Dua Lusin Sajak Pendek Tentang Sebuah Nama Tiga Aksara: Kau

1

Ini kembang api dan

tak ada perayaan.

Aku mencintaimu

adalah kebiasaan.

 

2

Akan datang suatu hari

paling baik, saat aku dan engkau

berhenti saling berbisik.

 

3

Jalan-jalan lengang.

Menemani lengang dadaku

merindukan lapang

pelukmu.

 

4

Malam ini,

kau seperti buah yang

terlalu matang,

ingin dipetik siapa saja.

 

5

Pagi-pagi sekali,

aku ingin mandi lalu

mengantarkan matahari

ke halaman matamu.

 

6

Jika ternyata cinta ialah kepasrahan,

maka aku akan mengabdi

kepada diam. Read more

Surat untuk Perempuan yang Namanya Ada dalam Tubuhku

Dear Fibula

Aku tak pernah habis pikir mengapa orang tuamu menamaimu begitu. Salah satu bagian tubuh manusia. Salah satu bagian tubuhku. Kau, bukanlah satu-satunya perempuan yang aku cintai. Aku mencintai ibuku lebih dari aku mencintaimu. Tapi kau bisa jadi orang yang paling mempengaruhi keseimbangan pikiran dan perasaanku saat itu. Kau perempuan pertama yang membuatku nyaman berada di sampingnya setelah ibuku

Aku tahu sebenarnya aku tak cukup tahu banyak tentang dirimu. Ironis? Tidak. Itu hal biasa dalam hidup. Aku memahami benar bahwa tak semua hal bisa dan harus diketahui. Bahkan perihal kekasih hati sekalipun.

Aku tak pernah mempertanyakan ketakutanmu pada binatang-binatang. Aku tak pernah menanyakan tentang reaksi spontanmu setiap kali ada tangan jahil menyentuh bagian kecil tubuhmu. Kau begitu sensitif, juga lucu. Aku tak pernah mempertanyakan soal warna ungu kegemaranmu. Aku menerima semua itu sebagai bagian dari dirimu. Bagian yang melengkapi keutuhan hidupmu.

Mengapa kita harus selalu tahu? Setiap orang memiliki sisi yang hanya miliknya dan enggan berbagi pada siapa-siapa. Sisi gelap, terang, abu-abu. Apa kita harus mengetahui semuanya seolah kita punya hak untuk itu? Tidak. Kebenaran punya waktunya sendiri untuk mengungkapkan dirinya. Itu sikapku terhadap segala rahasia yang mungkin kau simpan dariku.

Aku pernah mencintaimu dengan segala teka-teki yang melekat dalam hidupmu. Apa pun itu, karena aku pernah mencintaimu tanpa syarat. Aku pernah mencintaimu bukan karena kau adalah kekasihku. Bukan juga karena kau berada di bawah kakiku. Aku pernah mencintaimu dengan kesadaran. Aku menyadari betul sejuta nyaman yang sempat kau berikan. Ya, aku senang bersamamu.

Seperti yang kubilang soal kebenaran, ia telah memilih waktunya. Kau tahu aku tak akan pernah menikahi gadis mana pun. Kau tahu aku lebih memilih mengencani sesamaku. Semesta telah memanggil dan aku tak bisa bersembunyi lebih lama.

Satu hal yang kau juga perlu tahu: tak pernah ada bual, juga kepura-puraan, saat aku menggenggam tanganmu dulu.

Andi

Pulang

hari terakhir bulan merah jambu tahun kabisat
pada gugusan ilalang gersang di utara kota
senyummu menggeliat
di bawah matahari yang terluka

gerakmu menasbihkan kemasygulan dunia kini
genit lincah ke sana kemari
tak peduli matahari sedang luka
inginku kau kubawa pulang saja

sore bergerak mengiringi matahari ke ufuknya
pada sebuah restoran bergaya Perancis kau menyanyikan lagu luka
aku tahu lukamu tak sebolong matahari siang tadi
tak semerunduk petani gagal panen padi

kau sudahi alunanmu pada lagu ketiga
gincumu masih memerah, semerah luka

ingin kuhapus kepalsuan bibirmu dengan sebuah romansa
inginku kau kubawa pulang saja

[Minggu, 28 Pebruari 2010]

 

Beberapa Hal yang Mesti Kau Catat lalu Kau Baca saat Merasa Sendiri

 

Ada yang diam-diam ingin disapa olehmu. Percayalah.

