selalu tahu? Setiap orang memiliki sisi yang hanya miliknya dan enggan berbagi pada siapa-siapa. Sisi gelap, terang, abu-abu. Apa kita harus mengetahui semuanya seolah kita punya hak untuk itu? Tidak. Kebenaran punya waktunya sendiri untuk mengungkapkan dirinya. Itu sikapku terhadap segala rahasia yang mungkin kau simpan dariku.

Aku pernah mencintaimu dengan segala teka-teki yang melekat dalam hidupmu. Apa pun itu, karena aku pernah mencintaimu tanpa syarat. Aku pernah mencintaimu bukan karena kau adalah kekasihku. Bukan juga karena kau berada di kedua kakiku. Aku pernah mencintaimu dengan kesadaran. Aku menyadari betul sejuta nyaman yang sempat kau berikan. Ya, aku senang bersamamu.

Seperti yang kubilang soal kebenaran, ia telah memilih waktunya. Kau tahu aku tak akan pernah menikahi gadis mana pun. Kau tahu aku lebih memilih mengencani sesamaku. Semesta telah memanggil dan aku tak bisa bersembunyi lebih lama.

Satu hal yang kau juga perlu tahu: tak pernah ada bual, juga kepura-puraan, saat aku menggenggam tanganmu dulu.

Andi

Destinasi sebelum Mati

  • BALI

Aku hanya ingin mengantar Ibu. Beliau sangat ingin tahu kenapa pulau kecil ini begitu digemari. Jika tercapai, ini akan jadi liburan pertama kami setelah puluhan tahun. Beliau sudah lupa bagaimana caranya berlibur. Semoga aku memiliki kesempatan untuk mengingatkan kembali caranya.

  • TANAH SUCI

Hampir setiap Muslim ingin ke sana, atas nama ibadah. Tak terkecuali Ibuku. Sekalipun aku mampu membiayainya, aku tak akan membiarkan Ibuku pergi sendiri. Tak ada yang menjamin kau akan terhindar dari petaka, bahkan di tanah yang disebut suci. Ya, aku hanya ingin menemani Ibu.

  • PASAR KLEWER, SOLO

Sekali waktu Ibu mengeluh karena tak pernah lagi mendapat hadiah dari Bapak. Jangankan perhiasaan, kutang pun tidak. Di waktu lainnya, Ibu bilang ada tukang kredit daster batik keliling. Batik dari Solo, katanya. Ibu kepingin tapi tak berani bilang. Ya, aku ingin sekali ke Pasar Klewer, untuk sebuah daster, untuk Ibu.

  • RIAU

Anak pertama Ibuku laki-laki, seorang kakak tiri. Setelah menikah, ia memilih tinggal di kampung halaman istrinya, Riau. Setelah ia pergi, Ibu menikah dengan Bapakku dan berkali-kali pindah alamat. Hilanglah kontak antara Ibu dan anak. Ya, aku ingin sekali ke Riau. Mengantar Ibuku pada anaknya.

  • MAKAM IBU

Hanya jika Ia meninggal lebih dulu dariku. Aku ingin Ibu, atau nisannya, sebagai tempat terakhir yang kudatangi sebelum mati. Meminta maaf jika ternyata aku tak bisa menyusulnya ke Surga.

 

[AG, Depok, Mei 2011]

Menunggu Pintu Terketuk

Mba Iin.

Tempo hari Bapak pulang kerja bawa martabak telur, kehujanan. Keponakan-keponakan kita berebut, takut tak dapat bagian. Uwi sibuk memisahkan daun bawang dari martabak, mirip yang kau lakukan, baru kemudian ia makan. Mendadak, aku dan Ibu saling pandang. Aku dan Ibu mau kamu segera pulang.

O, ya, aku lupa menanyakan, apa kabar Mba? Semoga tak ada lagi lebam di muka. Semoga tak ada lagi tangisanmu di tengah malam buta. Semoga anakmu, Erin, tercukupi asupannya.

Mba, aku tahu kau merasa bersalah. Aku tahu mengawini pria yang tak kauingini itu tak mudah. Aku tak minta kau untuk pasrah. Hanya saja, ini adalah resiko yang harus kau terima. Mungkin, aku lupa mengingatkanmu soal resiko dulu. Bahwa selalu ada resiko tak peduli kecil-besar perilaku. Aku tahu ini bukan pilihanmu. Ini total ego lelaki itu.

Aku masih tak habis pikir tentang caranya memisahkan kau dari keluargamu, dari aku. Aku tak pernah sudi memberinya predikat kakak ipar meski ia ayah dari keponakanku .

Aku sempat kecewa saat kau terakhir pulang. Ternyata, kau masih tak lepas dari monopoli si hidung belang. Kukira, kau tak akan pernah luluh lagi pada si bajingan. Aku tahu kau punya alasan. Perkara anakmu dan sebuah masa depan. Semoga kau tak lagi salah jalan. Aku pesan satu: sejauh apa pun kau mengikuti pria terkutuk itu, aku harap kau tak melupakan jalan pulang. Aku menunggu ketukanmu di pintu, pun Ibu.

Depok, 15 Januari 2011

A, saudara lelakimu