Sabtu, 17 Desember 2011. Balai Sidang Jakarta dipenuhi kepala bertoga. Saya mengenal sebagian besar kepala itu. Mereka mahasiswa Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Komunikasi dan Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka, Jakarta Selatan, angkatan 2007. Mereka teman-teman saya. Mereka sarjana. Seharusnya, saya berada di antara mereka, mengenakan toga yang sama.
Saya hanya sempat menempuh 4 semester belajar Komunikasi Massa (Jurnalistik) bersama mereka. Pertengahan 2009, sesuatu yang tiba-tiba terjadi. Sebuah peristiwa yang merusak mimpi saya, juga mimpi ibu. Peristiwa yang membuat ibu saya selalu merasa bersalah karena saya mesti berhenti kuliah. Saya tahu persis, itu bukan salahnya.
Segala yang terjadi adalah kehendak semesta yang kekuatannya tak mampu saya cegah, bahkan dengan mantra tersakti sekali pun. Saya merasa kalah. Saya dan mereka berjalan dari garis awal yang sama, mengapa harus berakhir berbeda? Saya sempat merasa jadi orang yang paling tidak beruntung. Berhenti kuliah, sulit mencari pekerjaan hanya dengan ijazah SMA. Pesimistis. Saya menyebut diri pecundang, saat itu.
Melihat anaknya sepanjang hari di rumah, hidup tanpa gairah, dan merasa kalah, ibu saya bangkit lebih cepat dari keterpurukan yang ada. Ia meyakinkan saya bahwa siapa saja bisa mengalami kekalahan, tapi kalah tidak sama dengan gagal. Ibu hanya memberi satu saran, “Teruslah berbuat baik. Orang baik akan mendapatkan hal yang baik pula.”
Seperti kuda pemalas yang terkena pecut, saya bangun. Saya belajar lagi berjalan. Kali ini tanpa papahan siapa pun. Saya mulai mencoba berjalan dengan kaki saya sendiri. Biar saat terjatuh nanti, tak ada tangan yang saya salahkan. Saya mulai bersemangat. Saya mulai menulis.
Singkat cerita, saya mulai bekerja. Serabutan. Tiap ada kesempatan bekerja, tak saya abaikan. Mulai dari pelayan restoran, sales promotion boy, pemandu acara, hingga staf administrasi perusahaan pengembang. Di sela-sela bekerja, saya selalu menulis. Menulis apa saja yang melintas dalam kepala, biar tak menguap sia-sia menghasilkan lupa. Tak lama, saya menerbitkan buku pertama. Sebuah antologi prosa bertajuk “Kejutan!”
Ibu mulai bisa tersenyum lagi. Beliau yang buta huruf meminta saya membacakan apa yang saya tulis dalam buku itu. Perlahan, dari lembar satu ke lembar berikutnya. Kami menangis bersama.
Kami menangis lagi, bersama, saat saya diterima bekerja jadi wartawan, tujuh bulan lalu. Kami sama senangnya sebab saya bisa mengerjakan hal yang saya suka, menulis. Tanpa ijazah S1, hanya bermodal rekomendasi seorang teman baru dan beberapa halaman contoh tulisan di Kompasiana, saya jadi wartawan. Sebut ini sebagai sebuah pencapaian, tapi saya tetap berhutang pada ibu. Saya berhutang jadi sarjana padanya. Read more