Ada yang mengharap pertemuan kedua, setelah matamu mendarat di matanya, tanpa aba-aba. Ada yang setiap hari terbangun buru-buru, demi sebuah frasa ‘Selamat pagi’ dari bibirmu. Ada yang tak pernah berhenti mencatat. Sebab, setiap kalimatmu adalah peta. Ia tak mau tersesat.

Ada mata yang berbinar sempurna dalam tunduk sipu, tiap kau sebut sebuah nama, miliknya. Ada yang mengembangkan sesimpul lengkung di bibirnya, di balik punggungmu, malu-malu. Ada yang memilih terduduk saat jarakmu berdiri dengannya hanya beberapa kepal. Lututnya melemas, tiba-tiba. Ada yang tak pernah melepas telinganya dari pintu. Menunggu sebuah ketukan darimu.

Ada yang dadanya terasa berat dan kau tak pernah tahu, saat kau tak tertangkap matanya beberapa waktu. Ada yang pernah merasa begitu utuh, setelah kaki-kaki menjejak jauh darinya. Sekarang, runtuh.

Ada yang diam-diam mendoakanmu, dalam-dalam.

Percayalah.

 

[Pondok Indah, 9 Februari 2012]

Persona Seorang Comic

Tempo hari, Raditya Dika, melalui akun Twitter-nya [@radityadika] membagi bahasan tentang persona seorang stand up comedian. Twit yang ia beri tagar #persona, saya arsipkan dan tulis ulang di blog saya ini. Jadi, ayo kita belajar lagi! :)

Raditya Dika memulai bahasannya dengan menjelaskan beberapa istilah yang ada dalam stand up comedy untuk memudahkan follower-nya memahami apa yang disampaikannya. Istilah-istilah tersebut, antara lain:

  • Comic = Orang yang melakukan stand up comedy.
  • Bit = Sebuah lelucon dalam sebuah set materi seorang stand up comedian.
  • Delivery = Cara seorang comic menyampaikan bit-nya di atas panggung.

Secara harafiah, persona berarti “social mask“, topeng sosial. Istilah ini juga digunakan sebagai padanan ‘karakter’ dalam pertunjukan teater. Persona, dalam konteks stand up comedy mengacu pada aura [karakter panggung] seorang comic. Jadi, persona seorang comic adalah topeng apa yang ia pakai di atas panggung. Apakah ia seorang yang sinis? Pemarah? Heboh?

Persona seorang comic tidak serta-merta merupakan kepribadian aslinya. Bisa jadi, itu adalah karakter yang ia ingin mainkan. Persona berkaitan erat dengan delivery [penyampaian] materi seorang comic, tapi sebenarnya tidak terbatas pada itu saja. Persona bisa didapatkan dari gesture, ekspresi wajah, gaya berpakaian, sampai emosi yang dibawakannya di atas panggung. Comic yang baik adalah yang personanya kuat, sehingga membedakannya dari comic lainnya. You don’t have to be better, you just have to be different.

Beberapa contoh comic dengan persona yang baik: Read more

Tulus

Seingatku, aku tak pernah seiseng ini. Aku menemukan KTP saat sedang mencari botol dan gelas plastik bekas untuk kuuangkan kemarin. Pas fotonya agak buram tapi aku masih bisa membaca namanya, Tulus Pratama. Alamatnya pun terbaca dan aku sedang mencari jalan ke sana sekarang.

Aku tidak punya KTP tapi aku tahu betul kerepotan akibat tak memilikinya. Warno, tetanggaku, kesulitan cari kerja karena tak memiliki KTP. Akhirnya ia berhutang Rp200.000,- pada Bang Togar. Kata Pak RT, nominal itu terbilang murah sebagai harga teman. Blah!

