Posts Tagged ‘ Cinta ’

Beberapa Hal yang Mesti Kau Catat lalu Kau Baca Saat Merasa Sendiri

Ada yang diam-diam ingin disapa olehmu. Percayalah.

Ada yang mengharap pertemuan kedua, setelah matamu mendarat di matanya, tanpa aba-aba. Ada yang setiap hari terbangun buru-buru, demi sebuah frasa ‘Selamat pagi’ dari bibirmu. Ada yang tak pernah berhenti mencatat. Sebab, setiap kalimatmu adalah peta. Ia tak mau tersesat.

Ada mata yang berbinar sempurna dalam tunduk sipu, tiap kau sebut sebuah nama, miliknya. Ada yang mengembangkan sesimpul lengkung di bibirnya, di balik punggungmu, malu-malu. Ada yang memilih terduduk saat jarakmu berdiri dengannya hanya beberapa kepal. Lututnya melemas, tiba-tiba. Ada yang tak pernah melepas telinganya dari pintu. Menunggu sebuah ketukan darimu.

Ada yang dadanya terasa berat dan kau tak pernah tahu, saat kau tak tertangkap matanya beberapa waktu. Ada yang pernah merasa begitu utuh, setelah kaki-kaki menjejak jauh darinya. Sekarang, runtuh.

Ada yang diam-diam mendoakanmu, dalam-dalam.

Percayalah.

[Pondok Indah, 9 Februari 2012]

Advertisements

Mengabdi Diam

Meski berjalan kaki sepanjang hari, kunikmati. Bersamamu bagai jarang yang hakiki. Mungkin aku tak bisa memelukmu lebih rapat, lebih hangat, tetapi doa baik buatmu kurapal tanpa kenal kiamat. Biarkanlah aku jadi yang setia mengingat hal-hal tentangmu, karena hanya dalam kepala bisa kurengkuh dirimu. Hitam putih punggungmu pun takkan mengaburkan pandanganku buatmu, meski dari jauh.

Aku mencintaimu karena caramu mencintainya. Caramu mencintainya tak meluruhkan caraku mencintaimu. Aku bertahan dalam gagu. Segalanya terlalu logis. Aku mungkin tak bisa bertahan lebih lama, lebih tak mungkin mengharapkan perkara magis.

Jika ternyata cinta ialah kepasrahan, maka aku akan mengabdi kepada diam.

[AG, Jakarta, Juli 2011]

*ilustrasi diunduh dari sini