Setelah berkeliling sembari bertanya kepada siapa saja di jalanan, aku sampai di depan rumah sesuai alamat. Tombol berwarna putih kutekan. Seseorang membuka pintu, perlahan.

“Pak! Bu! Mas Tulus pulang!”

———————————-

[Andi Gunawan, Juli 2011]

Terkesan

Aku terkesan padamu sejak lagu pertama yang kaunyanyikan malam itu. Syahdu. Meski aku tahu pada siapa lagu itu tertuju, aku pura-pura tak membaca. Suaramu menjernihkan segala buruk prasangka dalam kepala. Aku, suka.

Aku terkesan padamu sejak konsensus makan malam pertama itu. Kau bertanya dan kuberikan beberapa rekomendasi meja. Bukan karena bingung, hanya saja, apa pun pilihanmu, aku pasti turut serta. Lagipula, pilihanmu istimewa. Aku, suka.

Aku terkesan padamu sejak percakapan pertama setelah menahun melihatmu, malam itu. Aku tak banyak bicara bukan karena keki. Justru tiap kalimatmu ialah hal yang begitu kunikmati. Lepas, seperti bocah sumringah menceritakan mainan barunya. Aku, suka.

Aku terkesan padamu sejak kali pertama berada sejarak satu kursi dalam perjalanan pulang malam itu. Dingin yang semestinya dibawa malam sejenak merupa kehangatan dalam beberapa jenak diam kita menatap jalanan. Meski lampu-lampu remang, juga dadaku, tapi aku suka.

Aku terkesan padamu sejak malam yang belum juga bisa kuulang. Ah!

Jakarta, 27 Desember 2011

Dalam Sebuah Ruang Sempit Penuh Suara

1

Seorang pria

masih saja berlatih bagaimana caranya menyihir lupa.

Berdiri, melompat, lalu terduduk lagi. Serak suaranya

mengatur kendali atas napas yang kaku.

Sebuah nama menjamur dalam kerongkongan.

2

Seorang pria

memaki punggungnya dalam langkah menghentak

yang mempertemukannya dengan kesunyian paling sepi.

Seperti bocah kelelahan memegang alamat,

ia ingin segera kembali pada pangkalnya.

3

Seorang pria

mengangguk-anggukkan kepala.

Ia sepakat pada daya yang bukan miliknya.

Ditariknya udara dalam-dalam, diam-diam, ke dadanya. Lalu menari

dalam sebuah ruang sempit penuh suara.

—————————————————-

Depok, 26 Desember 2011


Berhutang pada Ibu

Sabtu, 17 Desember 2011. Balai Sidang Jakarta dipenuhi kepala bertoga. Saya mengenal sebagian besar kepala itu. Mereka mahasiswa Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Komunikasi dan Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka, Jakarta Selatan, angkatan 2007. Mereka teman-teman saya. Mereka sarjana. Seharusnya, saya berada di antara mereka, mengenakan toga yang sama.

Saya hanya sempat menempuh 4 semester belajar Komunikasi Massa (Jurnalistik) bersama mereka. Pertengahan 2009, sesuatu yang tiba-tiba terjadi. Sebuah peristiwa yang merusak mimpi saya, juga mimpi ibu. Peristiwa yang membuat ibu saya selalu merasa bersalah karena saya mesti berhenti kuliah. Saya tahu persis, itu bukan salahnya.

Segala yang terjadi adalah kehendak semesta yang kekuatannya tak mampu saya cegah, bahkan dengan mantra tersakti sekali pun. Saya merasa kalah. Saya dan mereka berjalan dari garis awal yang sama, mengapa harus berakhir berbeda? Saya sempat merasa jadi orang yang paling tidak beruntung. Berhenti kuliah, sulit mencari pekerjaan hanya dengan ijazah SMA. Pesimistis. Saya menyebut diri pecundang, saat itu.

Melihat anaknya sepanjang hari di rumah, hidup tanpa gairah, dan merasa kalah, ibu saya bangkit lebih cepat dari keterpurukan yang ada. Ia meyakinkan saya bahwa siapa saja bisa mengalami kekalahan, tapi kalah tidak sama dengan gagal. Ibu hanya memberi satu saran, “Teruslah berbuat baik. Orang baik akan mendapatkan hal yang baik pula.”

Seperti kuda pemalas yang terkena pecut, saya bangun. Saya belajar lagi berjalan. Kali ini tanpa papahan siapa pun. Saya mulai mencoba berjalan dengan kaki saya sendiri. Biar saat terjatuh nanti, tak ada tangan yang saya salahkan. Saya mulai bersemangat. Saya mulai menulis.

Singkat cerita, saya mulai bekerja. Serabutan. Tiap ada kesempatan bekerja, tak saya abaikan. Mulai dari pelayan restoran, sales promotion boy, pemandu acara, hingga staf administrasi perusahaan pengembang. Di sela-sela bekerja, saya selalu menulis. Menulis apa saja yang melintas dalam kepala, biar tak menguap sia-sia menghasilkan lupa. Tak lama, saya menerbitkan buku pertama. Sebuah antologi prosa bertajuk “Kejutan!”

Ibu mulai bisa tersenyum lagi. Beliau yang buta huruf meminta saya membacakan apa yang saya tulis dalam buku itu. Perlahan, dari lembar satu ke lembar berikutnya. Kami menangis bersama.

Kami menangis lagi, bersama, saat saya diterima bekerja jadi wartawan, tujuh bulan lalu. Kami sama senangnya sebab saya bisa mengerjakan hal yang saya suka, menulis. Tanpa ijazah S1, hanya bermodal rekomendasi seorang teman baru dan beberapa halaman contoh tulisan di Kompasiana, saya jadi wartawan. Sebut ini sebagai sebuah pencapaian, tapi saya tetap berhutang pada ibu. Saya berhutang jadi sarjana padanya. Read more

Seni Meruang dalam Sesaknya Kota

Kota yang penuh sesak adalah firdaus yang hilang

dan kita menemukannya kembali dalam kesenian.

Kira-kira, begitulah frasa yang ditulis oleh Zen Hae. Saya membacanya menempel pada tas jinjing berisi rilis pers dalam pembukaan Jakarta Biennale 14, Kamis [15/12], di Galeri Nasional, Jakarta. “Kota yang Penuh Sesak” [Maximum City] diusung sebagai tema pesta seni rupa kontemporer internasional tersebut.

Pagelaran dua tahunan ini kembali meruang di Jakarta sejak 15 Desember 2011 hingga 15 Januari 2012. Lebih dari 180 seniman, baik lokal maupun internasional, berpartisipasi memamerkan karyanya.

Karya peserta Jakarta Biennale 14 tidak hanya dipamerkan dalam galeri-galeri seni, tetapi juga tersebar di berbagai ruang publik seperti Bunderan HI, Taman Menteng, Taman Ayodya, Underpass Grogol, kantor pos polisi sepanjang Jalan Thamrin, tiang-tiang pancang monorail, hingga pusat perbelanjaan Central Park di kawasan Jakarta Barat.

Salah satu karya yang ditampilkan adalah milik Julie Rrap, seniman Australia. Selama 25 tahun terakhir, Rrap memfokuskan diri untuk berkarya dengan problem tubuh dan reperesentasi perempuan dalam seni dan media. Karyanya yang bertajuk 360 Degree Self Portrait kali ini bertumpu pada video dalam ruang gelap yang menunjukkan waktu tak terbatas.

"360 Degree Self Portrait"

Penyelenggaraan Biennale, sebagai ajang seni rupa, secara internasional telah disepakati sebagai acuan pencapaian seni pada umumnya, seni rupa pada khususnya. Selain itu, juga menjadi tolok ukur kemajuan suatu kota atau suatu bangsa. Hal ini, tentu saja, dilandasi hubungan antara seni dan kota dan saling mempengaruhi. Read more

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 1,859 other followers